Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Platform Pembelajaran AI IoT dan Lompatan Inovasi Guru

Platform Pembelajaran AI IoT dan Lompatan Inovasi Guru
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

KISAH-KITA: Contoh Nyata Platform Pembelajaran AI IoT di Kelas

Platform pembelajaran AI IoT adalah sistem belajar digital yang menggabungkan kecerdasan buatan dan Internet of Things untuk membuat aktivitas membaca, memahami materi, dan berinteraksi dengan konten menjadi lebih hidup, berlapis data, dan responsif terhadap perilaku siswa sehingga proses belajar tidak lagi sekadar menatap layar, tetapi melibatkan perangkat fisik, analisis otomatis, dan pengalaman belajar yang lebih menarik dan mudah diingat. Inovasi KISAH-KITA yang dikembangkan dua guru MAN 3 Medan, Ahmad Suhendra Sembiring dan Andy Syahputra, adalah contoh konkret bagaimana konsep ini diterjemahkan ke ruang kelas melalui platform literasi digital yang memadukan AI dan IoT untuk membuat kegiatan membaca dan belajar lebih interaktif. KISAH-KITA tidak muncul sebagai proyek coba-coba; ia lahir dari penguasaan teknis di bidang Internet of Things, mikrokontroler ESP32, serta Edge AI, lalu dikemas sebagai teknologi pembelajaran interaktif yang relevan dengan kebutuhan madrasah dan siswa.

Dari Kompetisi BRIDA ke 80 Besar PIDI: Bukti Struktur Inovasi Guru

Keberhasilan KISAH-KITA menembus 80 besar finalis Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) bukan kejutan instan, melainkan hasil perjalanan yang tertata sejak awal 2026. Pada Februari, karya ini lebih dulu meraih Juara I Kategori Invensi dalam kompetisi Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Medan, menjadi batu loncatan penting sebelum tampil di panggung yang lebih besar. Fakta bahwa dua guru madrasah mampu meloloskan inovasi mereka ke ajang nasional yang melibatkan banyak pemangku kepentingan teknologi menunjukkan satu hal: inovasi guru digital bisa kompetitif ketika dikembangkan dengan alur riset, pengujian, dan pameran yang jelas. "Dua guru MAN 3 Medan berhasil meloloskan diri ke dalam 80 besar finalis PIDI 2026" adalah pernyataan yang menegaskan bahwa pengajar bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi pencipta solusi yang diakui di tingkat nasional.

Teknologi Pembelajaran Interaktif: Literasi yang Lahir dari AI dan IoT

KISAH-KITA dikembangkan secara sadar sebagai teknologi pembelajaran interaktif, bukan hanya aplikasi baca digital biasa. Platform ini dirancang untuk menjadikan kegiatan membaca dan belajar lebih interaktif, menarik, dan menyenangkan melalui pemanfaatan teknologi terkini. Dengan memadukan AI untuk mengolah konten dan IoT untuk menghubungkan perangkat fisik, guru MAN 3 Medan menghadirkan pendekatan baru dalam literasi digital yang disebut sebagai AIoT, yang menempatkan siswa sebagai pelaku aktif, bukan hanya penerima materi. Kehadiran KISAH-KITA di stan pameran inovasi pada ajang FEKDI x IFSE memperlihatkan bahwa karya guru madrasah dapat berdiri sejajar dengan terobosan teknologi lain, sekaligus mengirim pesan penting: platform pembelajaran AI IoT layak dilihat sebagai strategi meningkatkan mutu pembelajaran, terutama ketika sasaran utamanya adalah menjadikan pengalaman belajar lebih hidup dan dekat dengan keseharian digital siswa.

PIDI, FEKDI, dan Etos Inovasi yang Mengubah Wajah Guru

Dipamerkannya KISAH-KITA dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia yang beriringan dengan Indonesia Fintech Summit and Expo di Jakarta International Convention Center pada 24–26 September 2026 menempatkan guru di ruang yang biasanya didominasi pelaku industri teknologi. Di sini, guru tidak tampil sebagai penonton, melainkan inovator yang memperkenalkan karya mereka kepada pemangku kepentingan, jurnalis, dan pelaku industri. Kepala MAN 3 Medan, Burhanuddin, menegaskan bahwa prestasi ini menunjukkan madrasah tidak hanya berfokus pada pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan perkembangan teknologi. Pernyataan ini penting secara politis: ia mematahkan pandangan sempit bahwa lembaga pendidikan berbasis agama tertinggal dalam transformasi digital. Etos berinovasi, kolaborasi, dan ketekunan dalam penelitian yang ditekankan pimpinan madrasah menjadi fondasi mental bagi guru lain untuk berani mengembangkan teknologi pembelajaran interaktif mereka sendiri.

Pelajaran dari MAN 3 Medan: Guru sebagai Arsitek Transformasi Kelas Berbasis AI

KISAH-KITA membawa satu pesan kuat: transformasi kelas berbasis AI tidak akan bergerak jika guru hanya menunggu kebijakan dari atas. Dua instruktur yang sehari-hari bergelut dengan robotika dan informatika membuktikan bahwa penguasaan teknis dapat diterjemahkan menjadi inovasi guru digital yang punya dampak simbolik dan institusional. Partisipasi mereka dalam ajang yang didukung lembaga keuangan dan regulator menunjukkan bahwa dunia teknologi siap mendengar gagasan pendidikan ketika guru datang dengan solusi, bukan keluhan. Kepala madrasah berharap keberhasilan ini memotivasi siswa untuk terus belajar dan berani mencoba hal baru, tetapi pesan yang sama seharusnya digenggam guru lain. Jika guru di berbagai sekolah berani mengembangkan platform pembelajaran AI IoT versi mereka, dengan konteks lokal masing-masing, maka transformasi digital pendidikan tidak lagi sekadar wacana, melainkan gerakan yang tumbuh dari ruang kelas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!