Pengakuan untuk pembelajaran yang berangkat dari kebutuhan nyata
Inovasi media pembelajaran adalah pengembangan sarana atau pendekatan belajar yang membuat materi lebih mudah dijelajahi siswa, baik melalui teknologi maupun dengan menghubungkan pelajaran pada lingkungan dan kebutuhan nyata. Penghargaan yang diraih empat guru pada 2026 menunjukkan bahwa karya pendidikan dapat berangkat dari bidang yang berbeda, tetapi sama-sama berupaya memperkaya pengalaman belajar.
Dua guru SMPN 1 Sukaraja, Adila Irawan dan Rahayu Utami, meraih medali emas atau Grand Prize dalam International Mathematical Science Creative Competition (IMSCC) 2026 di Korea Selatan melalui Smart Hanjeli. Guru MIN 1 Sumenep, Eko Himawan, memperoleh juara pertama kompetisi nasional inovasi media pembelajaran berbasis teknologi informasi, sementara Rachmita Aulia Mekatronika Arifin dari MTsN 6 Malang meraih Best 2 dalam kategori inovasi media pada kompetisi nasional media pembelajaran berbasis IT. Capaian ini layak dibaca bukan sekadar sebagai deretan piala: ia memperlihatkan bahwa gagasan guru dapat menjangkau persoalan belajar yang beragam.
Smart Hanjeli mengaitkan sains dengan potensi daerah
Smart Hanjeli membawa potensi tanaman lokal Sukabumi ke ajang matematika internasional. Inovasi Adila dan Rahayu dikembangkan sebagai greenhouse adaptif dengan konstruksi 4DFrame dan Embodied AI, yakni kecerdasan buatan yang terintegrasi dengan perangkat fisik. Rancangannya ditujukan untuk membantu mengoptimalkan kondisi mikroklimat dan efisiensi penggunaan air bagi tanaman hanjeli, sekaligus menjadi media pembelajaran interaktif bagi siswa.
Pilihan hanjeli punya makna yang melampaui pemanfaatan teknologi: tanaman ini merupakan salah satu potensi hayati lokal yang berkaitan dengan kawasan Geopark Ciletuh. Dengan demikian, proyek tersebut menempatkan sumber daya daerah sebagai konteks belajar, bukan sekadar latar. Sebelum melaju ke IMSCC, Tim Coix Squad mengikuti kompetisi ISTEMCC di Universitas Pendidikan Indonesia pada Agustus 2026. Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi mendukung keberangkatan kedua guru ke Korea Selatan dan, menurut laporan, berencana memberi penghargaan setelah mereka kembali. Langkah lanjutan itu penting, tetapi dukungan terhadap pengembangan karya semestinya tak berhenti pada seremoni.
Media IT dan matematika menawarkan jalur berbeda
Di Sumenep, Eko Himawan meraih juara pertama setelah melewati seleksi nasional dan mencapai final dengan nilai tertinggi di antara peserta. Kompetisi yang digelar bersama MGMP Informatika MI, MTs, dan MA Jawa Timur serta Departemen Teknologi Informasi ITS diarahkan untuk mendorong media digital yang interaktif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi. Sumber yang tersedia tidak memerinci bentuk karya Eko, sehingga pencapaiannya lebih tepat dipahami sebagai pengakuan atas inovasi media pembelajaran IT tanpa menebak fitur atau metode yang digunakan.
Rachmita, sebaliknya, mengangkat fokus yang lebih spesifik: inovasi matematika untuk materi peluang. PEKA, singkatan dari Penjelajah Kemungkinan dan Peluang, merupakan media berbasis web yang menyediakan aktivitas eksplorasi dan simulasi percobaan; siswa dapat mengamati kemungkinan hasil dan mempelajari konsep peluang secara interaktif. Karyanya meraih Best 2 setelah kompetisi diikuti 202 peserta, dengan 20 finalis terpilih untuk mempresentasikan karya. Perbedaan ini patut dicatat: Smart Hanjeli menghubungkan matematika, teknologi, dan tanaman lokal; PEKA berpusat pada pengalaman belajar peluang; sedangkan capaian Eko menegaskan ruang luas bagi media digital tanpa detail karya yang dipublikasikan.

Penghargaan perlu menjadi awal, bukan garis akhir
Tiga capaian ini memperluas gambaran tentang penghargaan guru nasional: mutu inovasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari relevansinya bagi pelajar. Smart Hanjeli memberi konteks lokal pada sains dan matematika, sedangkan PEKA menghadirkan cara interaktif untuk mengeksplorasi peluang. Prestasi Eko menunjukkan pengakuan nasional terhadap media pembelajaran berbasis IT, meski rincian karyanya belum tersedia untuk dibandingkan lebih jauh.
Tantangan berikutnya ialah memastikan karya semacam ini terus dikembangkan dan digunakan dalam pembelajaran, bukan berhenti sebagai materi kompetisi. Harapan penyelenggara dan pihak terkait agar prestasi tersebut menginspirasi guru lain perlu ditopang ruang berbagi, dukungan sekolah, serta kesempatan menguji manfaat media di kelas. Rachmita juga berharap PEKA dapat menjadi bagian dari pembelajaran matematika yang interaktif dan sesuai perkembangan teknologi informasi. Kesimpulannya, penghargaan ini paling berarti ketika gagasan guru tumbuh menjadi pengalaman belajar yang lebih dekat, aktif, dan bermakna bagi siswa.







