AI di Sekolah: Dari Ancaman Menjadi Alat Kerja Guru
Pelatihan AI guru adalah proses sistematis untuk membekali pendidik dengan pemahaman, keterampilan, dan sikap guna menggunakan teknologi kecerdasan buatan dalam merancang, memodifikasi, dan menyampaikan konten pembelajaran digital yang lebih relevan, interaktif, dan berpihak pada kebutuhan belajar murid.
Kecerdasan buatan mengubah cara peserta didik menemukan informasi dan belajar, dan ini memaksa sekolah mengubah cara kerja di kelas. Di Bireuen, seminar nasional “Guru Mendidik dengan Cinta” yang digelar untuk Harlah ke-18 PGM mengajak 600 peserta—350 luring dan 250 daring—membahas langsung ancaman dan peluang AI bagi pendidikan. Pesannya tegas: di tengah banjir teknologi kecerdasan buatan sekolah, guru tidak boleh berhenti pada kemampuan mengoperasikan gawai. Tugas mereka justru menguat, memastikan murid tetap berpikir kritis, berkarakter, dan memegang nilai akhlak meski setiap jawaban tersedia di layar.
Di sini letak opini pentingnya: AI bukan pengganti guru, melainkan ujian kedewasaan profesi. Tanpa literasi digital pendidik yang kuat, kelas akan tergelincir menjadi sekadar ruang konsumsi konten, bukan ruang pembentukan nalar dan budi.

Dari Lirik ke Lagu: Eksperimen Konten Pembelajaran Digital di Banyuasin
Jika di Bireuen AI dibahas sebagai tantangan filosofis, di Banyuasin ia langsung diuji di ruang kelas. Program studi PGSD sebuah universitas mengadakan pelatihan dan pendampingan pembuatan lagu anak sebagai media pembelajaran kreatif bagi 20 guru SD di SDN 12 Rambutan. Fokusnya bukan teori, melainkan pelatihan AI guru yang sangat praktis: guru diminta memilih materi, menyusun lirik sederhana, lalu mengubahnya menjadi lagu dengan bantuan AI.
Di sini terlihat lompatan paradigma. Konten pembelajaran digital tidak lagi harus lahir dari studio musik atau vendor mahal; cukup dari kepala guru, selembar lirik, dan sebuah alat AI. “Awalnya kami mengira membuat lagu pembelajaran membutuhkan kemampuan musik,” ungkap seorang peserta, sebelum menyadari bahwa kunci utamanya adalah penguasaan materi dan keberanian bereksperimen. Lagu dipilih karena dekat dengan dunia anak, sehingga konsep sulit bisa dikemas menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mudah diingat.
Pelajaran politik pendidikannya jelas: ketika AI ditempatkan di tangan guru yang kreatif, ia menjadi alat demokratisasi media belajar, bukan ancaman homogenisasi konten.

Coding untuk Guru: Mengubah Guru dari Pengguna Menjadi Perancang
Di Sibolga, gerakan literasi digital pendidik naik satu tingkat: guru tidak hanya diajak memakai aplikasi, tapi belajar berpikir seperti perancang teknologi. PGRI kota berkolaborasi dengan dinas pendidikan dan kebudayaan untuk menggelar pelatihan coding dan Artificial Intelligence bagi guru se-kota. Ini bukan kegiatan seremonial; ini sinyal bahwa teknologi kecerdasan buatan sekolah mulai dianggap sebagai kompetensi inti, bukan tambahan.
Kepala dinas menegaskan bahwa guru hari ini dituntut menguasai materi sekaligus mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi peserta didik. Ketua PGRI mengingatkan, AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan saat ini, sehingga guru “tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi tetapi harus mampu menjadi pembelajar dan penggerak perubahan.” Coding untuk guru, dalam konteks ini, adalah latihan berpikir logis, sistematis, kreatif, dan terarah pada pemecahan masalah.
Implikasinya besar: guru yang paham coding dan AI literacy lebih mudah mengintegrasikan teknologi digital ke dalam metode pengajaran, dari simulasi sains hingga kuis adaptif, dan tidak bergantung penuh pada platform komersial.
Kolaborasi Sistemik: Saat Organisasi Guru dan Pemerintah Bergerak
Tiga kisah tadi menunjukkan pola yang sama: pelatihan AI guru tidak lahir dari inisiatif individual yang terisolasi, melainkan dari kolaborasi sistemik. Di Bireuen, pemerintah kabupaten menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan dan seminar, berdampingan dengan penguatan nilai agama dan budaya. Di Banyuasin, pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan perguruan tinggi bertemu dalam program pengabdian yang mendorong penggunaan AI untuk media pembelajaran kreatif, dengan harapan kegiatan serupa diperluas hingga wilayah perairan yang sulit dijangkau.
Di Sibolga, PGRI bekerja bersama dinas pendidikan dan dewan pendidikan dalam program prioritas yang memasukkan pelatihan coding dan AI ke agenda utama peningkatan kompetensi guru. Setelah pelatihan, peserta diminta menerapkan dan membagikan ilmu ke rekan sejawat, agar dampaknya tidak berhenti di satu ruangan. Ini bentuk nyata literasi digital pendidik sebagai gerakan, bukan tren sesaat.
Opininya: tanpa jaringan organisasi profesi, pemerintah, dan kampus, transformasi digital di sekolah akan tetap sporadis. Kolaborasi membuat pelatihan AI tidak berhenti sebagai proyek, tetapi menjadi bagian dari strategi jangka panjang mutu pendidikan.
Penutup: Menjaga Cinta Mengajar di Era AI
Dari aula Bireuen hingga kelas di Banyuasin dan laboratorium komputer di Sibolga, pesan yang mengemuka sama: AI harus menguatkan, bukan menghapus, kemanusiaan dalam pendidikan. Guru madrasah diingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, mereka tetap bertanggung jawab menjaga nalar kritis dan karakter murid. Pelatihan AI guru, coding untuk guru, dan eksperimen lagu berbasis AI hanyalah alat; orientasi utamanya tetap pada proses mendidik dengan perhatian dan empati.
Jika guru berhenti di level gawai, AI akan menjadi ancaman. Jika guru berani naik tangga literasi digital pendidik, AI dapat menjadi rekan kerja yang memperkaya materi, mempersonalisasi pengalaman belajar, dan menjembatani kesenjangan wilayah. Ke depan, tantangan nyata bukan lagi “apakah sekolah memakai AI”, melainkan “siapa yang memegang kendali atas AI di sekolah: algoritma atau guru”. Jawabannya sangat bergantung pada keberanian sistem untuk terus menginvestasikan waktu, energi, dan kebijakan pada pelatihan AI yang memanusiakan.






