Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Edukasi Anti-Bullying di Sekolah Perlu Melibatkan Keluarga

Edukasi Anti-Bullying di Sekolah Perlu Melibatkan Keluarga
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pencegahan dimulai dari pemahaman bersama

Bullying adalah tindakan menyakiti atau merendahkan orang lain, secara fisik, verbal, sosial, maupun digital, yang membuat korban merasa takut, tertekan, atau tidak nyaman. Karena dampaknya bisa terbawa ke ruang belajar dan pergaulan anak, edukasi anti-bullying perlu menjangkau siswa sekaligus orang dewasa di sekitarnya.

Dua kegiatan di sekolah dasar menunjukkan pentingnya membekali anak dengan pemahaman dan langkah konkret. Pada 9 Oktober 2026, mahasiswi KKN Arkasena mengadakan edukasi Stop Bullying di SD Negeri 1 Krandon Lor untuk siswa kelas IV, V, dan VI. Materinya mencakup bentuk, penyebab, dampak, dan tanda-tanda perundungan; siswa juga diajak tidak mengejek dan berteman tanpa membeda-bedakan.

Pada 30 Oktober 2026, KKN Universitas Muhammadiyah Jember bekerja sama dengan Tim Inovasi Peluk Anak dari UPT PPSAA Situbondo mengedukasi siswa SD Negeri 1 Jetis, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Kedua kegiatan menegaskan bahwa pencegahan bullying sekolah bukan sekadar menyampaikan larangan, melainkan mengajarkan cara mengenali masalah dan meresponsnya.

Dari mengenali tanda hingga berani melapor

Sosialisasi di Krandon Lor memberi siswa petunjuk yang bisa diterapkan dalam keseharian: teman yang menjadi lebih pendiam, sering menyendiri, tampak sedih, enggan masuk sekolah, atau mengalami penurunan nilai mungkin sedang menghadapi perundungan. Kepekaan terhadap perubahan seperti ini penting karena korban belum tentu berani meminta bantuan secara langsung.

Di SDN 1 Jetis, siswa diajak menolak perilaku perundungan, mendukung teman yang menjadi korban, lalu melaporkan kejadian kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya. Urutan ini masuk akal: anak tidak dituntut menyelesaikan situasi berbahaya sendiri, tetapi belajar bahwa diam bukan satu-satunya pilihan.

Materi akan lebih berguna jika sekolah memastikan siswa tahu kepada siapa mereka dapat bercerita dan bahwa laporan ditanggapi dengan aman. Kepala SD Negeri 1 Jetis, Andri Hermawan, menyambut kegiatan itu sebagai upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak. Harapannya, pembelajaran tersebut diterapkan dalam keseharian siswa, bukan berhenti saat sosialisasi selesai.

Peran keluarga melengkapi edukasi di sekolah

Upaya yang hanya berpusat di sekolah tidak cukup. Pada 11 Oktober 2026, mahasiswa UNNES GIAT 17 Desa Kalibeji mengadakan edukasi bagi ibu-ibu PKK Dusun Bejiwetan, Desa Kalibeji, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, dengan tema peran orang tua dalam membangun pertemanan yang sehat. Peserta diajak memahami pengertian, bentuk, dan dampak bullying, termasuk perilaku yang kerap dianggap candaan tetapi dapat menyakiti anak.

Pembahasan menyoroti komunikasi terbuka, pendampingan tanpa menghakimi, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan. Booklet edukasi serta diskusi memberi orang tua bahan untuk mengenali masalah dan membicarakannya bersama anak. Inilah inti peran keluarga dalam pencegahan bullying: membuat anak merasa aman untuk menceritakan pengalaman pertemanannya sebelum masalah membesar.

Keluarga juga membentuk kebiasaan sehari-hari melalui teladan saling menghargai dan perhatian pada perasaan orang lain. Jika anak mendapati pesan yang selaras di rumah dan sekolah, ia lebih mungkin memahami bahwa mengejek atau mengucilkan bukan perilaku yang dapat dibenarkan sebagai gurauan. Pencegahan pun menjadi tanggung jawab bersama, bukan beban korban semata.

Konsistensi menentukan dampak

Tiga kegiatan ini memakai jalur berbeda, tetapi saling melengkapi: sosialisasi di Krandon Lor memperkuat pengetahuan siswa, kerja KKN UM Jember dan Tim Peluk Anak di Jetis menekankan respons saat perundungan terjadi, sedangkan edukasi di Kalibeji mengajak keluarga membangun pencegahan dari rumah. Tidak satu pun cukup jika berdiri sendiri.

Langkah berikutnya seharusnya berupa kebiasaan yang berulang: sekolah menyediakan jalur pelaporan yang jelas, guru menanggapi tanpa menyalahkan korban, dan orang tua membuka ruang percakapan yang aman. Edukasi sekali waktu dapat menjadi pemantik, tetapi perubahan perilaku memerlukan penguatan dalam interaksi sehari-hari.

Kesimpulannya, pencegahan bullying lebih kuat ketika anak tahu cara mengenali dan melaporkan perundungan, sementara keluarga dan sekolah sama-sama memberi teladan serta perlindungan. Sosialisasi di kelas penting; dukungan orang dewasa yang konsistenlah yang membuat keberanian anak berpeluang menjadi budaya aman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!