Inklusi keuangan digital sebagai jalan ekonomi kerakyatan
Inklusi keuangan digital adalah upaya sistematis untuk memastikan setiap warga, termasuk yang tinggal di daerah terpencil dan perbatasan, memiliki akses mudah, aman, dan terjangkau ke layanan keuangan formal melalui kombinasi teknologi, jaringan fisik, dan solusi layanan yang disesuaikan dengan kondisi geografis mereka. Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, BRI sebagai bagian dari Danantara menunjukkan bahwa inklusi keuangan digital bukan sekadar slogan, tetapi strategi pembangunan ekonomi kerakyatan yang konkret. Bank ini mengaitkan makna kedaulatan dengan kemampuan rakyat mengelola dan mengakses keuangan sendiri. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan, penguatan ekonomi rakyat menjadi fondasi pertumbuhan nasional dan menjadi arah kontribusi BRI ke depan. Pilihan itu tepat: tanpa akses keuangan, mimpi UMKM dan desa untuk naik kelas akan berhenti di wacana.

Pembiayaan UMKM: angka besar yang mesti dibaca sebagai keberpihakan
Jika ingin mengukur keberpihakan sebuah bank pada ekonomi kerakyatan, lihatlah seberapa besar portofolio pembiayaan UMKM-nya. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit UMKM BRI mencapai sekitar Rp1.235 triliun atau 75,2% dari total portofolio kredit perseroan, menjadikannya bank dengan portofolio kredit UMKM terbesar di Indonesia. Angka ini bukan sekadar kebanggaan korporasi, tetapi indikasi bahwa BRI memilih berdiri di sisi pelaku usaha kecil dan menengah ketika banyak institusi keuangan lebih tertarik pada segmen konsumtif. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp103,81 triliun kepada 2 juta debitur, dengan porsi besar di sektor pertanian dan perdagangan, menunjukkan orientasi pada sektor produktif yang terkait langsung dengan kebutuhan masyarakat. "Kami percaya bahwa kedaulatan dan kemajuan Indonesia berawal dari ekonomi rakyat" menjadi pernyataan sikap yang tercermin dalam angka-angka konkret tersebut.
BRILink, BRImo, dan Teras Kapal: wajah baru perbankan daerah terpencil
Perbankan daerah terpencil sering diartikan sebagai sekadar membuka cabang di kota terdekat. BRI mengambil pendekatan jauh lebih agresif. Dengan lebih dari 7.000 jaringan kantor, termasuk di Gunung Sitoli, Abepura, Tahuna, dan Kupang, kehadiran fisik bank ini merentang dari pusat aktivitas ekonomi hingga desa, pesisir, dan kepulauan. Di kawasan perbatasan, 20 unit kerja tersebar di garis depan Indonesia–Timor Leste, Papua Nugini, dan Malaysia. Namun titik balik inklusi keuangan digital ada pada kombinasi BRILink Agen dan BRImo. Sebanyak 1,13 juta BRILink Agen melayani lebih dari 60.753 desa dan mencatat 501 juta transaksi dengan volume Rp841 triliun sepanjang semester I 2026, sekaligus membuka peluang usaha bagi warga lokal. Di sisi lain, Super App BRImo sudah dipakai 49,7 juta pengguna dengan 3,32 miliar transaksi finansial senilai Rp4.166 triliun sampai Juni 2026, menjadikan layanan keuangan tersedia 24 jam tanpa batas jarak.
Teras Kapal dan ekosistem fisik-digital: menjangkau perbatasan dan pulau terluar
Di banyak negara, masyarakat di pulau kecil dan pesisir sering menjadi korban jarak: jauh dari bank, mahal mengakses layanan. BRI menggunakan Teras Kapal sebagai jawaban. Bahtera Seva I berlayar di Kepulauan Seribu, Bahtera Seva II di Halmahera Selatan, Bahtera Seva III di Kepulauan Anambas, dan Nera Seva di Labuan Bajo dengan cakupan sejumlah pulau kecil, menghadirkan layanan tarik dan setor tunai serta transaksi lain di tengah laut. Ini bukan sekadar gimmick, melainkan bentuk pengakuan bahwa warga pulau berhak atas kualitas layanan keuangan yang sama dengan penduduk daratan. Yang penting, BRI tidak memposisikan digitalisasi sebagai pengganti jaringan fisik, tetapi sebagai pelengkap: ekosistem layanan dirancang memadukan kantor cabang, agen, ATM/CRM, BRImo, dan Teras Kapal untuk menyesuaikan karakteristik geografis yang beragam. Dari perbatasan terdepan hingga pulau-pulau terluar, BRI dan Danantara ingin memastikan kemajuan layanan perbankan dirasakan secara inklusif dan membuka peluang kesejahteraan baru.
Mengapa model BRI penting bagi masa depan inklusi keuangan digital
Kisah BRI dalam memperluas inklusi keuangan digital mengajarkan satu hal: teknologi tidak cukup tanpa pemahaman sosial dan geografis. Dengan mengaitkan momentum kemerdekaan ke-81 dan tema "Berdaulat, Adil, dan Makmur" pada strategi keuangan rakyat, BRI menjadikan layanan perbankan sebagai instrumen pemerataan, bukan sekadar bisnis. Pembiayaan UMKM besar-besaran, jaringan BRILink yang merasuk ke desa, BRImo yang menghapus batas waktu dan jarak, serta Teras Kapal yang melawan logika eksklusi pulau kecil, semuanya menyatu dalam ekosistem fisik-digital yang menyasar akar masalah akses. Menyebut BRI sebagai mitra strategis pembangunan nasional bukan pujian kosong, melainkan pengakuan atas kemampuan bank ini menjahit layanan keuangan dengan realitas geografis dan sosial. Jika model seperti ini diikuti lebih luas, inklusi keuangan digital dapat bertransformasi dari jargon kebijakan menjadi pengalaman sehari-hari warga di pelosok.







