IORA sebagai Panggung Kepemimpinan Maritim dan Kepentingan Nasional
Indian Ocean Rim Association (IORA) adalah forum kerja sama negara-negara di tepi Samudra Hindia yang menjadi arena penting bagi diplomasi maritim regional, penguatan ketahanan energi, stabilitas kawasan, pengamanan jalur perdagangan, serta pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan melalui kerja sama ekonomi konkret lintas pemerintahan pusat dan daerah. Peran IORA kepemimpinan Indonesia tidak lagi cukup dipahami sebagai aktivitas diplomatik elitis; ia tengah bergeser menjadi instrumen nyata untuk menghubungkan politik luar negeri dengan kebutuhan pesisir dan kota-kota pelabuhan. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Santo Darmosumarto, menegaskan bahwa letak geografis di antara Samudra Hindia dan Pasifik adalah potensi besar yang hanya bernilai jika didukung diplomasi yang bekerja hingga ke tingkat lokal. Di sinilah tantangan strategis: apakah kepemimpinan di forum samudra hindia dapat diterjemahkan menjadi peluang investasi daerah pesisir dan kesejahteraan warga.
Sumatera Barat: Ambisi Menjadi Gerbang Forum Samudra Hindia
Langkah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengajukan diri sebagai tuan rumah Indian Ocean High-Level Forum 2027 adalah pernyataan politik luar negeri dari daerah, bukan sekadar agenda seremoni. Dengan tema “One Ocean, Boundless Opportunities — Satu Samudra, Peluang Tanpa Batas”, Gubernur Mahyeldi Ansharullah menegaskan bahwa posisi Sumbar di pantai barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia adalah modal untuk masuk ke jejaring strategis kerja sama kawasan. Posisi ini menuntut keberanian: Sumbar ingin forum samudra hindia di daerahnya menjadi international platform yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, organisasi internasional, dan komunitas lokal untuk membahas tata kelola laut, ekonomi biru, keberlanjutan lingkungan, dan konektivitas maritim. Sikap ini patut diapresiasi, karena daerah tidak menunggu pusat, tetapi memaksa kepemimpinan IORA kepemimpinan Indonesia menyentuh pesisir Sumatera Barat, bukan berhenti di meja perundingan Jakarta.
Dialog China–Indonesia: Investasi Daerah Pesisir sebagai Ujung Tombak
Jika Sumbar mendorong diplomasi maritim regional dari pintu Samudra Hindia, Kota Kendari menunjukkan bagaimana kerja sama ekonomi IORA dan jejaring lain dapat dioperasionalkan melalui investasi daerah pesisir. Dalam China–Indonesia Dialogue on Local Government Cooperation di Yogyakarta, Wali Kota Siska Karina Imran memaparkan capaian pembangunan Kendari serta menawarkan pengembangan kawasan industri seluas kurang lebih 1.500 hektare kepada delegasi China. “IPM Kota Kendari di tahun 2026 meningkat menjadi 86,36, naik dari 85,97 pada 2024, dengan pertumbuhan ekonomi yang naik dari 4,81 persen menjadi 5,16 persen,” ujar Siska. Angka ini bukan sekadar kebanggaan statistik; ia menjadi argumen bahwa Kendari siap menerima investasi yang memperkuat perikanan, pariwisata bahari, dan kawasan ekonomi pesisir seperti Pantai Nambo dan Kebun Raya Kendari. Pilihan Kendari aktif di forum kerja sama pemerintah lokal menunjukkan bahwa diplomasi maritim tidak hanya milik pelabuhan besar, tetapi juga kota pesisir yang cerdas membaca potensi.

Menghubungkan Pusat–Daerah: Dari Strategi IORA ke Agenda Lokal
Kementerian Luar Negeri memaparkan bahwa diplomasi melalui IORA diprioritaskan untuk menjaga ketahanan energi, stabilitas kawasan, dan jalur perdagangan. Namun Santo Darmosumarto mengingatkan, diplomasi yang berhasil adalah diplomasi yang mampu menghubungkan potensi daerah dengan peluang internasional. Peluncuran Satuan Tugas IORA pada 10 Agustus menunjukkan kesadaran bahwa kebijakan tidak boleh berhenti di pusat. Di Sumbar, gagasan forum samudra hindia dijahit dengan potensi riset Universitas Andalas di bidang ekonomi biru, perikanan, pariwisata bahari, dan mitigasi bencana. Di Kendari, kerja sama lokal dengan mitra luar negeri mencakup investasi, pariwisata, ekonomi, hingga lingkungan, sambil menyiapkan kawasan industri sebagai “pintu masuk” investor ke kota pesisir. Jalur ini sejalan dengan ambisi Sumbar menjadikan forumnya sebagai ruang business matching, perdagangan, pengembangan pariwisata, pendidikan, budaya, dan konektivitas maritim. Polanya jelas: pusat menyiapkan kerangka diplomasi maritim regional, daerah menerjemahkannya menjadi proyek nyata.
Kesimpulan: Kepemimpinan IORA Harus Terukur di Pantai-Pantai Nusantara
Kepemimpinan di IORA hanya sah jika manfaatnya terasa di kota dan kampung pesisir. Usulan Sumatera Barat menjadi tuan rumah Indian Ocean High-Level Forum dan ambisi menjadikannya platform kolaborasi konkret adalah contoh bagaimana daerah menuntut bagian dalam diplomasi maritim regional. Di sisi lain, Kendari menunjukkan bahwa kota pesisir dapat memanfaatkan forum kerja sama lokal untuk menawarkan investasi strategis, sembari menguatkan indikator pembangunan dan ekonomi yang sehat. Bersama kerangka yang disusun Kementerian Luar Negeri melalui Satuan Tugas IORA dan agenda menjaga ketahanan energi serta jalur perdagangan, mosaik ini membentuk satu pesan: kerja sama ekonomi IORA harus memprioritaskan investasi daerah pesisir, ekonomi biru, dan konektivitas maritim. Tanpa keberpihakan pada pantai-pantai Nusantara, forum samudra hindia berisiko kembali menjadi ruang retorika. Dengan keberpihakan, ia bisa menjadi motor kesejahteraan baru.






