Angka hemat yang mensyaratkan disiplin mengisi daya
DFSK E5 Plus adalah SUV plug-in hybrid yang memadukan motor listrik dan mesin bensin, sehingga dapat menempuh perjalanan harian dengan daya baterai dan tetap mengandalkan bahan bakar saat rute lebih jauh. Klaim biaya energi mulai Rp306.000 per bulan menarik, tetapi bukan angka yang berlaku untuk semua pemilik: simulasi PT Sokonindo Automobile memakai jarak 1.000 km per bulan dan mengasumsikan seluruh perjalanan ditopang listrik. Perhitungan tersebut dipaparkan Product Expert PT Sokonindo Automobile, Ihcsan Aria Putra, dalam Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026. Menurut saya, angka ini sebaiknya dibaca sebagai skenario paling ekonomis, bukan janji biaya tetap. Kunci penghematannya adalah rutinitas cas rumah mobil hybrid dan kecocokan jarak tempuh harian dengan jangkauan listrik.
Pada asumsi tarif listrik Rp1.700 per kWh dan konsumsi 0,18 kWh per km, perjalanan bulanan 1.000 km membutuhkan 180 kWh. Biaya listriknya Rp306.000, sementara biaya BBM tercatat Rp0. Itu setara sekitar 33 km sehari, sehingga simulasi paling masuk akal bagi pengguna yang rutin mengisi daya dan banyak berkendara di dalam kota. Jika harus sering menempuh rute lebih panjang tanpa sempat mengisi ulang, hasil nyata tentu bergeser ke skenario campuran atau bensin.

Simulasi campuran memperlihatkan biaya yang lebih realistis
Bagi pemilik yang tak selalu bisa mengandalkan listrik, skenario kedua memberi gambaran lebih berimbang. Dari total 1.000 km per bulan, simulasi menempatkan 700 km pada tenaga baterai dan 300 km pada kombinasi motor listrik serta mesin bensin. Bagian listrik mengonsumsi 126 kWh dengan tarif Rp1.700 per kWh, sehingga biayanya Rp214.200. Untuk 300 km, asumsi konsumsi BBM PHEV sebesar 18 km per liter menghasilkan kebutuhan sekitar 16,67 liter; dengan harga Rp12.500 per liter, biaya bensin sekitar Rp208.375. Totalnya Rp422.575 per bulan, atau sekitar Rp423 per km.
Selisih ini mengingatkan bahwa label plug-in hybrid saja tidak otomatis memangkas pengeluaran. Penghematan ditentukan oleh seberapa sering baterai diisi dan berapa banyak perjalanan yang bisa dijalani dengan listrik. Jika mobil lebih sering berjalan dengan dukungan mesin, biaya energi bergerak menjauh dari angka Rp306.000. Karena itu, calon pembeli sebaiknya mencocokkan simulasi dengan kebiasaan rute dan akses pengisian di rumah, bukan hanya terpikat angka terendah.
Tanpa pengisian eksternal, keunggulan biaya menyusut
Skenario ketiga paling jelas menunjukkan batas klaim hemat: tanpa pengisian daya eksternal, biaya energi diperkirakan Rp961.500 per bulan untuk 1.000 km. Hitungan memakai konsumsi 13 km per liter saat baterai kosong, kebutuhan sekitar 76,92 liter, dan harga BBM Rp12.500 per liter. Angka ini hampir tiga kali biaya pada skenario listrik penuh dan jauh di atas skenario campuran. Dengan demikian, biaya DFSK E5 Plus bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga kebiasaan pengisian yang perlu dipertahankan.
Sebagai SUV plug-in hybrid, E5 Plus menawarkan fleksibilitas yang tidak dimiliki mobil listrik murni: motor listrik dapat melayani perjalanan rutin, sedangkan mesin bensin 1.500 cc menjadi penopang ketika rute antarkota atau jauh dari stasiun pengisian. Baterai LFP berkapasitas 25 kWh diklaim memberi jarak listrik hingga 140 km menurut standar NEDC; dengan baterai dan tangki penuh, jarak gabungan diklaim mencapai 1.400 km. Angka uji dan klaim pabrikan bukan jaminan hasil harian, tetapi menjelaskan daya tarik PHEV: hemat untuk rutinitas yang cocok, lebih leluasa ketika perjalanan memanjang.
Kesimpulan: hitung pola pakai sebelum terpikat angka
Simulasi yang dibagikan PT Sokonindo Automobile di PEVS 2026 menegaskan bahwa potensi hemat E5 Plus bergantung pada pengisian rutin dan porsi perjalanan listrik. Pameran itu berlangsung di JIExpo Kemayoran pada 29 Oktober hingga 1 November 2026, memberi kesempatan bagi pengunjung melihat langsung kendaraan dan teknologi PHEV yang ditawarkan. Namun keputusan pembelian sebaiknya bertumpu pada pola perjalanan sendiri: apakah jarak harian mendekati asumsi 33 km, apakah pengisian di rumah praktis, dan seberapa sering perjalanan jauh dilakukan. Rp306.000 per bulan adalah hasil simulasi yang menguntungkan dengan syarat spesifik, bukan ongkos universal. Bagi pengguna yang rajin mengisi daya dan rutin berkendara dalam kota, E5 Plus berpotensi menekan biaya energi; tanpa kebiasaan itu, keunggulan ekonominya menyusut.






