SGE sebagai Mesin Transaksi: Dari Etalase ke Penggerak Ekonomi
Surabaya Great Expo adalah pameran dagang lokal tahunan yang menggabungkan promosi produk unggulan UMKM dengan layanan publik, sehingga menjadi platform transaksi, jejaring bisnis, dan pelayanan administrasi dalam satu ruang yang terintegrasi bagi pelaku usaha dan masyarakat umum. Wali Kota Eri Cahyadi membuka Surabaya Great Expo (SGE) 2026 di Exhibition Hall Grand City pada 5 Agustus dan menargetkan perputaran transaksi melampaui kisaran Rp7 miliar hingga Rp9 miliar yang biasa dicapai tiap penyelenggaraan. Dalam lima hari pelaksanaan hingga 9 Agustus, SGE 2026 mencatat transaksi Rp7,751 miliar dan menarik 48.022 pengunjung, terdiri dari Rp5,05 miliar transaksi langsung dan Rp2,701 miliar potensi bisnis lanjutan. Angka ini menunjukkan bahwa transaksi UMKM Surabaya tidak lagi bertumpu pada toko fisik, tetapi pada momentum pameran yang tepat sasaran. Menahan diri melihat SGE sekadar etalase produk berarti mengabaikan mesin uang yang sudah nyata hidup.

Target Rp9 Miliar: Ambisi Wali Kota dan Ujian Daya Saing UMKM
Dorongan Wali Kota Eri Cahyadi agar omzet SGE menembus dan melampaui Rp9 miliar adalah ujian nyata bagi daya saing UMKM lokal. Ia menegaskan, kualitas produk fesyen, batik, hingga kuliner sudah cukup untuk bersaing, bahkan menonjol, termasuk batik hasil kolaborasi dengan anak-anak Rumah Anak Prestasi dan kuliner seperti gelato dari pelaku UMKM di Sawahan. Pernyataannya layak dikutip: “Dengan kualitas produk yang semakin menarik, saya berharap omzet tahun ini bisa melebihi Rp9 miliar seperti tahun-tahun sebelumnya”. Namun target ini bukan sekadar angka; ia menguji apakah pelaku UMKM berani memanfaatkan pameran dagang lokal sebagai kanal utama transaksi UMKM Surabaya, bukan pelengkap. Pemkot mengambil peran sebagai "marketing" dengan memakai produk lokal dalam acara pemerintahan, strategi yang patut diapresiasi, tetapi UMKM tetap dituntut aktif mendekati pembeli dan mitra bisnis selama pameran.
One Stop Shopping: Pameran Dagang yang Menggandeng Layanan Publik
Keunggulan Surabaya Great Expo dibanding banyak pameran dagang lokal lain adalah konsep one stop shopping yang memadukan transaksi UMKM Surabaya dengan layanan publik. Di satu sisi, pengunjung dapat berbelanja fesyen, batik, kuliner, dan produk kreatif; di sisi lain, mereka bisa mengurus perizinan, pendampingan sertifikasi halal, pendaftaran merek, hingga layanan paspor dalam satu lokasi. Pameran ini juga menyediakan konsultasi keimigrasian, layanan BPOM, ekspor, dan pemeriksaan kesehatan. Bagi warga, ini efisiensi waktu; bagi UMKM, ini kesempatan memantapkan legalitas usaha sekaligus memperluas pasar. Inilah dampak praktis yang sering diabaikan: pameran menjadi titik temu antara pelaku usaha, birokrasi, dan konsumen. Ketika pengunjung bisa pulang dengan belanjaan dan legalitas usaha yang lebih rapi, SGE berfungsi sebagai akselerator pertumbuhan bisnis UMKM, bukan sekadar hiburan akhir pekan.
Jejaring, Bukan Hanya Omzet: Mengukur Dampak Nyata SGE
Penyelenggara SGE menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pameran tidak berhenti pada angka transaksi lima hari, tetapi pada keberlanjutan kerja sama bisnis setelah pameran ditutup. Dalam empat tahun 2022–2025, SGE mencatat akumulasi transaksi lebih dari Rp30,3 miliar dan memfasilitasi sekitar 370 UMKM binaan serta mendorong 450 legalitas usaha. Pada tahun ini, SGE menghadirkan 106 peserta dengan 142 stan dari perangkat daerah, BUMD, BUMN, UMKM, koperasi, swasta, dan pelaku usaha dari berbagai daerah. Direktur penyelenggara bahkan menilai SGE telah menjadi wadah pertemuan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis, membuka peluang kerja sama jangka panjang. Jika pelaku UMKM tidak menjaga relasi setelah pameran, efek Rp7,751 miliar itu akan menguap sebagai euforia sesaat. Sebaliknya, pameran ini bisa menjadi "batch" besar naik kelas bagi UMKM yang disiplin menindaklanjuti kontak dan peluang.
Kebutuhan Ruang Pameran Reguler dan Agenda Lanjutan
Keberhasilan transaksi Rp7,751 miliar dan lonjakan pengunjung menunjukkan besarnya potensi pasar lokal yang selama ini mungkin tersebar dan tak terkompilasi. Fakta bahwa SGE sudah 15 kali digelar dan terus menghasilkan nilai transaksi signifikan mengirim pesan jelas: UMKM butuh ruang pameran reguler, bukan acara tahunan semata. Pemerintah kota merespons dengan menyiapkan Surabaya Urban Creative Hub (Sub Expocenter) di bekas Hi-Tech Mall sebagai ruang bagi pelaku ekonomi kreatif dan industri digital. Rencana ini, jika konsisten, dapat mengubah pameran dari agenda musiman menjadi ekosistem berkelanjutan: UMKM berpromosi di SGE, lalu melanjutkan produksi, kolaborasi, dan pemasaran berbasis teknologi di Sub Expocenter. Harapan penyelenggara agar kolaborasi berlanjut ke SGE berikutnya dengan inovasi lebih beragam makin menguatkan argumen bahwa kota ini sedang membangun infrastruktur sosial-ekonomi jangka panjang, bukan hanya panggung jualan sesaat.






