Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan Jurnalistik di Sekolah Mengasah Nalar Kritis Siswa

Pelatihan Jurnalistik di Sekolah Mengasah Nalar Kritis Siswa
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pelatihan jurnalistik sekolah: lebih dari sekadar belajar menulis

Pelatihan jurnalistik sekolah adalah program pembinaan di lingkungan pendidikan yang melatih siswa mencari informasi, memeriksa fakta, menulis berita dan karya populer, serta memahami cara kerja media sehingga mereka memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi media, dan keterampilan menulis digital yang relevan dengan kehidupan sehari-hari di era informasi cepat.

Gelombang pelatihan jurnalistik di berbagai sekolah menengah menunjukkan satu hal: kemampuan membaca dan menulis tidak lagi cukup jika tidak dibarengi kecakapan mengolah informasi. Di SMAN 1 Pasie Raja, 40 siswa kelas X dan XI mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Karya Tulis Populer untuk mengembangkan bakat kepenulisan dan meningkatkan literasi di era digital. Di SMPN 1 Tlanakan, pelatihan serupa dipakai untuk mengajarkan siswa memeriksa fakta sebelum menyebarkan kabar kepada orang lain. Sementara di SMAN 16 Pandeglang, guru dan siswa bersama-sama dibekali kemampuan jurnalistik dan fotografi untuk meningkatkan literasi dan kualitas sumber daya manusia sekolah. Ini bukan tren sesaat, melainkan respons langsung terhadap banjir informasi yang mudah ditemukan namun tidak semuanya layak dipercaya.

Pelatihan Jurnalistik di Sekolah Mengasah Nalar Kritis Siswa

Mengasah berpikir kritis siswa: dari berani bertanya hingga memilah fakta-opini

Inti dari pelatihan jurnalistik sekolah seharusnya bukan menghasilkan “wartawan cilik”, melainkan membentuk kebiasaan berpikir kritis siswa. Di Pamekasan, pelatihan di SMPN 1 Tlanakan dirancang agar siswa mengenal proses mencari informasi, mewawancarai narasumber, dan menyusun berita, sambil terus menguji kebenaran data yang mereka temukan. Jamil menegaskan bahwa jurnalistik membantu siswa membangun pola pikir kritis, melatih keberanian bertanya, dan membedakan fakta dari opini.

Inilah keterampilan yang paling sering hilang di kelas-kelas konvensional: kemampuan mempertanyakan, bukan sekadar menghafal. Ketika siswa diminta menulis berita, mereka dipaksa keluar dari zona nyaman: mengobservasi, mengonfirmasi, lalu menyusun informasi secara runtut. Guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Tlanakan melihat praktik jurnalistik sebagai cara konkret mengasah kemampuan menyusun kalimat efektif dan menyampaikan informasi dengan jelas. Pelajaran bahasa yang biasanya abstrak berubah menjadi latihan nyata berpikir kritis siswa di lapangan.

Literasi media siswa di era digital: mengerti cara kerja media, bukan sekadar mengonsumsi

Sekolah yang mengabaikan literasi media siswa sedang membiarkan muridnya terseret arus informasi tanpa pelampung. Kepala SMAN 1 Pasie Raja menekankan bahwa di tengah perkembangan teknologi digital, siswa dituntut memahami dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi, sehingga kemampuan menulis dan mengolah informasi menjadi keterampilan penting yang harus terus dikembangkan.

Pelatihan di SMAN 16 Pandeglang juga lahir dari kegelisahan serupa. Pihak sekolah menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi yang pesat menuntut guru dan siswa beradaptasi agar tidak tertinggal dalam hal literasi media dan daya saing. Di sini, pelatihan jurnalistik dan fotografi dipakai sebagai ikhtiar meningkatkan kualitas literasi media, bukan sekadar menambah kegiatan ekstrakurikuler. Ketika siswa belajar teknik penulisan berita, wawancara, dan observasi di SMAN 1 Pasie Raja, mereka sekaligus mempelajari cara kerja media dari dalam: bagaimana informasi dipilih, disusun, dan disajikan kepada publik.

Keterampilan menulis digital: kebutuhan mendesak di ruang kelas dan dunia maya

Menganggap keterampilan menulis digital sebagai pelengkap adalah kesalahan besar. Kepala SMAN 1 Pasie Raja menyebut pelatihan jurnalistik dan karya tulis populer sebagai upaya mendorong siswa mengembangkan potensi dan kreativitas melalui kegiatan menulis, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi di era digital. Menulis di zaman ini berarti mampu mengolah informasi, memilih sudut pandang, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab di berbagai platform.

Di SMPN 1 Tlanakan, praktik jurnalistik memberi ruang bagi siswa mengembangkan keterampilan menulis, mulai dari menyusun kalimat efektif hingga menyampaikan informasi secara runtut. Ini adalah fondasi yang sama dibutuhkan ketika mereka menulis caption, artikel blog, atau konten lain di ruang digital. Di SMAN 16 Pandeglang, panitia berharap peserta pelatihan dapat menerapkan ilmu jurnalistik untuk menunjang keahlian tambahan setelah kegiatan selesai. Artinya, sekolah mulai melihat menulis bukan hanya tugas akademik, tetapi bekal karier dan partisipasi publik di masa depan.

Mengapa program jurnalistik harus menjadi agenda tetap sekolah

Rangkaian pelatihan di SMAN 1 Pasie Raja, SMPN 1 Tlanakan, dan SMAN 16 Pandeglang menunjukkan pola yang sama: jurnalistik efektif mengasah berpikir kritis siswa, memperkuat literasi media, dan menyiapkan mereka menghadapi banjir informasi digital. Di Pasie Raja, program ini diharapkan melahirkan penulis muda, jurnalis pelajar, pengelola majalah sekolah, dan kreator konten edukatif yang membawa nama baik sekolah.

Jika sekolah serius ingin menumbuhkan budaya literasi, pelatihan jurnalistik tidak boleh berhenti sebagai acara tahunan seremonial. Ia perlu dijadikan agenda tetap: terintegrasi dengan pembelajaran bahasa, didukung guru lintas mata pelajaran, dan dibuka bagi siswa yang ingin mengasah keterampilan menulis digital. Melalui langkah ini, sekolah bukan hanya mengajarkan cara membaca berita, tetapi juga membekali generasi muda untuk menulis, mengkritisi, dan membangun percakapan publik yang lebih sehat di era informasi cepat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!