Kemitraan perlu bergerak melampaui seremoni
Pencegahan narkoba di sekolah adalah upaya berkelanjutan yang menyatukan edukasi, pengawasan, dan keterlibatan siswa agar lingkungan belajar aman dari penyalahgunaan serta peredaran narkotika. Karena itu, penandatanganan kesepakatan bukan hasil akhir, melainkan awal dari kerja bersama yang harus tampak dalam kegiatan sehari-hari. BNN Kota Dumai menandatangani nota kesepahaman dengan SMP Negeri 2 Dumai pada 21 Oktober 2026. Kesepakatan itu memperkuat program P4GN sekolah dan diarahkan untuk membangun lingkungan pendidikan yang bersih narkoba. Kepala BNN Kota Dumai Ignasius Agus Nugraha menilai kemitraan dengan institusi pendidikan penting untuk memperluas pencegahan, terutama ketika generasi muda masih membentuk karakter dan pola pikir.
Agar kemitraan berarti bagi pelajar, sosialisasi perlu diteruskan dengan edukasi yang membantu mereka mengenali risiko, menjaga diri dari pengaruh negatif, dan mengambil keputusan aman. BNN Dumai berharap kesepakatan itu ditindaklanjuti dengan kegiatan nyata, bukan berhenti pada penandatanganan. Sekolah juga perlu membuka ruang bagi siswa untuk ikut membentuk pergaulan yang sehat, bukan sekadar menjadi penerima pesan antinarkoba.

Guru dan kepala sekolah adalah garis perlindungan harian
Kemitraan dengan BNN akan sulit berdaya jika guru dan kepala sekolah hanya hadir saat kampanye. Peran guru sekolah mencakup pengamatan sehari-hari, komunikasi yang membuat siswa berani mencari bantuan, serta tindak lanjut yang sesuai ketika muncul kekhawatiran. Dalam acara pelantikan pengurus PGRI cabang se-Kabupaten Batu Bara pada 27 Oktober 2026, Wakil Bupati Syafrizal mengajak guru dan kepala sekolah aktif mencegah narkoba di lingkungan pendidikan. Ia menegaskan tenaga pendidik dan pimpinan sekolah memiliki posisi strategis untuk mengawasi siswa.
Syafrizal juga menyebut pemerintah daerah berencana mendorong pemeriksaan narkoba bagi guru dengan menggandeng BNN. Rencana itu perlu dijalankan secara bertanggung jawab dan sesuai ketentuan, sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekolah tetap aman. Pengawasan tidak semestinya berubah menjadi kecurigaan tanpa dasar; sekolah perlu menggabungkannya dengan pendekatan yang mendidik dan tindak lanjut yang jelas. Pencegahan akan lebih dipercaya ketika orang dewasa memberi teladan sekaligus menyediakan jalur dukungan bagi siswa.
Pelajar perlu menjadi peserta aktif, bukan penonton
Pencegahan akan lebih kuat jika pelajar ikut menyuarakan penolakan terhadap narkotika dan memilih kegiatan yang membangun. Pada 28 Oktober 2026, BNN Kabupaten Muara Enim menggelar kampanye “Ananda Bersinar” bertema “Satu Suara, Cerdas Berkarya, Tolak Narkotika” di Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu. Kepala BNNK Muara Enim AKBP H. Erlangga mengajak pelajar berani menolak narkotika di sekolah dan lingkungan sekitar.
Kampanye itu mendorong siswa memahami bahaya narkotika, mengambil keputusan yang tepat, serta mengembangkan potensi melalui kegiatan positif dan kreatif. Inilah arah edukasi narkoba pelajar yang lebih berguna: bukan hanya menyebut ancaman, tetapi juga memperkuat kemampuan memilih, menolak tekanan, dan membangun pergaulan sehat. Pelajar dapat menjadi bagian dari lingkungan yang saling mengingatkan, sementara orang dewasa harus memastikan mereka memperoleh informasi yang tepat dan dukungan ketika menghadapi risiko.
Ukuran keberhasilan adalah tindak lanjut
Tiga langkah di Dumai, Batu Bara, dan Muara Enim menunjukkan bahwa pencegahan narkoba sekolah menuntut kerja lintas peran. BNN dapat membantu pendidikan dan koordinasi; pemerintah daerah mendukung arah kebijakan; kepala sekolah dan guru menjaga pelaksanaan di lingkungan belajar; pelajar membawa pesan itu ke dalam pergaulan mereka. Kampanye maupun nota kesepahaman baru bermakna jika berkembang menjadi edukasi yang berulang, komunikasi terbuka, dan respons yang jelas.
BNNK Muara Enim menekankan perlunya kerja sama BNN, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat, serta berharap semangat antinarkotika meluas. Prinsip itu sejalan dengan harapan BNN Dumai agar MoU menghasilkan kegiatan nyata. Kesimpulannya, sekolah bersih narkoba tidak dibentuk oleh satu acara atau satu pihak. Kemitraan harus diterjemahkan menjadi kebiasaan dan dukungan yang konsisten, dengan pelajar dilindungi sekaligus diberi peran aktif.






