Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Aksi Stop Stunting Menjangkau 3.060 Desa dan Kelurahan

Aksi Stop Stunting Menjangkau 3.060 Desa dan Kelurahan
Minat|Pengetahuan Parenting

Gerakan luas dengan pekerjaan yang dimulai dari keluarga

Aksi Stop Stunting adalah gerakan pencegahan yang mengerahkan kader dan layanan masyarakat untuk mendampingi keluarga, mengedukasi soal gizi, serta memantau pertumbuhan anak. TP PKK Sulawesi Selatan meluncurkan gerakan ini pada 3 November 2026 di Makassar, dengan sasaran 3.060 desa dan kelurahan di 24 kabupaten/kota. Skala tersebut penting karena pencegahan stunting tidak cukup bertumpu pada imbauan umum; keluarga perlu dijangkau di tempat mereka tinggal. Namun, luasnya cakupan adalah ukuran rencana, bukan bukti bahwa prevalensi telah turun. Nilai program PKK pada tahap ini akan bergantung pada konsistensi pendampingan, kesiapan kader, dan tindak lanjut atas kebutuhan keluarga yang ditemukan di lapangan.

Alasan untuk memperkuat upaya ini terlihat dari data Survei Status Gizi Indonesia 2024: prevalensi stunting Sulawesi Selatan tercatat 23,3 persen, menempatkan provinsi itu pada urutan ke-16 secara nasional. Angka tersebut menjadi latar yang mendesak, tetapi capaian program kelak tetap perlu dinilai dengan data hasil, bukan sekadar jumlah desa yang masuk sasaran.

Aksi Stop Stunting Menjangkau 3.060 Desa dan Kelurahan

Kader membawa pencegahan ke rumah warga

Pendekatan desa memberi gerakan ini jalur langsung menuju keluarga: kader PKK dan Posyandu diharapkan melakukan kunjungan rumah, edukasi dan konseling gizi, serta pendampingan mengenai pola asuh dan perilaku hidup bersih dan sehat. Bentuk kegiatan ini lebih konkret daripada kampanye satu arah karena memungkinkan percakapan dan pemantauan berlangsung dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sasaran langsungnya adalah keluarga, terutama dalam hal kesehatan ibu, kebutuhan gizi anak, pengasuhan, dan lingkungan yang sehat. Sumber program tidak menyebut hasil terukur dari kegiatan tersebut, sehingga kegiatan-kegiatan itu sebaiknya dipahami sebagai cara kerja yang direncanakan, bukan jaminan perubahan.

Agar pendampingan tidak berhenti pada kunjungan, kader memerlukan pembekalan tentang penggunaan aplikasi, pengisian formulir, serta pengukuran dan pemantauan pertumbuhan anak secara akurat. Ketepatan data merupakan bagian penting dari pendekatan ini: tanpa pencatatan yang baik, kebutuhan anak berisiko sulit dikenali dan ditindaklanjuti.

Cakupan perlu ditopang koordinasi dan pencatatan

Target 3.060 desa dan kelurahan menuntut koordinasi berlapis, bukan hanya mobilisasi kader. Ketua TP PKK Sulawesi Selatan, Naoemi Octarina Sudirman, meminta jajaran kabupaten/kota hingga kecamatan memperkuat koordinasi dalam mengawal kebijakan, anggaran, logistik, pemantauan pelaksanaan, dan capaian program. Pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, Posyandu, serta unsur masyarakat juga disebut perlu terlibat. Pembagian tanggung jawab seperti ini menentukan apakah temuan dari kunjungan rumah bisa tersambung dengan dukungan yang dibutuhkan keluarga.

Kendala jaringan internet di sejumlah wilayah sudah diantisipasi dengan opsi pendataan manual. Formulir dapat diisi lebih dulu, lalu dimasukkan ke sistem oleh petugas penanggung jawab yang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Pemerintah kabupaten/kota diharapkan memfasilitasi akses internet dan kebutuhan operasional kader. Fleksibilitas ini masuk akal, tetapi mutu data dan tindak lanjutnya tetap perlu dijaga agar pelaporan tidak menjadi tujuan tersendiri.

Ukur keberhasilan dari tindak lanjut, bukan jangkauan saja

Aksi Stop Stunting menawarkan kerangka pencegahan yang menjangkau desa sekaligus masuk ke ruang keluarga. Itu kekuatan utamanya: edukasi, konseling, kunjungan rumah, dan pemantauan pertumbuhan diserahkan kepada kader yang dekat dengan warga. Tetapi target wilayah hanya menjelaskan seberapa luas program direncanakan, belum menunjukkan berapa keluarga yang menerima pendampingan secara rutin atau bagaimana kondisi anak berubah.

Karena itu, ukuran berikutnya semestinya bukan hanya pelaksanaan di 24 kabupaten/kota, melainkan keteraturan kunjungan, ketepatan pencatatan, dan tindak lanjut atas kebutuhan yang teridentifikasi. Dengan tetap membedakan target dari hasil, gerakan ini dapat dinilai secara jujur dan diperbaiki berdasarkan pengalaman lapangan. Cakupan besar membuka peluang menjangkau keluarga; dampaknya baru dapat dipastikan melalui pemantauan yang konsisten.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!