Mode sebagai dialog, bukan sekadar tontonan
DEWI Luxe Market adalah rangkaian peragaan di Jakarta Fashion Week yang memakai busana untuk mempertemukan cerita budaya, kriya, dan perubahan gaya hidup dengan gagasan tentang perempuan masa kini. Dua persembahannya di JFW 2027 memperlihatkan bahwa runway dapat memuat lebih dari satu bahasa mode: akar tradisi dan alam hadir berdampingan dengan penafsiran baru tentang feminitas. BTN Presents: DEWI Luxe Market Culture / Nature menampilkan Sejauh Mata Memandang dan Oscar Lawalata Culture, sementara Future Femme mengangkat evolusi feminitas modern melalui Glashka, Natalia Kiantoro, dan Suedeson by Kimberly Tandra. Perbedaan fokus ini menjadi kekuatan, bukan pertentangan. Satu panggung mengajak penonton membaca kembali warisan dan kepedulian sosial; panggung lainnya menegaskan bahwa perempuan dapat bersikap lembut, tegas, praktis, dan anggun tanpa harus memilih satu sisi.

Culture / Nature menghidupkan cerita di balik tekstil
Pada Culture / Nature, Sejauh Mata Memandang membawa koleksi “RAUNG”, yang meminjam dualitas kucing—nyaman sekaligus tak terduga—sebagai cermin keresahan kolektif. Chitra Subyakto dan Felix Tjahjadi merangkai 29 tampilan dengan ilustrasi kucing karya seniman Bangkok O Terawat, pola geometris jalanan, serta kemunculan kembali motif Ayam Kincir. Tas kucing dari tenun, syal rajut tangan, dan busana daur ulang dengan teknik patchwork, origami, serta rajut tangan membuat kerja para perajin tampak sebagai bagian nyata dari gagasan koleksi, bukan hiasan belaka. Oscar Lawalata Culture, melalui Asha Smara Darra, beralih ke lurik: setelah 25 tahun menekuni tekstil tradisional, ia mengolah garis, struktur, lapisan, dan proporsi menjadi siluet kimono serta busana kontemporer. Keduanya menunjukkan bahwa tradisi tetap hidup ketika diberi ruang untuk berubah.

Future Femme menolak satu definisi perempuan
Future Femme menyusun visi feminitas modern lewat tiga pendekatan yang saling melengkapi. Glashka, dalam “Di Sini, Di Antara”, merancang busana sopan kontemporer yang inklusif dan dapat berpindah mulus di antara berbagai kesempatan; bordir tiga kelopak memberi lambang kehangatan, pengasuhan, sekaligus kekuatan. Kolaborasinya mengolah kain sisa menjadi sepatu, pilihan yang menghubungkan cerita ketangguhan dengan pemanfaatan material. Natalia Kiantoro justru menonjolkan tegangan: kelembutan berhadapan dengan kekuatan, sementara potongan tailoring yang presisi menyatukan struktur dan keluwesan. Suedeson by Kimberly Tandra menutup narasi lewat “Her Bloom”, koleksi tentang musim-musim kehidupan perempuan, dengan siluet mengalir, unsur botani, dan turquoise yang bertemu warna netral. Bersama-sama, ketiganya menyampaikan pesan yang lebih meyakinkan daripada gambaran feminitas tunggal: perempuan masa kini tidak perlu mengorbankan fungsi, karakter, atau keanggunan demi memenuhi satu cetakan.

Keragaman tema adalah capaian utama
Perbandingan kedua persembahan memperlihatkan keluasan tema JFW 2027 dengan jelas. Culture / Nature berangkat dari tekstil, keterampilan perajin, alam, dan kepekaan sosial; Future Femme memusatkan perhatian pada pilihan, ketahanan, dan kompleksitas hidup perempuan. Yang pertama mengingatkan bahwa warisan budaya bukan benda beku, sedangkan yang kedua menolak anggapan bahwa modernitas harus menghapus kelembutan atau tradisi. Ada perbedaan skala cerita, tetapi keduanya bertemu pada gagasan bahwa busana membawa makna di luar siluet: siapa yang membuatnya, nilai apa yang diusung, dan bagaimana ia digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah DEWI Luxe Market terasa paling menarik. Ia tidak memaksa satu definisi tentang mode masa kini, melainkan memberi ruang bagi narasi yang berbeda untuk berdampingan. Dua panggung ini membuktikan bahwa runway lebih bernilai ketika keberagaman gagasan tampil setara.







