Ujian berat untuk desain lipat perdana
iPhone Duo adalah ponsel lipat perdana Apple yang menggabungkan engsel bergerak dan layar fleksibel bagian dalam, dua komponen yang harus bertahan dari pemakaian berulang sekaligus paparan tekanan fisik. Karena itu, hasil uji ketahanannya penting: masalah pada salah satu bagian dapat mengganggu fungsi perangkat secara keseluruhan. Pengulas teknologi Zack Nelson menguji iPhone Duo dalam rangkaian tes ekstrem yang menilai ketahanan fisik dan struktur rangkanya; laporan mengenai hasil tes tersebut terbit pada Sabtu, 24 Oktober waktu setempat. Dalam uji partikel kotoran, perangkat dikubur di pasir, debu, dan tanah. Butiran masuk melalui celah engsel dan membuat ponsel tidak dapat tertutup rapat. Ini bukan sekadar cacat kosmetik. Engsel yang tersendat mengubah cara ponsel dilipat dan dapat mengurangi kenyamanan, bahkan fungsi, dalam penggunaan sehari-hari.

Engsel belum terlindungi dari kotoran
Masalah engsel ponsel lipat ini menyoroti celah antara perlindungan yang tertera dan perlindungan yang dibutuhkan mekanisme bergerak. iPhone Duo memiliki sertifikasi IP68, tetapi hasil tes menunjukkan debu dan pasir tetap dapat mencapai bagian engsel. Daya tarik magnet internal pun tidak cukup kuat untuk mengatasi pasir yang tersangkut. Sertifikasi tersebut tidak menghapus risiko yang muncul ketika kotoran terperangkap di celah mekanis. Pada ponsel biasa, partikel di bagian luar mungkin hanya mengganggu tampilan atau port; pada perangkat lipat, partikel di engsel dapat menghambat gerak dan mencegah bodi menutup sempurna. Untuk pemilik, konsekuensinya bukan hanya perlu lebih berhati-hati di lingkungan berpasir atau berdebu. Kotoran yang masuk juga menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan engsel setelah dibuka dan ditutup berkali-kali. Uji ekstrem bukan simulasi setiap hari, tetapi kelemahan yang terungkap menyentuh bagian inti desain, bukan aksesori tambahan.
Layar bagian dalam menjadi risiko mahal
Kegagalan kedua muncul dalam uji tekuk ke arah berlawanan. Rangka titanium tidak patah saat ditekan, tetapi panel AMOLED bagian dalam mengalami kerusakan permanen. Garis hijau vertikal muncul dan bertambah hingga layar sentuh berhenti merespons sepenuhnya. Dengan kata lain, rangka yang kuat tidak cukup jika lapisan layar fleksibel rusak ketika menerima tekanan ekstrem. Lapisan nano-texture dapat menyamarkan goresan secara visual, tetapi tetap rentan terhadap tekanan fisik benda tajam. Penggantian layar bagian dalam diperkirakan memerlukan Rp15,7 juta. Nilai itu membuat kerentanan layar lebih dari sekadar persoalan teknis: kerusakan dapat menjadi beban nyata bagi pemilik. Nelson menyebut kebanyakan ponsel lipat generasi terbaru yang pernah ia uji mampu melewati rangkaian tes serupa, sementara iPhone Duo menunjukkan kerentanan yang lazim pada perangkat lipat generasi pertama. Ini menjadi peringatan bahwa durabilitas ponsel lipat Apple masih perlu dibuktikan dalam pemakaian jangka panjang.
Calon pembeli perlu menimbang risiko
Waktu pengujian ini membuat temuan tersebut relevan bagi calon pembeli. iPhone Duo mulai memasuki masa prapesan pada 23 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB dan dijadwalkan tersedia di pasar pada 30 Oktober 2026. Dengan demikian, informasi tentang engsel dan layar muncul saat konsumen sedang menilai apakah perangkat generasi pertama ini layak dipilih. Uji ketahanan ekstrem tidak membuktikan bahwa setiap unit akan rusak dalam pemakaian normal. Namun, hasilnya menunjukkan titik risiko yang masuk akal untuk dipertimbangkan: partikel kecil dapat mengganggu mekanisme lipat, sedangkan tekanan pada layar bagian dalam dapat berujung pada hilangnya fungsi sentuh. Sertifikasi IP68 dan rangka titanium tidak menghilangkan kerentanan komponen tersebut. Bagi Apple, tantangannya jelas: menyempurnakan perlindungan engsel dan ketahanan layar fleksibel tanpa mengorbankan bentuk lipat. Sampai ada bukti bahwa desain berikutnya mampu mengatasi kelemahan itu, iPhone Duo lebih tepat dipandang sebagai langkah awal yang menjanjikan, tetapi belum meyakinkan dalam urusan daya tahan.






