Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pantai Terpencil hingga Pedesaan Lumpur: Wajah Nyata Inklusi Keuangan Digital BRI

Dari Pantai Terpencil hingga Pedesaan Lumpur: Wajah Nyata Inklusi Keuangan Digital BRI
Minat|Asia Tenggara

Inklusi keuangan digital tidak lahir dari sinyal, tapi dari kedatangan orang

Inklusi keuangan digital adalah upaya sistematis untuk menghadirkan akses layanan perbankan pedesaan, edukasi literasi keuangan UMKM, dan pemanfaatan ekosistem seperti BRImo, QRIS, serta AgenBRILink jaringan kepada masyarakat yang sebelumnya tertinggal dari sistem keuangan formal, melalui kombinasi teknologi dan pendampingan langsung di lapangan yang berkelanjutan. Di atas kertas, inklusi keuangan digital tampak seperti urusan aplikasi dan jaringan internet. Di lapangan, kisah para Mantri dan Kepala Unit BRI menunjukkan hal sebaliknya: tanpa manusia yang mau menyeberang ombak dan menerobos jalan berlumpur, teknologi tetap akan berhenti di kota. Itu sebabnya, ketika membahas akses keuangan, kita harus berani mengakui bahwa keberhasilan ditentukan oleh orang yang hadir secara fisik di kampung, bukan oleh slogan transformasi digital.

Titin di Kaledupa: enam agen, ombak empat meter, dan lonjakan 70 persen nasabah

Pulau Kaledupa di Wakatobi sering digambarkan sebagai surga bahari, tetapi bagi Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri (Titin), pulau ini adalah ladang perjuangan finansial. Tantangan di wilayah ekstrem ini datang bukan hanya dari ombak, tetapi juga dari keterbatasan infrastruktur digital, dengan banyak area yang masih masuk kategori tanpa sinyal. Meski begitu, dari sembilan desa yang ia tangani, empat AgenBRILink berhasil diaktifkan di desa-desa yang memiliki jaringan internet relatif memadai dan secara keseluruhan terdapat enam agen aktif sebagai perpanjangan layanan BRI di pulau tersebut."Sejak ia bertugas, jumlah nasabah di wilayah tersebut meningkat signifikan hingga sekitar 70%, dari semula sekitar 100 nasabah menjadi hampir 300 nasabah". Angka ini bukan sekadar statistik; ini bukti bahwa layanan perbankan pedesaan baru terasa ketika petugas mau menjemput bola, bukan menunggu nasabah mendekat.

Di tengah keterbatasan akses internet, Titin tidak berhenti di urusan kredit. Ia terus mengedukasi masyarakat mengenai layanan keuangan BRI, termasuk penggunaan BRImo di titik-titik yang sudah terjangkau jaringan. BRImo mulai digunakan untuk membayar tagihan, mengirim uang kepada anak yang kuliah di luar daerah, hingga bertransaksi dengan reseller. Inilah esensi inklusi keuangan digital: aplikasi dipakai untuk kebutuhan nyata, bukan sekadar dipasang demi laporan program. Menariknya, Titin adalah perempuan pertama yang ditempatkan di wilayah kerja ekstrem Kaledupa yang sebelumnya selalu diisi laki-laki. Fakta ini menampar asumsi bahwa tugas berat di pedesaan hanya cocok untuk pria. Komitmen perusahaan pun jelas: kisah Titin disebut sebagai potret komitmen untuk hadir di titik yang paling sulit dijangkau sekalipun. Dedikasi yang, meminjam kata Corporate Secretary Dhanny, "bisa menembus ombak setinggi empat meter".

Hasibuan di Sigambal: literasi keuangan UMKM lahir dari kaki yang kotor oleh lumpur

Jika Kaledupa menguji nyali lewat ombak, wilayah Sigambal di Rantau Prapat mengetes kesabaran lewat akses berlumpur. Perjalanan menembus medan berlumpur dan keterbatasan jaringan komunikasi tidak menyurutkan langkah M A Hasibuan untuk menemui para nasabahnya. Sebagai Kepala Unit, ia memilih turun langsung, rutin mendatangi titik usaha warga hampir dua tahun untuk melihat kondisi lapangan, mendengarkan kendala, dan memahami kebutuhan modal maupun pengelolaan keuangan para pedagang lokal. Pendekatan ini menantang paradigma perbankan yang terlalu mengandalkan berkas. Menurut Hasibuan, kebutuhan riil pelaku usaha sering tidak tercermin penuh dari dokumen pengajuan. Melalui interaksi dan dialog langsung, solusi pembiayaan dan edukasi literasi keuangan UMKM bisa disusun lebih presisi.

Dampak pendampingan berkelanjutan terlihat jelas: performa sejumlah penerima Kredit Usaha Rakyat tumbuh, dan seiring skala bisnis meningkat mereka secara bertahap mampu lulus dan beralih ke fasilitas kredit komersial. Ini bukan sekadar "UMKM naik kelas" sebagai slogan, tetapi perubahan struktur usaha yang konkret. Di samping pembiayaan, Hasibuan aktif mendorong literasi keuangan digital dengan mengenalkan ekosistem BRI: aplikasi BRImo, fitur pembayaran QRIS, hingga jaringan AgenBRILink untuk mempermudah transaksi harian pedagang. Di sinilah inklusi keuangan digital menunjukkan wajah yang seharusnya: bukan memaksa pedagang memakai aplikasi demi target, melainkan mempermudah hidup mereka dalam mengelola kas, menerima pembayaran, dan mengurangi ketergantungan pada uang tunai. Ketika pedagang bisa mengakses layanan perbankan pedesaan tanpa harus ke kota, itu adalah bentuk keadilan ekonomi yang selama ini absen.

Desentralisasi layanan: agen, aplikasi, dan kehadiran yang mengubah peta ekonomi desa

Polanya mulai terlihat: BRI tidak menunggu jaringan penuh dulu baru turun, tapi menurunkan orang dulu untuk memanfaatkan jaringan yang ada. Di Kaledupa, enam AgenBRILink aktif menjadi perpanjangan layanan BRI di pulau tersebut; di Sigambal, jaringan AgenBRILink dan ekosistem digital dikenalkan sebagai bagian dari pendampingan UMKM. Ini adalah pendekatan desentralisasi layanan perbankan pedesaan yang patut diapresiasi. Nasabah tidak dipaksa ke kantor cabang di kota; layanan dibawa ke mereka lewat agen, aplikasi, dan kunjungan rutin. Corporate Secretary Dhanny menegaskan bahwa inklusi keuangan bukan hanya membuka akses terhadap produk dan layanan perbankan, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan pendampingan dan solusi sesuai kebutuhan."Kami ingin BRI hadir sebagai partner yang menemani masyarakat dalam setiap tahap perjalanan usahanya" adalah pernyataan yang, dalam konteks ini, tidak terdengar kosong.

Ketika Titin melihat nasabah bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi berkat dukungan modal, ia menyebut itu sebagai kepuasan batin yang tidak ternilai. Saat Hasibuan menyaksikan usaha kecil berkembang dan lulus ke kredit komersial, ia menyebutnya sebagai kebanggaan karena modal yang “terlihat kecil” dapat mengubah kehidupan sebuah keluarga. Dua cerita ini menyatukan satu pesan: inklusi keuangan digital yang bermakna tidak diukur dari berapa banyak akun BRImo terdaftar, tetapi dari perubahan hidup nyata di rumah para pelaku usaha. Tanpa kaki yang rela kotor oleh lumpur dan kepala yang berani menantang ombak, aplikasi perbankan hanya akan menjadi fitur di ponsel orang kota. Jika ekosistem digital ingin adil, ia wajib disertai model kerja yang menempatkan petugas lapangan sebagai aktor utama, bukan sekadar pelaksana kebijakan dari kantor.

Kesimpulan: Inklusi keuangan digital butuh orang yang berani "tidak pilih-pilih wilayah"

Kisah Titin di surga bahari yang penuh ombak dan Hasibuan di pedesaan berlumpur mengungkap hal yang sering disembunyikan dalam narasi transformasi digital: kesenjangan akses keuangan tidak akan tertutup hanya dengan menambah fitur aplikasi. Mereka membuktikan bahwa literasi keuangan UMKM, perluasan AgenBRILink jaringan, dan penguatan ekosistem seperti BRImo dan QRIS hanya efektif ketika dipandu oleh orang yang hadir, mendengarkan, dan menemani proses usaha tumbuh. Pesan Titin kepada rekan Mantri, "Jangan pilih-pilih tempat kerja, jangan pilih-pilih wilayah" adalah kritik halus terhadap mentalitas yang nyaman di kota. Jika lembaga keuangan ingin inklusi keuangan digital benar-benar mengubah peta ekonomi desa, mereka harus menjadikan model kerja Titin dan Hasibuan sebagai standar: turun ke pantai terpencil, masuk ke kampung berlumpur, dan menerima bahwa pelayanan setulus hati tidak bisa dilakukan dari balik layar komputer.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!