Calla Lily: lembut, tetapi tegas
Koleksi JFW 2027 memperlihatkan bagaimana inspirasi alam dapat diterjemahkan menjadi busana dengan karakter berbeda, dari keanggunan yang terstruktur hingga pakaian aktif yang terhubung dengan laut dan kehidupan urban. Kolaborasi Memento antara Hian Tjen dan Josephine Anni menjadi salah satu pernyataan paling kuat: bunga Calla Lily bukan sekadar motif, melainkan gagasan tentang kelembutan yang bisa tampil penuh daya. Hian Tjen Calla Lily hadir melalui siluet tegas namun tetap mengalir anggun, dengan dominasi hitam, putih, dan abu-abu yang memberi kesan modern serta tak lekang waktu. Tekstur lipit, aksen kelopak tiga dimensi, rompi peplum berstruktur, dan atasan berkerah tinggi memperjelas ketelitian pengerjaan. Perpaduan keahlian couture Hian Tjen dan pendekatan ready-to-wear Josephine Anni membuat koleksi ini terasa istimewa tanpa mengorbankan kenyamanan sehari-hari. Inilah tafsir bunga yang lebih menarik daripada sekadar romantis: feminin, berkarakter, dan dapat dikenakan kembali.
ORIGINS membawa laut ke pakaian aktif
Jika Memento mengekspresikan kekuatan lewat konstruksi, Kelly Tandiono ORIGINS mengandalkan pertemuan alam dan kebutuhan gerak. Koleksi ini mengambil inspirasi dari filosofi laut dan kehidupan masyarakat Suku Bajo, lalu memadukannya dengan ritme kota yang lebih tegas. ORIGINS diperkenalkan di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Gagasan tersebut terasa paling meyakinkan ketika desain tidak berhenti sebagai cerita visual: busananya dirancang untuk running, functional workout, hingga swimming. Untuk kebutuhan lari, Kelly menghadirkan trail jacket dan celana pendek kuning dengan garis tegas yang memberi kesan sporty sekaligus modern. Pendekatan ini membuat sportswear terasa lebih terarah dan berkarakter, tanpa melepaskan fungsi. Di antara koleksi yang mengutamakan siluet couture, ORIGINS menawarkan kontras yang segar: pakaian untuk tubuh yang bergerak, dengan ambisi estetis yang tetap tinggi.

Leather dan floral menguji kontras
Koleksi Bloom Beneath the Surface menambahkan pendekatan ketiga melalui tren leather floral: mempertemukan permukaan tegas dengan detail bunga yang organik. Elizabeth membawa textured PU leather, material yang lekat dengan identitas tasnya, ke dalam busana bersiluet skulptural modern. Teknik laser-cut floral menjadi titik temu yang efektif, apalagi ketika detail bunga berpadu dengan tekstur knit, katun, dan kilau lembut satin. Hasilnya tidak bergantung pada motif ramai; daya tariknya justru muncul dari perbedaan rasa antarpermukaan. Palet stone, clay, dan olive memberi dasar alami, sementara deep burgundy, blush pink, serta dusty blue menambahkan aksen feminin yang lebih berani. Menurut saya, permainan ini paling berhasil saat material keras tidak menenggelamkan kelembutan floral, melainkan membuatnya lebih terbaca. Bersama Memento dan ORIGINS, koleksi ini menunjukkan bahwa inspirasi alam di panggung JFW tidak harus tampil literal: bentuk, tekstur, dan fungsi bisa menyampaikan cerita dengan cara yang lebih matang.






