Pemantauan tepat menjawab masalah berbeda
IoT pertanian adalah penggunaan sensor, perangkat kendali, dan jaringan digital untuk memantau serta mengatur kondisi budidaya atau penyimpanan tanaman secara lebih terukur. Penerapannya pada hidroponik dan herbal menunjukkan bahwa teknologi paling berguna ketika dirancang untuk mengatasi hambatan nyata di lapangan. Pada hidroponik, tantangannya muncul sejak pembibitan dan pengelolaan nutrisi; pada herbal, persoalan utamanya menjaga bahan kering tetap bermutu setelah panen. Kedua pendekatan ini bukan perlombaan kecanggihan, melainkan contoh teknologi tepat guna yang menghubungkan pemantauan dengan keputusan praktis. Untuk pelaku usaha, informasi yang lebih teratur dapat mengurangi ketergantungan pada perkiraan dan pemeriksaan manual. Namun, manfaatnya bergantung pada kesesuaian alat dengan kebutuhan kerja sehari-hari. Sistem yang baik bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi membantu pengguna bertindak sebelum gangguan menurunkan hasil atau kualitas tanaman.
Telkom Purwokerto menyasar pembibitan dan nutrisi
Pada 2024, tim dosen Institut Teknologi Telkom Purwokerto menerapkan inovasi untuk membantu pelaku usaha meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan produksi sayuran hidroponik. Program ini menanggapi dua kendala yang saling berkaitan: bibit tumbuh kurang optimal saat cahaya matahari berkurang, sementara larutan nutrisi belum dikelola secara terukur. Bibit yang biasanya memerlukan sekitar 12–15 hari dapat tumbuh kurus dan memanjang ketika cuaca mendung atau hujan berkepanjangan menghambat cahaya. Tim menghadirkan perangkat pembibitan dengan lampu LED sebagai pencahayaan tambahan, serta perangkat pemantauan dan pencampuran larutan nutrisi. Pilihan ini masuk akal karena menyasar titik awal produksi, bukan hanya gejala setelah tanaman melemah. Dengan dukungan cahaya dan pengelolaan nutrisi yang lebih terkontrol, hidroponik produktif menjadi lebih mungkin dicapai tanpa membiarkan penambahan larutan bergantung pada tebakan.

Polban menjaga herbal setelah pengeringan
Sasaran Politeknik Negeri Bandung berbeda: menjaga tanaman herbal tetap berkualitas selama penyimpanan pascapengeringan di CV Craftindo Prima, Cimahi. Dalam program Teknologi Tepat Guna tahun 2026, tim dosen mengembangkan sistem IoT untuk mengendalikan suhu dan kelembapan ruang penyimpanan. Sebelumnya, ventilasi alami, kipas, silika gel, dan pemeriksaan manual belum mampu menjaga kondisi tetap stabil atau memantau perubahan secara waktu nyata. Ketidakstabilan dapat meningkatkan kadar air, menurunkan kualitas fisik, dan memicu jamur pada herbal. Sistem memakai mikrokontroler ESP32 dan sensor SHT20 berbasis RS485 untuk membaca suhu serta kelembapan, lalu mengendalikan pemanas dan kipas pembuangan secara otomatis. Data juga dapat dilihat dari jarak jauh melalui dasbor dan disimpan sebagai rekam historis. Karena mitra memasok daun kelor dan daun sirih untuk pasar domestik serta ekspor, pemantauan yang konsisten mendukung mutu produk sekaligus kepercayaan pembeli.

Teknologi harus mengikuti kebutuhan pengguna
Perbandingan kedua penerapan memperlihatkan peran pemantauan yang berbeda. Telkom Purwokerto membantu mengendalikan proses produksi sayuran sejak pembibitan dan pencampuran nutrisi, sedangkan Polban mengawasi lingkungan penyimpanan herbal setelah pengeringan. Yang pertama menggabungkan pencahayaan tambahan dengan pemantauan nutrisi; yang kedua memakai sensor, kendali otomatis, dasbor jarak jauh, dan catatan historis. Polban juga memasang serta menguji sistem di lokasi mitra dan melatih karyawan untuk mengoperasikan, mengatur setelan, merawat perangkat, serta menangani gangguan sederhana. Pendekatan ini penting: perangkat baru hanya berguna jika orang yang memakainya mampu membaca informasi dan meresponsnya. Kedua proyek menunjukkan bahwa IoT pertanian tak harus berarti otomasi yang rumit. Nilai utamanya terletak pada teknologi tepat guna yang memperbaiki titik rawan tertentu, bukan menambahkan alat tanpa tujuan.
Kesimpulannya, produktivitas hidroponik dan kualitas tanaman herbal sama-sama diuntungkan oleh pemantauan, tetapi tidak dengan satu solusi seragam. Cahaya dan nutrisi menjadi perhatian utama saat sayuran tumbuh; suhu dan kelembapan menentukan ketahanan herbal saat disimpan. Karena itu, inovasi yang paling layak diterapkan adalah yang sesuai dengan tahap produksi, mudah digunakan, dan memberi pelaku usaha dasar yang lebih jelas untuk mengambil tindakan. Teknologi tidak menggantikan keterampilan budidaya, tetapi dapat membuat keputusan harian lebih terukur dan membantu usaha menjaga hasilnya.

![SHT20 I2C Temperature & Humidity Sensor (Waterproof Probe) temperature and humidity sensor [IT]](https://img2.kuybeli.com/product/2026/11/05/a66d044d-b73e-4657-b474-31089de479a7.jpg)





