Satu inspirasi, tiga bahasa desain
Kolaborasi Magnum di panggung mode adalah peragaan bersama yang menerjemahkan karakter produk dan pengalaman sensoris ke dalam rancangan busana melalui visi kreatif beberapa label. Di Jakarta Fashion Week 2027, MAGNUM: Crafted for Pleasure mempertemukan Blanc Studio, Gelap Ruang Jiwa, dan Studio Jeje dalam satu runway eksklusif pada 30 Oktober 2026 di City Hall, Pondok Indah Mall 3. Yang membuat format ini menarik bukan sekadar hadirnya sebuah merek es krim di pekan mode, melainkan kesempatan melihat satu sumber inspirasi melahirkan tiga sikap desain yang kontras. Magnum mengangkat tekstur, sensasi renyah lapisan cokelat, dan warna varian rasa sebagai titik berangkat; tiap label kemudian mengolahnya dengan kosa kata visual sendiri. Hasilnya terasa lebih seperti dialog antardesainer daripada seragam kampanye, memberi tiap koleksi ruang untuk mempertahankan identitasnya.
Pilihan ini tepat: inspirasi yang sama tidak memaksa ketiga label menuju satu estetika. Sebaliknya, runway menjadi tempat untuk membandingkan bagaimana presisi, material, dan kenikmatan dapat diterjemahkan menjadi bentuk yang berbeda. Penonton memperoleh pengalaman yang lebih kaya karena alur peragaan bergerak di antara struktur tegas, objek organik, dan detail dekoratif.

Blanc Studio: minimalisme yang keluar jalur
Dalam koleksi Blanc Studio, TIME SLIP F/W 26, minimalisme bukan berarti garis aman atau tampilan yang tertahan. Label ini menantang batas minimalisme konvensional lewat siluet asimetris yang tegas, struktur tak terduga, serta eksperimen di antara seni dan mode. Pendekatan tersebut memberi kesan bahwa busana tidak hanya dibangun untuk menghasilkan bentuk yang rapi, tetapi juga untuk mengusik ekspektasi tentang proporsi dan konstruksi. Di antara tiga tafsir dalam kolaborasi ini, koleksi Blanc Studio tampak paling dekat dengan gagasan presisi: siluetnya kuat, tetapi tetap membuka ruang bagi ketidakteraturan yang disengaja. Itulah kekuatannya—minimalisme hadir sebagai bahasa aktif, bukan sebagai upaya mengurangi detail semata. Bagi penonton yang mencari bentuk kontemporer dengan struktur berani, koleksi Blanc Studio memberi pembuka yang tajam untuk membaca kolaborasi Magnum.
Keterkaitan dengan inspirasi Magnum terasa melalui perhatian pada tekstur dan detail, bukan lewat peniruan literal bentuk produk. Tommy Adiputra, direktur sekaligus desainer Blanc Studio, menyebut keselarasan visi tentang keterampilan berkarya dan inovasi sebagai alasan antusiasme labelnya terhadap kolaborasi ini. Pernyataan itu sejalan dengan rancangan yang memilih eksplorasi bentuk ketimbang ornamen berlebihan.
Gelap Ruang Jiwa: sensasi menjadi bentuk
Gelap Ruang Jiwa membawa suasana yang lebih tak terduga melalui Riuh Dalam Senyap, sebuah eksplorasi avant-garde yang memadukan perhiasan pahatan, bentuk organik, dan material nonkonvensional. Gagasan koleksi ini berangkat dari pengalaman inderawi saat menikmati Magnum: bunyi renyah gigitan pertama, pola retak lapisan cokelat, lalu es krim yang perlahan meleleh. Runa, direktur sekaligus desainer label, mengubah urutan sensasi tersebut menjadi pertemuan antara struktur tegas dan kelembutan. Alih-alih menerjemahkan es krim secara harfiah ke pakaian, koleksi ini menangkap perubahan dan kontras yang dirasakan tubuh. Hasilnya, Riuh Dalam Senyap memberi sisi paling konseptual pada runway: material dan perhiasan bukan pelengkap, tetapi bagian dari cerita. Pendekatan ini menegaskan bahwa pengalaman sensoris dapat diolah menjadi busana tanpa kehilangan kompleksitasnya.
Kontras menjadi daya tarik utamanya. Bentuk yang terasa organik berhadapan dengan struktur yang tegas, sementara material tak biasa memberi koleksi ini karakter avant-garde yang berbeda dari ketajaman minimal Blanc Studio. Di sinilah Gelap Ruang Jiwa memperluas makna kolaborasi: tekstur tidak hanya dilihat, tetapi dibayangkan melalui bunyi, sentuhan, dan perubahan.

Studio Jeje: kerajinan yang terasa muda
Studio Jeje menutup spektrum desain dengan Garden of Earthly Delights, koleksi yang merayakan sulaman kompleks, palet warna ekspresif, dan detail kerajinan tangan. Label ini menafsirkan kembali keterampilan tradisional dengan sentuhan kontemporer, sehingga kekayaan pengerjaan tidak terasa terpaku pada masa lalu. Angelita Nurhadi, direktur sekaligus desainer Studio Jeje, menghubungkan inspirasi Magnum dengan siluet ekspresif, tekstur kaya, dan detail tak terduga. Hasilnya, pendekatan Studio Jeje JFW terasa paling playful di antara tiga label, tetapi tetap berpijak pada ketelitian pengerjaan. Kegembiraan berbusana dan kebebasan jiwa muda menjadi bagian dari konsep, bukan sekadar efek warna. Koleksi ini memberi penutup yang lebih dekoratif dan hangat setelah Blanc Studio yang struktural serta Gelap Ruang Jiwa yang konseptual.
Tiga pendekatan itu membuat format kolaborasi bekerja dengan baik: satu panggung, satu titik inspirasi, tetapi tidak ada satu bahasa visual yang mendominasi. Magnum menyediakan benang merah berupa craft dan pengalaman inderawi; para desainer menjawabnya dengan siluet asimetris, material eksperimental, atau sulaman ekspresif. Bagi tamu undangan, pengalaman tersebut berlanjut di VIP Lounge melalui Magnum Dipping Bar dan Magnum Stamping Experience, yang memungkinkan mereka memberi sentuhan personal pada es krim dengan desain dan pilihan topping terinspirasi rancangan ketiga label. Pada akhirnya, kekuatan peragaan ini terletak pada perbedaan yang dibiarkan terlihat. Kolaborasi Magnum bukan sekadar menyatukan tiga nama, melainkan menunjukkan bahwa satu gagasan dapat melahirkan tiga tafsir mode yang sama-sama punya karakter.






