Menabung di Sekolah: Dari Seremoni ke Gerakan Literasi Keuangan
Literasi keuangan sekolah adalah upaya terstruktur untuk mengajarkan siswa memahami uang, menabung, dan mengelola keuangan pribadi melalui kegiatan rutin, produk tabungan pelajar, serta materi edukasi finansial anak yang terintegrasi dengan kurikulum dan budaya sekolah. Peringatan Hari Indonesia Menabung di Cirebon menunjukkan bahwa gerakan ini bukan sekadar seremoni, tetapi pintu masuk membangun karakter dan kebiasaan finansial sehat. Kantor OJK Cirebon menggelar puncak kegiatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Cirebon dengan melibatkan ratusan pelajar dan berbagai pemangku kepentingan di wilayah Ciayumajakuning. Sebanyak 540 siswa turut serta dalam kegiatan yang mendorong kebiasaan menabung dan kecakapan mengelola keuangan sejak usia sekolah. Fakta ini menegaskan: ketika sekolah, regulator, dan perbankan bergerak bersama, program menabung siswa menjadi pengalaman nyata, bukan sekadar nasihat di buku pelajaran.
Cirebon: Menabung sebagai Pendidikan Karakter, Bukan Hanya Soal Uang
Pendekatan di Cirebon menarik karena menempatkan menabung sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar urusan saldo rekening. Bupati Cirebon menekankan bahwa menabung mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan menentukan skala prioritas, dan kebiasaan merencanakan masa depan. Ini sejalan dengan gagasan bahwa edukasi finansial anak harus menyentuh nilai-nilai dasar, bukan hanya teknis produk perbankan. Ratusan siswa Sekolah Rakyat diajak memahami bahwa setiap uang jajan yang disisihkan adalah latihan mengendalikan keinginan, menunda konsumsi, dan memikirkan tujuan jangka panjang. Literasi keuangan sekolah dalam konteks ini berfungsi sebagai laboratorium karakter: anak belajar membedakan keinginan sesaat dan kebutuhan penting, sekaligus melihat bank sebagai mitra perencanaan, bukan tempat yang asing atau menakutkan. Jika pendekatan seperti ini konsisten, rekening pelajar bukan hanya buku tabungan, tetapi jejak pembentukan kepribadian finansial.
Sukabumi: "BRI Goes to School" dan Penguatan Program KEJAR
Di Sukabumi, kolaborasi OJK dan BRI menunjukkan skala dan keseriusan gerakan literasi keuangan sekolah. BRI Regional Office Bandung menggerakkan aksi serentak di 77 sekolah yang tersebar pada 30 kantor cabang di Jawa Barat. Di wilayah kerja BRI BO Sukabumi, tiga sekolah menjadi target kolaborasi: SDK BPK Penabur, SMP Mardi Waluya, dan SD Islam Tahfidz Quran Al-Fajr. Melalui program "BRI Goes to School", tim bank hadir langsung ke kelas, menyampaikan materi interaktif tentang perbedaan kebutuhan dan keinginan, pengenalan produk tabungan pelajar, serta kewaspadaan terhadap risiko kejahatan keuangan digital. Kutipan penting datang dari Branch Office Head BRI Sukabumi, Zul Hendra: melalui momentum Hari Indonesia Menabung, BRI ingin mengenalkan perencanaan keuangan dasar sekaligus mendukung suksesnya Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Ini menunjukkan bahwa program menabung siswa dipandang sebagai prasyarat generasi muda yang cerdas finansial, bukan aktivitas sampingan.

Sinergi OJK–Perbankan–Sekolah: Pondasi Generasi Melek Finansial
Gerakan di Cirebon dan Sukabumi memperlihatkan pola yang sama: regulator memicu, perbankan mengeksekusi, sekolah menjadi ruang praktik. OJK Cirebon memperkuat gerakan menabung usia dini melalui momentum Hari Indonesia Menabung, sementara OJK Jawa Barat mengimbau penyelenggaraan edukasi literasi dan inklusi keuangan serentak yang disambut aktif oleh BRI BO Sukabumi. Program KEJAR, yaitu Satu Rekening Satu Pelajar, mendapat dukungan langsung dari kegiatan di sekolah-sekolah. Ini penting, karena tanpa rekening yang digunakan siswa sendiri, edukasi finansial anak mudah berhenti di teori. Dengan kehadiran bank di sekolah, materi literasi keuangan sekolah menjadi konkret: siswa membuka rekening, mempraktikkan menabung, dan belajar menghadapi risiko digital. Sinergi tiga pihak ini adalah model yang patut dipertahankan, sekaligus diperluas ke wilayah lain agar kebiasaan menabung tertanam merata, bukan hanya di kota-kota yang sudah tersentuh program.
Kesimpulan: Saat Rekening Pelajar Menjadi Investasi Sosial Jangka Panjang
Melihat ratusan siswa membuka rekening dan mengikuti program menabung siswa, mudah tergoda menyebutnya keberhasilan kuantitatif. Namun dampak kualitatif jauh lebih penting: anak belajar disiplin, prioritas, dan perlindungan diri dari kejahatan keuangan digital. Menabung di sekolah berubah menjadi investasi sosial jangka panjang. Program KEJAR dari OJK mendorong setiap pelajar memiliki rekening sendiri, sementara bank seperti BRI menunjukkan bahwa edukasi finansial harus dibawa ke ruang kelas, bukan ditunggu di kantor cabang. Tantangannya kini adalah kesinambungan. Gerakan ini tidak boleh berhenti pada momentum Hari Indonesia Menabung. Sekolah perlu menjadikan literasi keuangan sekolah sebagai agenda tetap, regulator menjaga arah kebijakan, dan perbankan terus hadir sebagai pendidik sekaligus penyedia layanan yang aman. Jika tiga pilar ini konsisten, rekening pelajar akan menjadi simbol generasi yang lebih sadar finansial dan lebih siap menghadapi kompleksitas ekonomi di masa depan.





