SGE dan GIIAS: Pameran Dagang Surabaya Sebagai Mesin Ekonomi Baru
Pameran dagang Surabaya adalah rangkaian expo ekonomi lokal berskala besar yang mempertemukan UMKM, pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat dalam satu ruang fisik selama beberapa hari untuk transaksi langsung, penjajakan kerja sama, penguatan legalitas usaha, serta perluasan akses pasar regional melalui interaksi tatap muka yang intensif dan terukur. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini terlihat sengaja memposisikan pameran sebagai mesin ekonomi, bukan sekadar agenda seremonial. Surabaya Great Expo (SGE) mencatat perputaran ekonomi Rp7,751 miliar selama lima hari penyelenggaraan di Exhibition Hall Grand City pada 5–9 Agustus, menunjukkan besarnya permintaan terhadap ruang transaksi terkurasi bagi pelaku usaha lokal. Di sisi lain, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) berlangsung lima hari pada 26–30 Agustus di Grand City, menambah satu hall dan menghadirkan 37 merek kendaraan bermotor, sehingga menarik arus pengunjung dan uang masuk ke kota secara simultan.

Rp7,751 Miliar: Angka Transaksi UMKM 2026 yang Tidak Bisa Diabaikan
Angka transaksi UMKM 2026 di SGE layak dibaca sebagai sinyal kuat, bukan sekadar statistik. Dari total perputaran Rp7,751 miliar dalam lima hari, Rp5,05 miliar merupakan transaksi langsung, sementara Rp2,701 miliar berupa potensi bisnis tidak langsung. Ini berarti pameran dagang Surabaya berfungsi ganda: wahana jual beli saat itu juga dan “ruang negosiasi” untuk kontrak jangka panjang. Pemerintah kota sendiri mengakui bahwa sepanjang 2022–2025, SGE memicu lebih dari Rp30,3 miliar perputaran transaksi dan memfasilitasi sekitar 370 UMKM binaan. Dalam bahasa ekonomi lokal, SGE bukan lapak temporer, melainkan kanal distribusi yang muncul tiap tahun dan semakin dipercaya pelaku usaha. Kutipan yang patut digarisbawahi: “SGE ini sejak beberapa tahun terakhir sudah menggerakkan uang lebih dari Rp30 miliar. Setiap pameran rata-rata perputarannya Rp7 miliar sampai Rp9 miliar”.

Expo Ekonomi Lokal: Dari Stan Penjualan ke Ekosistem UMKM
Kekuatan utama expo ekonomi lokal di Surabaya adalah kesadaran bahwa UMKM tidak cukup diberi meja dan kursi untuk berjualan. SGE secara eksplisit diarahkan untuk memperkuat ekosistem usaha melalui pemasaran produk, legalitas, jejaring bisnis, hingga pembukaan peluang pasar yang lebih luas. Sekitar 450 legalitas usaha didorong melalui penerbitan Nomor Induk Berusaha, sertifikasi halal, dan pendaftaran merek. Pendekatan ini strategis: tanpa legalitas, akses pasar regional akan berhenti di lingkar kota; dengan fondasi usaha yang rapi, pelaku UMKM berpeluang menembus ritel modern, platform digital, hingga kerja sama lintas daerah. Pemerintah kota menyebut konsep “one stop shopping”, di mana pengunjung bisa membeli produk sekaligus mengurus perizinan dan layanan administratif dalam satu tempat. Ini mengubah pameran dari ajang promosi sesaat menjadi simpul layanan publik dan bisnis yang saling menguatkan.

GIIAS Surabaya: Efek Turunan Event Besar untuk Produk Lokal
Di luar SGE, kehadiran GIIAS Surabaya memberi efek turunan yang penting bagi ekonomi kota. Pameran otomotif ini berlangsung selama lima hari di Grand City, menghadirkan total 37 merek kendaraan bermotor dari berbagai kategori, termasuk mobil penumpang, komersial, dan sepeda motor. Tahun ini skala pameran diperbesar dengan penambahan satu hall, dengan target pengalaman pengunjung yang lebih nyaman dan luas untuk mengeksplorasi berbagai kendaraan terbaru. Bagi UMKM, ini berarti arus pengunjung yang besar, terutama dari luar daerah, yang berpotensi mengunjungi stan kuliner, fesyen, dan kerajinan di sekitar lokasi. Event perdagangan berskala besar meningkatkan visibilitas produk lokal dan menciptakan peluang kemitraan bisnis, terbukti dari pernyataan bahwa SGE bukan hanya ruang promosi, tetapi juga peluang kemitraan, business networking, pengembangan pasar, serta kerja sama jangka panjang bagi peserta pameran.

Akses Pasar Regional: Tantangan Lanjutan Setelah Pameran Usai
Pertanyaan krusialnya: apa yang terjadi setelah lampu pameran dimatikan? Pemerintah kota menyadari risiko bahwa akses pasar hanya terbuka lima hari, lalu menghilang. Karena itu, disiapkan Surabaya Urban Creative Hub (Sub Expocenter) di kawasan eks Hi-Tech Mall sebagai ruang permanen yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar, khususnya anak muda ekonomi kreatif dan digital. Ada dorongan agar pola pameran UMKM dilakukan sekitar tiga bulan sekali, sehingga pelaku usaha tidak perlu menunggu setahun untuk kembali tampil. Tujuannya jelas: menjaga ritme transaksi, kolaborasi, dan munculnya pelanggan baru setelah SGE selesai. Pendekatan ini menunjukkan bahwa akses pasar regional tidak bisa mengandalkan event tahunan saja; dibutuhkan titik temu rutin dan ruang kreatif sehingga UMKM Surabaya benar-benar naik kelas, bukan sekadar ramai di pameran lalu sepi di keseharian.






