Pelatihan AI perlu berujung pada karya dan pembelajaran
Pelatihan AI guru adalah program pengembangan keterampilan yang mengajarkan pendidik memakai kecerdasan buatan untuk merancang dan menghasilkan karya digital, lalu menerapkan prosesnya dalam pembelajaran vokasi. Di Jawa Timur, arah itu tampak dalam dua jalur: produksi film dan animasi oleh 50 guru SMK, serta pelatihan lanjutan pembuatan gim berbasis AI bagi 15 guru terpilih. Keduanya lebih berarti jika tidak berhenti pada penguasaan aplikasi, tetapi berlanjut menjadi praktik kelas dan karya siswa. Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama Boke Technology menggelar pelatihan film dan animasi selama dua bulan, Agustus hingga Oktober 2026; sebelumnya, 50 guru juga menjalani pelatihan daring selama 20 hari dan mengerjakan proyek AI. Program ini menjawab perubahan teknologi dan kebutuhan industri, tetapi ukuran keberhasilannya seharusnya bukan jumlah peserta semata. Yang penting ialah apakah guru dapat mengajarkan proses kreatif, mendorong siswa membuat karya, dan mengaitkannya dengan kompetensi kerja.

Film dan animasi menghubungkan teknologi dengan cerita lokal
Pelatihan film dan animasi berorientasi pada produksi karya yang dapat dilihat dan dinilai. Para guru berlatih menyusun prompt, membuat gambar dari teks, lalu mengembangkan gambar menjadi video. Karya akhir diminta mengangkat legenda atau sejarah daerah, sehingga teknologi menjadi sarana bercerita, bukan sekadar jalan pintas produksi. Sebanyak 15 karya terbaik memperoleh apresiasi dari Boke Technology. Salah satunya animasi tentang Reog Ponorogo karya Endy Bagus Setyawan Ramadhani, guru DKV SMKS PGRI 2 Ponorogo, yang meraih juara pertama. Pilihan tema itu menunjukkan nilai penting bagi pendidikan vokasi: siswa dapat memadukan keterampilan visual dengan pengetahuan budaya dan kemampuan menyampaikan cerita. Namun, guru juga perlu menjelaskan batas dan tantangan alat yang dipakai. Endy menyebut keterbatasan kredit aplikasi sebagai kendala, sehingga peserta harus mencari alternatif saat proses pembuatan gambar atau video terhenti.
Jalur gim menargetkan pengembangan kompetensi lanjutan
Jalur gim memiliki sasaran berbeda: memperdalam kemampuan yang sebelumnya baru diperkenalkan melalui proyek AI. Dindik Jawa Timur menyiapkan 15 guru SMK untuk mengikuti pelatihan lanjutan pembuatan gim berbasis AI di Shanghai, China, pada Januari 2027. Peserta dipilih dari 50 guru yang mengikuti pelatihan daring dan menghasilkan proyek; tahap lanjutan diawali pertemuan langsung di kantor Dindik Jatim, kemudian diteruskan secara daring sebelum keberangkatan. Guru SMKN 1 Banyuwangi Asih Setiani mengatakan proses membuat studio animasi yang sebelumnya dikerjakan manual dapat dibantu AI. Pengalaman itu membuka ruang untuk mengajarkan perencanaan gim dan pembuatan aset secara lebih praktis. Dibanding jalur film dan animasi yang menekankan hasil video bertema lokal, pelatihan gim menjanjikan eksplorasi proses kreatif yang lebih luas. Nilainya baru terasa apabila peserta terpilih berbagi pengetahuan di sekolah, bukan menjadi satu-satunya pihak yang menguasai keterampilan baru.
Dari karya guru ke keterampilan yang dipakai siswa
Perbandingan kedua jalur memperlihatkan dua hasil pendidikan yang saling melengkapi. Film dan animasi memberi guru target produksi yang jelas sekaligus mendorong pengangkatan legenda dan sejarah Jawa Timur. Pelatihan gim mengarahkan 15 peserta pada pendalaman pengembangan digital dan aset kreatif. Keduanya dapat memperkaya pengajaran DKV, animasi, serta keterampilan kreatif lain, tetapi penerapannya perlu melampaui demonstrasi alat. Imron Hari Budisetyo, guru DKV dan Informatika SMKN 1 Takeran, berencana mengajarkan penyusunan prompt kepada siswa untuk membuat iklan produk dan mendukung kreativitas serta kewirausahaan. Contoh itu memperlihatkan manfaat praktis yang dekat dengan kebutuhan siswa: mengemas produk menjadi konten menarik. Sekolah juga perlu menyiapkan ruang praktik dan mengajak lebih banyak siswa mencoba, sebab pengenalan film, fotografi, dan animasi AI di sekolah Imron saat ini masih berlangsung melalui ekstrakurikuler yang diikuti sekitar 11–12 siswa.
Pada akhirnya, pelatihan ini layak dinilai dari seberapa jauh pengetahuan guru berpindah ke ruang kelas. Apresiasi bagi 15 karya terbaik dan kesempatan belajar lanjutan di China memberi dorongan, tetapi bukan tujuan akhir. Jalur film dan animasi sudah mempertemukan keterampilan digital dengan cerita daerah; jalur gim berpotensi memperluas pemahaman guru tentang produksi interaktif. Agar investasi waktu dan pembelajaran itu berdampak, guru perlu mengajarkan bukan hanya cara menekan tombol atau menulis prompt, melainkan juga cara merancang cerita, menilai hasil, mengatasi keterbatasan alat, dan membuat karya yang punya tujuan. Jika pengetahuan tersebut dibagikan dan dipraktikkan bersama siswa, AI dapat menjadi bagian bermakna dari pendidikan vokasi, bukan sekadar tren pelatihan.






