AI yang Haus Air: Harga Tersembunyi dari Setiap Prompt
Konsumsi air data center untuk pendinginan infrastruktur AI adalah penggunaan air dalam skala besar yang terjadi setiap kali model kecerdasan buatan memproses jutaan instruksi, di mana panas yang dihasilkan ribuan chip menuntut sistem pendinginan berbasis air sehingga menimbulkan dampak lingkungan AI yang langsung bersaing dengan kebutuhan air minum dan irigasi manusia. Kita kagum pada jawaban cepat model seperti ChatGPT, tetapi jarang menyadari bahwa satu prompt “meminum” sekitar 50 ml air untuk menjaga suhu mesin tetap aman. Ketika jutaan interaksi berlangsung setiap hari, akumulasi konsumsi air operasional data center membengkak dan menjadikan air sebagai bahan bakar baru bagi ekonomi digital—namun dengan konsekuensi nyata bagi waduk, sawah, dan keran di rumah.

Jatiluhur: Krisis Air di Balik Ambisi Menjadi Kekuatan AI
Kasus krisis air Jatiluhur adalah peringatan keras bahwa ledakan infrastruktur AI tidak bisa dipisahkan dari risiko ekologis. Proyek Pusat Data AI Jatiluhur bernilai sekitar Rp3,5 triliun, dengan kapasitas awal hingga 120 MW dan potensi pengembangan hingga 640 MW. Pada akhir September, pembangunan pusat data AI di Jatiluhur dihentikan sementara oleh pemerintah daerah karena sejumlah persyaratan, termasuk AMDAL dan PBG, yang masih dalam proses. Di atas kertas, proyek ini menjanjikan posisi strategis di peta AI global dan membuka ruang pengembangan energi terbarukan. Namun di lapangan, laju investasi yang mendahului kajian lingkungan mengirim sinyal berbahaya: ambisi AI sedang melaju lebih cepat daripada perlindungan sumber daya air yang terbatas dan kepentingan warga sekitar waduk.
384 Liter per Detik: Ketika Data Center Menyaingi Irigasi Sawah
Angka konsumsi air data center di Jatiluhur menggambarkan betapa masifnya dampak lingkungan AI jika dibiarkan tanpa pengaman. Proyek AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Center yang berjarak sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur diperkirakan membutuhkan pasokan air pendingin hingga 384 liter per detik—sekitar 33 ribu meter kubik per hari atau lebih dari 12 juta meter kubik per tahun. Ekstraksi air skala besar ini menimbulkan kekhawatiran kritis karena waduk yang sama adalah pemasok utama irigasi bagi lumbung padi kawasan tersebut. Beban listrik proyek yang mencapai 5,6 TWh per tahun berpotensi meningkatkan pembakaran batu bara dan mengancam keandalan pasokan listrik bagi pelanggan rumah tangga, UMKM, dan industri. Dalam satu kalimat yang patut dikutip, “Satu data center berkapasitas 100 megawatt, dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air dalam satu hari, atau setara kebutuhan 6.500 rumah tangga,” tegas Prof. Agustino Zulys.
Antara Ekonomi Digital dan Air Bersih: Pilihan Sulit Pemerintah
Persoalan Jatiluhur menempatkan pemerintah dan industri di tengah benturan: bagaimana mengejar posisi sebagai pemain AI tanpa mengorbankan air, energi, dan kehidupan manusia. Institute for Essential Services Reform dalam rilis resmi mereka mendukung penghentian sementara pembangunan BDx Data Center di Jatiluhur dan mendesak segera diterbitkannya regulasi safeguard AI dan standar data center hijau. Mereka menuntut AMDAL, kajian sosial-lingkungan, serta kajian dampak terhadap keandalan pasokan dan akses listrik pelanggan PLN dibuka ke publik sebelum pembangunan berlanjut. Langkah ini penting agar investasi ekonomi digital berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya air, keandalan listrik, dan kepentingan masyarakat. Secara formal, pembangunan tetap bisa berlanjut bila seluruh syarat dipenuhi, tetapi secara moral pertanyaannya lebih tajam: siapa yang menanggung risiko bila waduk goyah dan petani kehilangan air?
Keberlanjutan Teknologi AI: Air, Data, dan Tanggung Jawab Jangka Panjang
Keberlanjutan teknologi AI tidak cukup diukur dari kecanggihan model atau besarnya investasi, tetapi dari cara ia menghormati air, energi, dan data sebagai sumber daya strategis. Tata kelola AI menyentuh kedaulatan data dan kebutuhan agar infrastruktur komputasi strategis tetap berada dalam kendali hukum dan kepentingan nasional, sehingga pengembangan dan penggunaan AI membangun kemandirian teknologi, bukan sekadar menjadi ladang ekstraksi sumber daya. Para pakar dan IESR mengajukan jalan keluar: penerapan teknologi pendinginan hemat air, pemanfaatan air daur ulang, serta kewajiban sistem pendingin tanpa air (waterless) atau sirkulasi tertutup (closed-loop) agar data center tidak memperebutkan sumber air minum dan irigasi pertanian. Bagaimanapun canggihnya inovasi AI, keberlanjutan sumber daya air bersih tetap merupakan kebutuhan pokok yang tak tergantikan bagi kelangsungan hidup manusia dan lingkungan. Jika ekosistem AI mengabaikan fakta itu, yang kita bangun bukan masa depan digital, melainkan krisis ekologis yang disponsori teknologi.






