Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sekolah Rakyat: Pendidikan Berbasis Komunitas yang Menguatkan Keluarga

Sekolah Rakyat: Pendidikan Berbasis Komunitas yang Menguatkan Keluarga
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Sekolah Rakyat Terintegrasi: Pendidikan Anak yang Melekat pada Pemberdayaan Keluarga

Sekolah Rakyat Terintegrasi adalah model pendidikan berbasis komunitas yang menyatukan proses belajar anak dengan program pendampingan dan pemberdayaan keluarga, melalui kolaborasi guru, pengasuh, pendamping sosial, serta orang tua untuk membentuk karakter, meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, dan menciptakan ekosistem belajar yang aman, setara, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik. Kunjungan dan diskusi Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani di SRT 1 Gresik di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, menegaskan bahwa pendidikan yang kuat di akar komunitas tidak mungkin hadir jika sekolah berdiri sendiri. Penguatan pola asuh komunitas, pendampingan siswa, hingga pemberdayaan keluarga dibahas secara terbuka sebagai satu paket kebijakan, bukan program terpisah. Sikap ini layak dibaca sebagai pergeseran paradigma: anak bukan objek bantuan individual, melainkan anggota keluarga yang perlu diangkat bersama lingkungannya. Konsep kesetaraan yang ditegaskan oleh Dinas Sosial—"anak-anak kita sekolahkan, rumahnya kita berdayakan, dan orang tuanya juga kita berdayakan"—menunjukkan bahwa sekolah rakyat terintegrasi bukan sekadar alternatif, tetapi kritik halus terhadap pendidikan formal yang sering meninggalkan keluarga di luar pintu kelas.

Pola Asuh Komunitas dan Kedisiplinan: Karakter Dibangun dari Hal Sederhana

Fokus kuat SRT 1 Gresik pada pola asuh komunitas dan kedisiplinan sering disalahpahami sebagai penekanan pada aturan semata. Padahal, pendekatan yang digambarkan Bupati Fandi Akhmad Yani lebih mirip latihan karakter yang membumi: disiplin waktu makan, kerapian menjaga barang pribadi, dan kebiasaan hidup tertib dikelola sebagai rutinitas sehari-hari, bukan retorika motivasi. Pada titik ini, sekolah rakyat terintegrasi mengambil posisi tegas: pendidikan karakter bukan modul tambahan, melainkan bagian dari struktur kehidupan asrama dan lingkungan belajar. Pola asuh disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, karena mereka datang dengan latar belakang dan kemampuan adaptasi yang berbeda. Ini menghindari jebakan pendekatan seragam yang sering terjadi di sekolah formal. Pentingnya kedisiplinan yang tumbuh dari kebiasaan kecil adalah pesan politis: negara dan pemerintah daerah tidak cukup bicara soal kurikulum; mereka harus peduli pada kualitas relasi sehari-hari antara anak, pengasuh, dan keluarga. Tanpa itu, pendidikan berbasis komunitas tinggal slogan.

Pemberdayaan Keluarga Pendidikan: Dari RTLH ke Ekosistem Dukungan Sosial

Dimensi paling menarik dari sekolah rakyat terintegrasi adalah bagaimana pendidikan anak dikaitkan langsung dengan pemberdayaan keluarga pendidikan. Pendampingan tidak berhenti di ruang kelas atau asrama; keluarga peserta didik dijadikan subjek program sosial, termasuk perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi yang memenuhi kriteria melalui usulan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Kebijakan ini punya implikasi praktis yang besar. Anak yang pulang ke rumah layak huni dan keluarga yang didampingi untuk menguatkan kapasitas ekonomi dan pengasuhan akan lebih siap memanfaatkan pendidikan. Tanpa intervensi semacam ini, sekolah sering menuntut prestasi dari anak yang bahkan tidak memiliki ruang belajar yang layak. Kolaborasi antara guru, pengasuh asrama, wali asuh, dan pendamping PKH menjadikan sekolah rakyat sebagai simpul koordinasi sosial di tingkat lokal. Pendidikan berbasis komunitas di sini bukan jargon; ia hadir sebagai mekanisme konkret untuk menghubungkan layanan sosial dengan kebutuhan keluarga murid. Inilah bentuk keterlibatan orang tua sekolah yang melampaui rapat bulanan: orang tua diposisikan sebagai mitra perubahan, bukan sekadar penerima laporan.

Tantangan Penguatan dan Pelajaran bagi Model Pendidikan Berbasis Komunitas

Meski menjanjikan, penyelenggaraan SRT 1 Gresik belum bebas dari tantangan. Kebutuhan sumber daya pendamping, layanan kesehatan, dan sarana transportasi untuk peserta didik diakui masih perlu diperkuat. Pengakuan ini jujur dan penting: pendidikan berbasis komunitas tidak boleh dipromosikan seakan sempurna; ia adalah kerja panjang yang menuntut komitmen anggaran, kebijakan, dan kapasitas manusia. Di sisi lain, penguatan kelembagaan melalui diskusi terbuka bersama pengelola sekolah, pemerintah daerah, dan pendamping sosial menunjukkan bahwa model ini sedang dibangun secara reflektif, bukan sekadar program proyek. Keputusan untuk melakukan koordinasi rutin, membahas manajemen dan persoalan nyata, menandakan kesediaan pemerintah daerah untuk ikut memikul beban, bukan hanya memotret keberhasilan. Pelajarannya jelas: jika pemerintah daerah serius mendukung penguatan pola asuh komunitas, keterlibatan orang tua sekolah, dan pemberdayaan keluarga pendidikan, sekolah rakyat terintegrasi bisa menjadi rujukan bagaimana negara hadir secara wajar di tingkat komunitas—bukan dengan kampanye besar, melainkan dengan memperbaiki rumah, menemani anak, dan menguatkan keluarga. Tanpa kesinambungan dukungan ini, model yang progresif berisiko kembali menjadi cerita sukses yang cepat lewat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!