Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pencari Kerja ke Pencipta Usaha: Efek Sultan Muda bagi Ekonomi Sumsel

Dari Pencari Kerja ke Pencipta Usaha: Efek Sultan Muda bagi Ekonomi Sumsel
Minat|Asia Tenggara

Sultan Muda: Mengubah Definisi Sukses Anak Muda Sumsel

Program wirausaha pemuda Sultan Muda adalah inisiatif Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk mendorong sekitar 100 ribu anak muda beralih dari sekadar pencari kerja menjadi pelaku usaha yang menciptakan lapangan kerja baru, dengan cara menghubungkan mereka ke akses permodalan, teknologi, dan pasar yang lebih luas sehingga lahir kemitraan usaha muda yang kuat dan berkelanjutan. Program ini bukan tambahan kosmetik dalam kebijakan, melainkan upaya mengubah cara pikir generasi muda tentang makna kerja dan keberhasilan. Alih-alih menunggu panggilan dari perusahaan, Sultan Muda mendorong mereka merintis usaha di berbagai sektor, memanfaatkan teknologi, dan membaca peluang pasar. Di sinilah letak daya ubah program: ia menantang budaya “cari aman” dan menawarkan narasi baru bahwa menjadi pengusaha muda adalah jalur karier utama, bukan pilihan cadangan.

Dari Pencari Kerja ke Pencipta Usaha: Efek Sultan Muda bagi Ekonomi Sumsel

Mindset: Tantangan Utama yang Harus Dihantam, Bukan Dipelihara

Gubernur Herman Deru terang-terangan menyebut bahwa masalah terbesar Sumsel bukan sekadar kurangnya lowongan kerja, tetapi pola pikir generasi muda dan keluarganya yang masih memandang kerja formal sebagai satu-satunya jalan hidup. Sikap ini membuat jutaan jam kreativitas anak muda terbuang di antrean rekrutmen, bukan di meja perencanaan bisnis. Pernyataan seperti “pekerjaan informal bukan pekerjaan utama” adalah stigma yang menghambat pemberdayaan ekonomi lokal, karena usaha kecil dianggap sekadar sambilan. Ketika hampir separuh populasi berada di usia produktif, pola pikir menunggu harus diganti dengan pola pikir mencipta: kerja tidak lagi diartikan sebagai status pegawai, tetapi kemampuan membangun nilai tambah. Program Sultan Muda memilih konfrontasi terhadap mentalitas lama ini, dengan mengirim pesan tegas bahwa keberanian memulai usaha adalah tugas generasi produktif, bukan pengecualian.

Kemitraan Usaha Muda: Pemerintah Sebagai Fasilitator, Bukan Pemberi Santunan

Sultan Muda menarik karena pemerintah menempatkan diri sebagai fasilitator, bukan sekadar pemberi bantuan sesaat. Melalui program ini, pelaku usaha muda dipertemukan dengan BUMN, BUMD, perbankan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan untuk memperluas akses permodalan dan pemasaran. Inilah kemitraan usaha muda yang layak disebut ekosistem, bukan acara seremonial. Kekuatan pendekatan ini ada pada jaringan: anak muda yang sebelumnya beroperasi sendirian sekarang punya akses ke sekolah ekspor, sertifikasi balai karantina, dan uji pasar, sehingga produk mereka tidak berhenti di etalase lokal. “Memulai usaha memang butuh mental perintis. Konsistensi dan kepercayaan adalah modal utama dalam dunia bisnis” adalah pesan eksplisit Herman Deru yang menempatkan karakter pengusaha muda di pusat strategi, bukan alat pelengkap program.

Dari 100 Ribu Pengusaha Muda ke Lapangan Kerja Baru

Ketika sekitar 100 ribu pemuda terjun ke dunia usaha melalui Sultan Muda, dampaknya tidak berhenti pada pendapatan mereka sendiri. Setiap usaha baru berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran terbuka, dan menekan kemiskinan. Ini jauh lebih strategis dibanding sekadar mengundang investor besar dan berharap efek rembes ke bawah. Pemberdayaan ekonomi lokal lewat usaha rintisan membuka ruang bagi inovasi di desa dan kota: dari pangan olahan, jasa kreatif, hingga produk berbasis teknologi. Pemerintah bahkan mengarahkan usaha yang lahir agar “naik kelas”, menembus pasar ekspor dengan dukungan sekolah ekspor dan pendampingan sertifikasi. Jika anak muda berhenti mengidentifikasi diri sebagai pencari kerja dan mulai melihat diri sebagai pencipta nilai, maka struktur ekonomi daerah akan ikut bergeser: dari ekonomi yang bergantung pada sedikit pemain besar, ke ekonomi yang digerakkan oleh banyak pengusaha muda.

Bagian dari Strategi Ekonomi Jangka Panjang Sumsel

Sultan Muda bukan program tunggal yang berdiri tanpa konteks. Ia dikembangkan berkesinambungan setelah Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), yang fokus pada ketahanan pangan dan pengendalian inflasi daerah. Artinya, pemerintah sedang merangkai strategi ekonomi jangka panjang: dari swasembada pangan hingga penciptaan sumber-sumber ekonomi baru yang lebih beragam. Kepala otoritas sektor keuangan di daerah melihat potensi ini sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan, karena anak muda tidak hanya diajari cara menghasilkan uang, tetapi juga cara mengelolanya dengan dukungan teknologi digital. Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada kemampuan para pelaku usaha memperluas pasar dan menjaga usaha tetap hidup, sementara lembaga seperti Bank Indonesia menyiapkan pembiayaan, pelatihan ekspor, dan CSR yang lebih sistematis. Jika konsistensi terjaga, Sultan Muda bisa menjadi prototipe bagaimana daerah mengubah bonus demografi menjadi motor ekonomi, bukan beban pengangguran.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!