New Mode: Ketika Fashion Show Jakarta Menjadi Laboratorium Gaya
Fashion Nation 2026 bertema New Mode adalah sebuah peragaan busana yang mengubah fashion show Jakarta menjadi laboratorium kreatif, di mana empat label menghadirkan koleksi dengan perspektif kuat yang menyeberang antara sporty, glamor sinematik, menswear sensual, dan eksplorasi era 80-an sebagai cara baru membaca gaya hidup urban kontemporer.
Diselenggarakan pada 25 September dalam rangka Fashion Nation 20th Edition, New Mode menegaskan bahwa mode bukan sekadar tren dadakan, tetapi bahasa sikap. Dengan menggandeng Ddrue, Studio Vian Heritage, Yosafat Dwi Kurniawan, dan Dibba, acara ini memilih jalur berani: menonjolkan perspektif, bukan sekadar pakaian. Di sini, koleksi New Mode terasa seperti dialog antara tubuh, identitas, dan memori budaya; sebuah pernyataan bahwa fashion yang relevan hari ini harus sanggup memadukan eksplorasi, kolaborasi, sekaligus kejujuran estetis.

Ddrue: Debut Sporty Eklektik dari Kolaborasi Dua Visi
Ddrue adalah argumen paling kuat bahwa kolaborasi bisa melahirkan bahasa mode baru, bukan sekadar kompromi dua ego. Brand lokal baru ini lahir dari pertemuan Dana Maulana (Danjyo Hiyoji) dan Dery Rizkianto (The Rizkianto), yang memutuskan membangun label tersendiri alih-alih sekadar kolab musiman. Nama ddrue—akronim Dana, Dery, Rue (jalan)—terasa tepat: ini jalan baru yang memadukan ekspresivitas siluet Danjyo Hiyoji dengan feminitas klasik dan glamor The Rizkianto.
Menyiapkan koleksi hanya dalam sekitar tiga minggu, hingga masih menjahit di backstage, memperlihatkan satu hal: urgensi energi kreatif mereka. Koleksi Spring/Summer 2027 terdiri dari 21 tampilan bernuansa streetwear modern dengan sentuhan flamboyan dan quirky, tetapi tetap wearable untuk masyarakat urban. Kerah kemeja dipindah ke depan, kerah pita besar hadir di palet netral, sementara fringe menjadi aksen utama pada rok multiwarna, bros seperti pompom raksasa, hingga jaket putih dengan rok terakota berekor ruffles yang tampak fashion-forward. Inilah sporty dalam versi New Mode: enerjik, eksentrik, tapi tetap relevan.

Studio Vian Heritage dan Yosafat: Glamor Sinematik dan Menswear Sensual
Jika Ddrue mengisi slot sporty, maka Studio Vian Heritage menghadirkan sisi glamor yang tenang dan sinematik. Bekerja sama dengan fotografer Ray Gracious, label ini menjadikan fotografi bukan sekadar latar, tetapi bagian dari narasi koleksi. Gaun-gaun klasik dengan elemen khas Tiongkok muncul dalam warna-warna redup, membuktikan bahwa glamor tidak harus berteriak. Pilihan palet yang jinak memberi ruang bagi pemakainya untuk bermain dengan perhiasan dan layering, menjadikan koleksi ini terasa seperti adegan film yang dapat disusun ulang oleh setiap tubuh.
Kontrasnya, Yosafat Dwi Kurniawan memilih menswear sebagai medium untuk membicarakan sensualitas dan pencarian jati diri. Terinspirasi film Arisan! 2, ia menerjemahkan escapism urban ke dalam kemeja santai, atasan tanpa lengan, celana kulot, dan dominasi warna biru sebagai simbol laut. Sensualitas hadir bukan lewat vulgaritas, melainkan detail cut-out dan motif grafis yang berangkat dari wastra. Koleksi ini terasa pragmatis—mudah dipadupadankan—namun sarat kontemplasi, terutama ketika sang desainer menyebutnya sebagai refleksi kegelisahan pribadi dan pencerahan yang ditemukan saat travelling. Di ranah New Mode, menswear Yosafat adalah ajakan: laki-laki pun berhak atas busana yang sensitif dan reflektif.
Dibba dan Era 80-an: Dramatis, Ekspresif, dan Anti-Nostalgia
Dibba memilih jalur paling teaterikal: menggali era 80-an, tetapi menolak jatuh menjadi nostalgia kosong. Di tangan Faisal Shah, bahu tegas, warna mencolok, dan gaun berpotongan seksi bukan sekadar kostum; tiap busana diperlakukan seperti karakter dengan kepribadian penuh. Kolaborasi dengan Purwarupa untuk detail tiga dimensi memperkaya struktur, membuat siluet-siluet glamor itu terasa seperti patung yang hidup di atas runway. Era 80-an—identik dengan glamor dramatis dan selebrasi pencapaian diri—diolah kembali untuk mendobrak gaya konservatif yang masih menghantui banyak ruang berpakaian hari ini.
Yang menarik, Dibba menegaskan bahwa koleksi ini bukan tentang hedonis; ini tentang keberanian memaknai diri tanpa batas. Fashion di sini diposisikan sebagai medium ekspresi yang tidak tunduk pada aturan sopan santun yang usang. Dalam konteks tema New Mode, pendekatan Dibba terasa seperti manifesto: jika identitas pribadi kompleks dan multi-layer, mengapa pakaian harus jinak? Runway pun berubah menjadi panggung perlawanan estetis, sekaligus undangan bagi publik urban untuk merayakan tubuh dan pencapaian mereka, sewarna dan sekeras yang mereka inginkan.

New Mode sebagai Cermin Urban: Untuk Siapa Fashion Nation Ini Penting?
Di balik lampu runway dan koleksi yang dramatis, New Mode hanyalah sia-sia jika tidak menyentuh kehidupan nyata. Empat label ini, dengan caranya masing-masing, berbicara langsung kepada masyarakat urban yang dinamis—mereka yang butuh busana mudah dipadupadankan, tetapi tetap bertenaga naratif. Koleksi Yosafat yang pragmatis, Ddrue yang relatable bagi urbanites, hingga gaun sinematik Studio Vian Heritage adalah respons terhadap kebutuhan gaya hidup yang bergerak cepat namun ingin tetap ekspresif.
Namun, kita juga perlu kritis. Waktu persiapan super singkat yang dialami Ddrue memperlihatkan betapa rapuhnya ruang kerja kreatif ketika diburu kalender acara. Pertanyaannya: apakah industri siap memberi ruang lebih manusiawi bagi desainer untuk bereksperimen? Meskipun begitu, Fashion Nation 2026 membuktikan satu hal penting: ketika fashion show Jakarta berani mengedepankan perspektif alih-alih sekadar kemewahan, publik mendapatkan sesuatu yang lebih berharga—panduan emosional untuk merumuskan identitas mereka di tengah hiruk pikuk kota. New Mode, pada akhirnya, bukan tentang tren baru, melainkan keberanian melihat diri sendiri dari sudut yang berbeda.






