Beli Lokal dan Pilihan BuSan: Gerakan Kolektif agar UMKM Tidak Kalah di Era Digital
Program Beli Lokal dan Pilihan BuSan adalah inisiatif kolaboratif antara e-commerce platform lokal Tokopedia, discovery commerce TikTok Shop, dan Kementerian Perdagangan yang bertujuan mengkurasi, mempromosikan, serta memperluas jangkauan produk UMKM lokal digital ke pasar online yang lebih luas melalui konten, pelatihan, dan akses pasar terarah. Kolaborasi ini bukan kegiatan seremonial, melainkan langkah strategis untuk memastikan UMKM tidak hanya hadir di dunia digital, tetapi juga punya daya saing. Tokopedia dan TikTok Shop menjadi platform digital pertama yang menampilkan Pilihan BuSan, produk yang telah dikurasi langsung oleh Kemendag melalui inisiatif program Beli Lokal. Artinya, negara dan platform swasta mulai bergerak seirama: UMKM yang layak dibantu naik kelas, bukan dibiarkan bersaing sendirian di tengah banjir produk.
Solo Sebagai Laboratorium Digital: 200 UMKM dan Data yang Tidak Bisa Diabaikan
Peluncuran Beli Lokal dan Pilihan BuSan melalui acara #WaktunyaSTARt #JualanNyaman di Solo pada 21 September 2026 mengikutsertakan 200 UMKM dari Solo dan sekitarnya. Ini bukan kebetulan, melainkan pilihan politik ekonomi yang jelas. Di Solo, UMKM berkontribusi 57% terhadap PDRB kota dan menyerap 36% tenaga kerja lokal. Dengan kata lain, jika UMKM di kota ini gagal beradaptasi ke ranah digital, dampaknya bukan hanya pada pelaku usaha, tetapi juga pada ketahanan ekonomi kota. Menariknya, melalui ekosistem program Beli Lokal, penjual Tokopedia dan TikTok Shop di Solo mencatat peningkatan pesanan sebesar 57 persen, menunjukkan bahwa digitalisasi yang terarah bisa berbuah angka, bukan sekadar slogan. Data seperti ini menjadi argumen kuat mengapa kota lain seharusnya mendorong skema serupa.
Discovery Commerce: Dari Menunggu Pembeli ke Produk yang Aktif Mencari Pasar
Kekuatan utama kolaborasi Tokopedia TikTok Shop UMKM ini terletak pada ekosistem discovery commerce yang dibangun. Stephanie Susilo menjelaskan bahwa discovery commerce adalah cara baru bagi UMKM untuk menjajakan produk dan mendapatkan permintaan melalui konten video kreatif: produk tidak lagi menunggu pembeli, tetapi aktif mendekati calon konsumen melalui feed, live, dan video pendek. Hasilnya terasa: secara nasional, pesanan melalui LIVE dan video pendek masing-masing tumbuh 59 persen dan 135 persen, sementara pesanan dari affiliate creator meningkat 170 persen. Ini menunjukkan bahwa konten dan kolaborasi kreator bukan aksesoris, melainkan kanal penjualan yang nyata. Di titik ini, UMKM yang menolak belajar konten dan digital marketing berpotensi tertinggal, meski produknya bagus.
Kurasinya Ketat, Aksesnya Luas: Dari Pilihan BuSan ke Peluang Ekspor
Program Pilihan BuSan menempatkan kualitas sebagai pintu masuk. Produk UMKM yang memenuhi standar dan lolos kurasi Kemendag membuka peluang mendapat fasilitasi lanjutan, termasuk akses ke pasar ekspor. Di sini, platform digital berperan sebagai etalase pertama, sementara Kemendag menjadi penghubung ke ajang perdagangan internasional seperti Trade Expo Indonesia yang digelar setiap Oktober. Budi Santoso menegaskan bahwa banyak produk UMKM sudah berkualitas, tetapi akses pasar yang terbatas membuat mereka sulit naik kelas; digitalisasi memudahkan produk tersebut ditemukan konsumen. Program Beli Lokal dan Pilihan BuSan menjawab celah ini: UMKM tidak hanya diajak membuka toko online, tetapi juga diberi jalur kurasi, promosi, dan jembatan menuju pembeli dari luar negeri. Inilah bentuk nyata e-commerce platform lokal dipakai sebagai tangga, bukan tujuan akhir.
Pelatihan, Legalitas, dan Tantangan Berikutnya untuk UMKM Lokal Digital
Transformasi UMKM lokal digital tidak berhenti di upload produk. Dalam program #WaktunyaSTARt #JualanNyaman, para peserta mendapatkan pelatihan legalisasi usaha, pembuatan konten, dan affiliate marketing. Berbagai upaya ini menunjukkan bahwa legalitas, keterampilan digital, konten menarik, dan kolaborasi dengan kreator membantu penjual lokal membangun usaha yang lebih kuat melalui discovery commerce. Menurut Stephanie, fokus kebijakan kini bergeser dari sekadar mendorong UMKM masuk platform digital menjadi meningkatkan produktivitas dan daya saing melalui penguatan kapasitas dan perluasan pasar. Tantangan berikutnya jelas: bagaimana model seperti di Solo diperluas ke daerah lain tanpa mengorbankan kualitas kurasi dan pendampingan. Jika berhasil, inisiatif program Beli Lokal bisa menjadi standar baru bagaimana pemerintah dan platform bekerja bersama, bukan hanya untuk menambah jumlah seller, tetapi untuk menciptakan UMKM yang tahan guncangan pasar dan siap bersaing lintas batas.






