Pendidikan harus menjangkau anak yang tertinggal
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan berbasis penjangkauan yang membawa layanan belajar kepada anak dari keluarga kurang mampu, dengan tujuan memperluas kesempatan dan memutus pewarisan kemiskinan. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Kementerian Sosial menandai satu tahun penyelenggaraannya di GOR Sudiang, Makassar, melalui acara bertema “Satu Indonesia, Sejuta Cita-Cita” yang dipimpin Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono. Tema itu merangkum gagasan penting: pendidikan antikemiskinan tidak cukup menunggu anak datang mendaftar; negara perlu aktif mencari mereka yang berisiko tersisih. Sekolah Rakyat berangkat dari pandangan bahwa kemiskinan tidak boleh diwariskan. Prinsip tersebut memberi program ini alasan kuat, tetapi sekaligus menetapkan ukuran keberhasilan yang lebih besar daripada sekadar membuka ruang kelas.
Skala masalahnya terlihat dari penjangkauan di 497 kabupaten dan kota, yang menemukan lebih dari 180.000 anak usia sekolah telah bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Angka ini menegaskan mengapa model yang menunggu pendaftaran akan melewatkan banyak anak. Namun, menjangkau mereka hanyalah langkah awal. Kesempatan belajar baru bermakna jika anak dapat bertahan di sekolah, pulih secara fisik dan psikologis, serta memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Capaian awal perlu dibaca bersama skala tanggung jawab
Peringatan di Makassar dihadiri sekitar 7.000 peserta, sementara puluhan ribu lainnya mengikuti secara daring dari sekolah dan sentra layanan sosial di berbagai daerah. Kehadiran besar ini menunjukkan perhatian yang tumbuh, tetapi ukuran program yang lebih penting ada pada layanan yang telah berjalan: 182 titik sekolah melayani 44.000 siswa. Dari jumlah itu, 100 titik sekolah permanen direncanakan; 93 telah beroperasi dan tujuh masih dibangun. Perluasan tersebut menjanjikan akses yang lebih luas, tetapi pertumbuhan cepat tidak otomatis menjamin pengalaman belajar yang setara. Pemerataan tenaga pendidik, pengasuhan, fasilitas, dan mutu pembelajaran perlu berjalan seiring dengan pembangunan gedung.
Hasil satu tahun memberi alasan untuk optimistis tanpa menganggap pekerjaan selesai. Siswa mencatat 11 prestasi internasional, lebih dari 200 prestasi nasional, serta lebih dari 1.100 capaian di bidang olahraga, seni, dan sains. Dari lulusan SMA tahun ini, tujuh siswa memperoleh beasiswa penuh ke perguruan tinggi dan lima langsung bekerja sesuai minat serta bakat. Capaian itu menunjukkan bahwa anak dari keluarga kurang mampu dapat berkembang ketika mendapat kesempatan. Namun, keberhasilan beberapa lulusan harus menjadi awal untuk membangun jalur yang konsisten bagi semua siswa, bukan alasan untuk mengendurkan pengawasan atas kualitas program.
Tantangan pelaksanaan harus dijawab dengan sistem dan dukungan
Besarnya ambisi Sekolah Rakyat membuat tantangan sekolah tidak bisa dianggap sebagai urusan teknis semata. Program ini memadukan pendidikan, pengasuhan, kesehatan, dan dukungan keluarga, sehingga pelaksanaan yang terpecah-pecah berisiko melemahkan tujuan utamanya. Gus Ipul menyoroti dinamika penyelenggaraan yang perlu ditangani dengan tepat, sementara kepala sekolah dari berbagai daerah dihimpun untuk membahas persoalan pelaksanaan. Arahnya seharusnya jelas: pengalaman lapangan perlu diterjemahkan menjadi perbaikan yang terukur, dengan pembagian tanggung jawab yang nyata dan pedoman yang dipahami oleh setiap sekolah.
Kemensos menyebut hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama mendukung proses belajar dan pengasuhan. Besarnya jumlah personel ini perlu ditopang tenaga profesional, dukungan yang memadai, dan sistem pendidikan yang konsisten. Sekretaris Jenderal Kemensos M. Hasan Chabibie menekankan pentingnya berpedoman pada sistem pendidikan nasional sekaligus memastikan dukungan sumber daya manusia profesional. Tanpa itu, dedikasi individu akan sulit menggantikan tata kelola yang baik. Program pendidikan ini perlu menjaga keseimbangan antara standar bersama dan respons terhadap kebutuhan unik setiap anak.
Ukuran keberhasilan adalah masa depan yang berlanjut
Sekolah Rakyat juga berupaya memperkuat lingkungan keluarga, sebab hambatan belajar tidak berhenti di gerbang sekolah. Seluruh keluarga siswa dipastikan menerima bantuan sosial lengkap; lebih dari 10.000 rumah orang tua siswa telah diperbaiki, lebih dari 11.000 orang tua menerima bantuan modal usaha, dan lebih dari 9.000 memperoleh layanan rehabilitasi sosial ATENSI. Dukungan ini penting karena anak lebih sulit mengejar pendidikan jika kerentanan rumah tangga dibiarkan. Tetapi hasilnya perlu dilihat dari perubahan yang bertahan: apakah siswa terus belajar, keluarga lebih mampu menopang pendidikan, dan lulusan memperoleh pilihan nyata setelah sekolah.
Langkah berikutnya semestinya menghubungkan pembelajaran dengan kemampuan serta cita-cita siswa. Kemensos mengemukakan pendekatan pembelajaran personal, pendidikan vokasi, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk politeknik, agar lulusan dapat melanjutkan studi atau memiliki keterampilan kerja yang kuat. Inilah ujian bagi janji pendidikan antikemiskinan: bukan hanya membawa anak ke sekolah, melainkan menyediakan jalan yang masuk akal setelah mereka lulus. Setahun pertama menunjukkan potensi dan kebutuhan program ini. Kesimpulannya, Sekolah Rakyat layak diperluas jika mutu, pendampingan, dan kesinambungan jalur masa depan tumbuh bersama jumlah sekolah.






