Pesantren Teknologi Digital: Bukan Ancaman, Tapi Jalan Baru
Pesantren teknologi digital adalah model pendidikan santri modern yang memadukan pendalaman ilmu agama dengan penguasaan sains, literasi digital, dan keterampilan teknologi santri untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan budaya di era serba terhubung ini. Pendekatan ini menempatkan pesantren sebagai pusat pembentukan karakter, pusat ilmu, sekaligus pusat inovasi yang mempersiapkan santri menjadi generasi beriman, berakhlak, dan mandiri dalam dunia yang kian terdigitalisasi. Dalam kerangka ini, kitab kuning dan kelas coding bukan dua dunia yang bertentangan, melainkan dua sisi dari satu misi pendidikan yang sama: melahirkan manusia berilmu yang bermanfaat.
Peringatan Hari Santri dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” menjadi momentum penting untuk menegaskan arah baru ini. Bupati Jepara Witiarso Utomo menilai pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang berilmu, berkarakter, mandiri, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ini bukan sekadar ajakan seremonial; ini pernyataan politik pendidikan: pesantren tidak boleh puas melahirkan santri yang hanya kuat di mimbar, tetapi gagap di ruang digital. Jika pesantren ingin tetap relevan, integrasi agama dan sains bukan pilihan tambahan, melainkan keharusan.

Santri Modern: Iman Kuat, Melek Sains, Cakap Digital
Di Jepara, santri didorong tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menguasai teknologi digital dan mengembangkan jiwa kewirausahaan. Ini inti pendidikan santri modern: tafsir dan fiqih berjalan beriringan dengan literasi digital dan bisnis. Bekal ini dinilai penting agar santri mampu bersaing di tengah perubahan zaman sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tanpa kemampuan tersebut, santri berisiko menjadi penonton dalam ekonomi baru yang digerakkan data, aplikasi, dan platform.
Witiarso menekankan perlunya pengembangan pengetahuan umum, keterampilan, literasi digital, dan jiwa kewirausahaan di pesantren teknologi digital. Pesantren yang dulu identik dengan kesederhanaan kini ditantang melahirkan santri yang bukan hanya saleh, tetapi juga kreatif membuka usaha, mengelola sampah, hingga mengisi ruang ekonomi lokal. Santri didorong memanfaatkan teknologi secara positif dan mengambil peran di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa keterampilan teknologi santri bukan pelengkap, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan menuju Indonesia Emas.
Integrasi Agama dan Sains: Prinsip Lama, Tantangan Baru
Ketua PCNU Tulungagung KH Bagus Ahmadi mengingatkan bahwa kesiapan pesantren menghadapi perkembangan zaman masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kesenjangan fasilitas teknologi antar pesantren. Di satu sisi ada pesantren yang masih sangat tradisional, di sisi lain ada yang sudah akrab dengan perangkat digital dan laboratorium sains. Menurutnya, kemajuan teknologi dan sains tidak bisa dihindari; yang perlu disamakan adalah visi bahwa integrasi agama sains harus dikelola dengan bijak.
Penguatan kemampuan santri tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas teknologi; pesantren tetap perlu menanamkan karakter, akhlak, adab, dan ilmu agama agar santri mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak. Prinsip al-muhafazhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah menjadi penopang: tradisi yang baik dijaga, pembaruan yang lebih maslahat diterima. Dengan pendekatan tersebut, teknologi dan sains tidak harus dipertentangkan dengan pendidikan agama; keduanya dapat saling melengkapi selama tidak menghilangkan identitas pesantren. Bahkan dalam penggunaan kecerdasan buatan, Gus Bagus menegaskan bahwa AI tidak boleh membuat santri tercerabut dari akar keilmuannya, melainkan membantu mempercepat proses pembelajaran.
Wali Barokah Kediri: Laboratorium Nyata Pesantren Modern
Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri memberi contoh konkret bagaimana pendidikan santri modern dijalankan. Wakil Ketua pesantren, Agung Riyanto, menegaskan bahwa santri perlu memperkuat iman, akhlak, ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, dan kemandirian untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ini bukan slogan; ini peta jalan. Ia mengajak santri menerjemahkan tema Hari Santri Nasional melalui tindakan nyata: menggabungkan penguatan iman dan akhlak dengan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan teknologi.
Agung menekankan pentingnya kemandirian ekonomi, semangat kewirausahaan, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam kerangka pendidikan pesantren teknologi digital. Santri juga didorong menjunjung kejujuran, disiplin, amanah, serta tanggung jawab melalui penerapan 29 Karakter Luhur. Menurutnya, persiapan menuju Indonesia Emas membutuhkan proses panjang, kerja keras, konsistensi, dan kolaborasi; karena itu, masa mondok harus digunakan untuk membangun kompetensi dan karakter. Di sini terlihat jelas: integrasi agama sains bukan proyek jangka pendek, tetapi investasi peradaban yang menyiapkan santri menjadi generasi religius, berintegritas, kreatif, mandiri, dan peduli.

Kesimpulan: Santri Digital Berakhlak, Penentu Masa Depan
Rangkaian peringatan Hari Santri yang berlangsung sejak 14 Oktober hingga pertengahan November, dengan puncak apel, pendistribusian zakat produktif, dan karnaval lintas iman, menunjukkan bahwa pesantren sedang menata ulang perannya. Santri bukan lagi diposisikan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga penentu masa depan bangsa. Penguasaan teknologi diharapkan tidak hanya menambah keterampilan, tetapi juga membekali santri untuk menggunakan pengetahuan demi kepentingan masyarakat.
Pesantren yang berani mengintegrasikan teknologi dan sains tanpa mengorbankan nilai agama dan akhlak sedang menulis bab baru sejarah pendidikan santri modern. Tantangannya jelas: menutup kesenjangan fasilitas, menguatkan karakter, dan memastikan keterampilan teknologi santri digunakan untuk memperkuat keutuhan NKRI serta menjawab persoalan masyarakat. Jika pesantren konsisten di jalur ini, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan; ia menemukan tulang punggungnya pada santri yang fasih membaca kitab, lincah mengelola data, dan teguh menjaga akhlak.







