Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kota-Kota Kecil Dongkrak PAD Lewat UMKM, Bukan Utang

Kota-Kota Kecil Dongkrak PAD Lewat UMKM, Bukan Utang
Minat|Asia Tenggara

PAD Bukan Cuma Soal Pajak Besar: UMKM Jadi Mesin Baru

Optimalisasi PAD pendapatan asli daerah melalui pemberdayaan UMKM lokal adalah strategi pemerintah daerah memaksimalkan aset, digitalisasi pajak, dan perluasan pasar pelaku kecil agar tercipta sumber revenue pemerintah daerah yang berkelanjutan tanpa menambah beban anggaran pembangunan dan pelayanan publik. Pemerintah kota yang menunggu transfer pusat atau menaikkan pajak besar akan tertinggal dari kota yang berani menjadikan UMKM sebagai mitra utama fiskal. Contoh terbaru datang dari tiga kota relatif kecil yang membaca ulang definisi pembangunan: Pagar Alam dengan penghidupan Taman Apung, Lhokseumawe dengan sistem QRESTO retribusi digital, dan Banjarmasin yang mendorong akses pasar IKM ke ritel modern. Polanya sama: bukan proyek mercusuar, tetapi ekosistem ekonomi rakyat yang ditata agar mengalirkan PAD secara konsisten.

Pagar Alam: 38 UMKM, Satu Taman, Banyak Sumber PAD Baru

Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkot Pagar Alam memilih jalur yang seharusnya menjadi standar baru: mengoptimalkan aset tidur, bukan menambah beban APBD. Taman Apung di sekitar Lapangan Merdeka yang dulu nyaris pasif, kini disulap menjadi ruang hidup dengan lebih dari 38 pelaku UMKM yang menempati kontainer box dan menjual beragam kuliner, dari jajanan kekinian hingga makanan lokal. Pemerintah secara terang menyatakan Taman Apung diarahkan menjadi penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus sumber peningkatan PAD pendapatan asli daerah. Aktivitas dagang di kawasan ini tidak kecil: omzet per UMKM disebut berkisar Rp600 ribu hingga Rp5 juta per hari; perputaran uang rata-rata sekitar Rp15 juta per hari, dan bisa melonjak hingga sekitar Rp50 juta di akhir pekan. Kalimat kuncinya jelas: PAD naik tanpa menambah proyek fisik mahal.

QRESTO di Lhokseumawe: Pajak UMKM Masuk Kas Daerah di H+0

Jika Pagar Alam menggarap sisi fisik dan sosial, Lhokseumawe mengambil jalur digital. Dalam forum Rembug Fiskal yang digelar asosiasi pemerintah kota, Wali Kota Lhokseumawe ikut menandatangani kerja sama replikasi QRESTO, Quick Response Electronic Splitting System for Tax Optimization. Sistem QRESTO retribusi ini memisahkan secara otomatis omzet pelaku usaha dan kewajiban pajak daerah sejak transaksi berlangsung, mengintegrasikan pemungutan, pencatatan, pemantauan, dan pelaporan pajak secara lebih cepat serta real-time, bahkan membuat penerimaan pajak masuk ke Rekening Kas Umum Daerah pada hari yang sama atau H+0. Dalam konteks revenue pemerintah daerah, ini game changer: potensi kebocoran menyempit, cashflow PAD pendapatan asli daerah menguat. Bagi pelaku UMKM, kepastian dan kemudahan administrasi lebih berarti daripada ancaman razia pajak. Pemerintah kota tidak sekadar menuntut, tetapi menyediakan infrastruktur digital yang memudahkan.

Banjarmasin dan Akses Pasar IKM: Tanpa Pasar, PAD Hanya Angan

Di Kalimantan Selatan, logika fiskalnya konsisten: sebelum bicara pungutan, pastikan UMKM dan IKM punya pasar. Pemkot Banjarmasin memperluas akses pasar IKM dan UMKM ke ritel modern sebagai bagian dari strategi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Akses pasar IKM bukan jargon; tanpa saluran penjualan yang stabil, skema pajak dan retribusi hanya akan jadi beban bagi usaha kecil, bukan sumber PAD. Di sisi lain, ketika produk lokal masuk ke jaringan ritel yang lebih luas, skala produksi dan omzet naik, sehingga ruang fiskal daerah melalui pajak dan retribusi juga membesar secara organik. Ini menempatkan pemerintah kota bukan sebagai pemungut pertama, tetapi sebagai pembuka jalan pasar. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan pemberdayaan UMKM lokal sebagai mitra fiskal, bukan objek penarikan pungutan sepihak.

Menuju Ekosistem Revenue Berkelanjutan: Kolaborasi atau Tertinggal

Tiga praktik tersebut menggambar model yang sama: kolaborasi UMKM–pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem revenue yang berkelanjutan. Di Pagar Alam, pemerintah memberikan ruang fisik dan program hiburan agar Taman Apung menjadi ruang ekonomi sekaligus ruang publik yang menarik bagi warga dan wisatawan, dengan harapan PAD meningkat bersamaan dengan citra kota wisata. Di Lhokseumawe, keterlibatan dalam kerja sama QRESTO disebut membuka peluang mempelajari praktik baik dan menyesuaikannya dengan kebutuhan daerah, sekaligus memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kemandirian fiskal. Forum fiskal antarkota pun secara eksplisit ditujukan untuk mendorong inovasi dan kolaborasi guna optimalisasi PAD pendapatan asli daerah dan peningkatan layanan publik. Pilihan ke depan jelas: kota yang menggabungkan akses pasar IKM, infrastruktur digital, dan ruang bagi UMKM lokal akan punya PAD yang tumbuh alami, tidak tergantung proyek sesaat dan tidak menghimpit APBD.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!