Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Guru SMK Memakai AI untuk Membuat Media Pembelajaran

Guru SMK Memakai AI untuk Membuat Media Pembelajaran
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

AI sebagai alat kerja guru, bukan pengganti

AI untuk guru adalah teknologi yang membantu merancang materi, media, dan evaluasi pembelajaran, sementara guru tetap bertanggung jawab memeriksa akurasi serta kesesuaiannya dengan kebutuhan siswa. Prinsip ini penting ketika kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang praktik sekolah kejuruan: manfaatnya bukan pada kebaruan alat, melainkan pada kemampuan guru mengubahnya menjadi pembelajaran yang lebih terarah. Pada 2 Oktober 2026, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya melatih 60 guru SMKN 5 Kota Malang menggunakan AI untuk mendukung pembelajaran vokasi. Sepekan kemudian, pada 10 Oktober, SMK Diponegoro Lebaksiu di Kabupaten Tegal menggelar lokakarya pembuatan media dan video pembelajaran bagi 25 guru, dengan Zaenul Arif, dosen Universitas Harkat Negeri, sebagai narasumber. Kedua kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan AI guru mulai bergerak dari pengenalan teknologi menuju penerapan yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

Dari prompt dan evaluasi ke media visual

Pelatihan Filkom UB berfokus pada keterampilan menyusun instruksi yang tepat, membuat materi ajar interaktif, dan mengembangkan instrumen evaluasi berbasis AI. Guru berlatih merumuskan prompt, mencari gagasan untuk materi, mengubah draf menjadi salindia, serta membuat soal pilihan ganda untuk ranah mengingat dan memahami. Arah ini menjawab kebutuhan perencanaan pembelajaran sekaligus membantu mengurangi beban administratif tanpa menyerahkan keputusan pedagogis kepada mesin. Di Lebaksiu, titik beratnya lebih visual dan kreatif. Peserta menggunakan ChatGPT untuk mengembangkan ide, menyusun materi dan naskah, serta merancang storyboard; Canva AI membantu desain, sedangkan Google Flow dikenalkan untuk mengembangkan adegan video berbasis AI. Media pembelajaran AI yang dihasilkan berpeluang membuat konsep vokasi lebih mudah dilihat dan dipahami. Perbedaan fokus ini saling melengkapi: satu memperkuat rancangan dan evaluasi, yang lain memperkaya cara materi disampaikan.

Hasil pelatihan perlu dibaca dengan cermat

Pelatihan Filkom UB mencatat rata-rata jawaban benar naik dari 69,93 persen pada tes awal menjadi 83,16 persen pada tes akhir, atau meningkat 13,23 poin persentase. Itu sinyal bahwa pelatihan praktis dapat menambah pemahaman guru, termasuk tentang prompt engineering dan risiko halusinasi AI. Namun, hasil tersebut tidak boleh dibaca sebagai bukti final keberhasilan jangka panjang: tes awal diikuti 60 orang, sedangkan tes akhir hanya 43 orang karena kendala alokasi waktu. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah keterampilan itu benar-benar dipakai dalam kelas. Guru bisa menyusun materi dan soal lebih cepat, atau membuat visual dan video untuk menjelaskan prosedur kerja. Tetapi AI dapat menghasilkan informasi keliru atau tidak sesuai kurikulum. Karena itu, pemeriksaan fakta, perlindungan data, dan penyesuaian dengan karakter siswa harus menjadi bagian dari proses, bukan pekerjaan tambahan yang boleh dilewatkan.

Penerapan di kelas menentukan nilai AI

Kedua pelatihan memberi gambaran yang lebih berguna daripada sekadar mengenalkan aplikasi: AI di sekolah bernilai jika guru mampu memilih alat sesuai tujuan belajar. Penyusunan prompt dan soal cocok untuk merancang pembelajaran serta memeriksa pemahaman; desain visual dan video dapat membantu menerangkan materi yang lebih mudah dipahami lewat contoh konkret. Sekolah juga perlu memberi ruang bagi guru untuk mencoba, meninjau hasil, lalu memperbaikinya berdasarkan respons siswa. Harapan penyelenggara di Malang adalah agar guru semakin terampil memakai AI secara bijak dan profesional. Di Lebaksiu, sekolah berharap guru mengembangkan media inovatif dan menerapkan keterampilan lokakarya dalam kegiatan belajar mengajar. Kedua tujuan itu tepat, tetapi perlu ditopang praktik berkelanjutan dan evaluasi di kelas. Kesimpulannya, pelatihan AI bukan garis finis: keberhasilannya diukur dari pembelajaran yang lebih jelas, relevan, dan bertanggung jawab—dengan guru tetap memegang kendali.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!