Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pintu Tol Kedua Muba dan Taruhan Ekonomi Petani Lokal

Pintu Tol Kedua Muba dan Taruhan Ekonomi Petani Lokal
Minat|Asia Tenggara

Pintu tol Muba: peluang besar yang datang dengan syarat

Pintu tol kedua di Muba adalah akses baru yang dibangun di kawasan Simpang C3, Desa Bukit Jaya, untuk menghubungkan masyarakat sekitar dengan ruas Tol Betung–Tempino–Jambi dan diharapkan mempercepat mobilitas warga, barang, serta hasil pertanian di sepanjang koridor ekonomi Jalintim Palembang–Jambi.

Inti persoalannya: pintu tol Muba di Simpang C3 memang membuka peluang ekonomi baru, tetapi manfaatnya hanya akan terasa penuh jika pemerintah dan pengelola tol berani menempatkan petani dan pedagang lokal sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton. Secara fisik, proyek ini adalah bagian dari infrastruktur Tol Betung yang melintasi sekitar 131 kilometer wilayah Muba. Secara ekonomi, ia bisa mengubah pola distribusi barang, harga komoditas, dan arah arus manusia. Karena itu, sejak awal, kebijakan di sekitar pintu tol ini harus diarahkan untuk mempermudah akses produksi rakyat, bukan hanya kendaraan antarprovinsi yang melintas tanpa singgah.

Manfaat nyata bagi warga Sungai Lilin dan Tungkal Jaya

Bagi warga di sepanjang Jalintim, terutama Sungai Lilin dan sebagian Tungkal Jaya, pintu tol kedua ini adalah kabar baik yang sudah lama ditunggu. Selama ini, mereka bergantung pada jalur nasional yang padat dan rawan macet, sementara akses ke tol masih terasa jauh dan tidak praktis. Sekarang, dengan pintu tol Muba di Simpang C3 yang mulai dikerjakan, jarak psikologis dan fisik menuju jaringan tol menyempit.

Pernyataan seorang warga, Heri, yang menyebut akses ini "sangat membantu" karena mempermudah warga mengakses tol, menggambarkan harapan besar pengguna jalan lokal. Bagi pedagang, ini berarti waktu tempuh ke pasar-pasar besar bisa dipangkas. Bagi jasa transportasi, rute baru bisa dirancang lebih efisien. Namun, manfaat ini akan timpang jika hanya dinikmati kendaraan pribadi dan angkutan besar, sementara kendaraan pengangkut hasil kebun tetap terjebak di jalan rusak dan akses sempit menuju gerbang tol.

Jalan produksi petani: urat nadi yang terancam terputus

Di balik euforia pembangunan infrastruktur Tol Betung, kelompok tani di Berlian Makmur C2 mengingatkan risiko yang sering diabaikan: terputusnya jalan produksi petani. Mereka bukan menolak tol, tetapi menuntut jaminan bahwa akses ke kebun dan jalur angkut TBS sawit tetap terjaga. Kelompok Tani TPAK Mijil kembali memperjuangkan pembangunan overpass di STA 59+540 dan underpass atau box traffic di STA 2+575 sebagai solusi teknis agar aktivitas produksi tidak terhambat.

Fakta bahwa permohonan overpass, jalan protek, dan underpass telah diajukan sejak lama namun belum mendapat kepastian menunjukkan bahwa desain besar infrastruktur belum sepenuhnya berpihak pada ekonomi lokal. Jalan produksi petani bukan pelengkap, melainkan urat nadi yang menghubungkan kebun, pabrik, dan pasar. Tanpa kepastian akses, tol bisa mempercepat arus logistik nasional, tetapi memperlambat roda ekonomi keluarga petani plasma yang lahannya terpotong trase jalan bebas hambatan.

Mengapa keseimbangan infrastruktur dan akses lokal itu wajib

Pertemuan koordinasi antara kelompok tani, pemerintah kecamatan, dan pihak pengelola tol di Balai Desa Berlian Makmur C2 adalah sinyal bahwa ketegangan antara kepentingan nasional dan lokal sudah terasa. Di satu sisi, negara membutuhkan konektivitas antardaerah yang cepat. Di sisi lain, masyarakat menuntut kepastian bahwa pembangunan tidak memutus mata pencaharian. Ketika petani sampai mempertimbangkan aksi lanjutan jika tuntutan akses tidak dipenuhi, itu artinya komunikasi belum menghasilkan jaminan yang meyakinkan.

Keseimbangan ini seharusnya tidak dinegosiasikan belakangan, tetapi menjadi bagian dari desain awal infrastruktur Tol Betung. Jalan produksi petani dan akses ke kebun harus dipetakan setara pentingnya dengan rest area dan simpang susun. Tanpa itu, pintu tol Muba akan tampak megah dari kejauhan, tetapi menyisakan rasa terpinggirkan di desa-desa yang lahannya dikorbankan demi jalur cepat yang tidak mereka rasakan manfaatnya secara adil.

Kesimpulan: pintu tol kedua harus jadi pintu rezeki, bukan sekat baru

Pintu tol kedua di Muba berpotensi menjadi pintu rezeki baru bagi petani dan pedagang lokal, terutama di Sungai Lilin dan Tungkal Jaya, jika dirancang dengan logika ekonomi rakyat, bukan semata logika kecepatan kendaraan. Akses yang lebih dekat ke jaringan tol bisa memperluas pasar, menekan biaya logistik, dan menghidupkan simpul-simpul perdagangan baru di sekitar gerbang.

Namun, tanpa kepastian pembangunan overpass, underpass, dan jalan protek yang menjaga jalan produksi petani, infrastruktur Tol Betung berisiko menciptakan sekat baru antara desa dan pusat pertumbuhan. Jalan terbaik ke depan adalah komitmen tertulis dan terukur dari pemerintah dan pengelola tol untuk menuntaskan akses lokal bersamaan dengan rampungnya pintu tol Muba. Hanya dengan cara itu, tol tidak sekadar memotong jarak antarkota, tetapi juga menghubungkan lebih erat kebun, pasar, dan dapur keluarga petani.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!