Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Anak Muda Butuh Ruang, Bukan Sekadar Janji

Anak Muda Butuh Ruang, Bukan Sekadar Janji
Minat|Asia Tenggara

Komitmen harus berubah menjadi kesempatan

Ruang partisipasi pemuda adalah kesempatan nyata bagi generasi muda untuk menyampaikan persoalan, mengajukan solusi, dan ikut menentukan keputusan yang membentuk masa depan bersama. Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Puan Maharani meminta pemerintah memberi anak muda lebih dari janji: dukungan berkelanjutan sejak pendidikan hingga mereka memasuki dunia kerja atau membangun usaha. Tuntutan ini tepat karena tantangan yang dihadapi pemuda tidak selalu sama dengan pengalaman generasi sebelumnya. Sebagian harus membagi waktu antara belajar dan bekerja, merintis usaha dengan sumber daya terbatas, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam keadaan seperti itu, seruan agar anak muda gigih tidak cukup. Negara perlu mendengar langsung apa yang menghambat mereka dan membuka jalan agar gagasan mereka ikut memengaruhi kebijakan. Tanpa akses setara dan kebebasan berpendapat, komitmen kepada pemuda berhenti sebagai ucapan seremonial.

Anak Muda Butuh Ruang, Bukan Sekadar Janji

Satu bangsa, linimasa yang berbeda

Anak muda tidak menerima satu gambaran tunggal tentang negeri ini. Dalam esai tentang linimasa yang berbeda, dua orang yang bepergian berdampingan dapat melihat layar yang satu dipenuhi proyek dan prestasi, sementara layar lain menampilkan antrean pencari kerja, tekanan biaya hidup, dan keluhan tentang asap kebakaran hutan. Mereka turun di tempat yang sama, tetapi membawa pulang pengalaman berbeda. Perbedaan itu bukan alasan untuk menuduh satu pihak kurang patriotik; justru ia menunjukkan mengapa narasi kebangsaan harus memberi tempat bagi pengalaman yang beragam. Arus informasi juga berubah: Reuters Institute mencatat 48 persen responden di Indonesia menjadikan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama berita pada 2026, naik delapan poin persentase dari tahun sebelumnya. Angka itu berasal dari responden daring, bukan seluruh penduduk. Namun, pesannya jelas: keterlibatan pemuda dalam membentuk identitas nasional menuntut ruang informasi yang mempertemukan pengalaman, bukan memperlebar jarak.

Persatuan perlu didengar, bukan hanya diikrarkan

Sumpah Pemuda pada 1928 dikenang karena keberanian anak muda membayangkan kebersamaan melampaui perbedaan asal dan golongan. Kini, persatuan tidak cukup dijaga dengan mengulang ikrar; ia perlu dibangun lewat kesediaan memahami mengapa warga lain kecewa, khawatir, atau marah. Jika keluhan pemuda buru-buru dianggap kebencian, sementara keberhasilan langsung dicurigai sebagai propaganda, percakapan bersama akan menyempit. Perubahan cara memperoleh berita menambah tantangan. Penggunaan mingguan chatbot AI untuk berita naik dari 7 persen pada 2025 menjadi 10 persen pada 2026 di seluruh pasar survei Reuters Institute; jawaban yang lancar tetap bisa keliru atau kehilangan konteks. Literasi informasi penting, tetapi tanggung jawab tidak boleh dibebankan kepada anak muda saja. Pemerintah, media, dan lembaga publik juga perlu menyajikan informasi jujur serta mendengar mereka sebagai manusia dengan pengalaman dan gagasan, bukan sekadar angka atau sasaran kampanye.

Dari janji menuju masa depan bersama

Partisipasi anak muda bukan hiasan dalam demokrasi; itu cara memastikan keputusan publik berangkat dari kehidupan yang benar-benar mereka jalani. Generasi muda Indonesia perlu diberi kesempatan bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga menawarkan solusi dan melihat gagasan mereka dipertimbangkan. Semangat tema Sumpah Pemuda tahun ini—“Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”—akan terasa berarti jika patriotisme disertai kepedulian terhadap hambatan nyata yang dihadapi pemuda. Identitas nasional tidak lahir dari tuntutan agar semua orang merasakan hal yang sama. Ia tumbuh ketika pengalaman yang berbeda dapat hadir dalam percakapan bersama tanpa ditolak atau disederhanakan. Karena itu, ukuran komitmen kepada pemuda bukan banyaknya janji, melainkan luasnya kesempatan yang dibuka bagi mereka untuk ikut menentukan arah bangsa. Negara harus memberi ruang itu sekarang: mendengar, mengikutsertakan, dan memperlakukan gagasan anak muda sebagai bagian dari masa depan bersama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!