Dari Ekonomi Darat ke Ekonomi Biru: Paradigma yang Terlambat Berubah
Ekonomi biru adalah konsep pembangunan yang menempatkan laut, pesisir, dan kepulauan sebagai basis utama kegiatan ekonomi, mulai dari perikanan, pariwisata bahari, transportasi laut, energi, hingga bioteknologi, dengan tujuan menghasilkan pertumbuhan tinggi yang berkualitas, inklusif, serta berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya kelautan tanpa merusak ekosistem yang menjadi sumbernya. Inti persoalan hari ini bukan kekurangan potensi, melainkan kegagalan paradigma. Selama puluhan tahun, pembangunan lebih berorientasi daratan, seolah laut hanyalah halaman belakang dan pemisah antarpulau. Padahal wilayah laut mencapai sekitar 77 persen, dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sekitar 108.000 kilometer yang menjadikan negeri ini sesungguhnya sebuah “water world”. Prof. Rokhmin Dahuri menyerukan perubahan tegas menuju ocean and island based development, menjadikan laut sebagai halaman depan, penghubung, dan pemersatu, sekaligus fondasi utama ekonomi biru Indonesia.
Ekonomi Biru sebagai Mesin Pertumbuhan Menuju 2045
Seruan penguatan ekonomi biru Indonesia muncul pada momentum Hari Maritim Nasional, yang menurut Prof. Rokhmin tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Peringatan ini harus menjadi cermin untuk menjawab satu pertanyaan tajam: apakah pembangunan sudah sejalan dengan jati diri sebagai negara kepulauan terbesar di dunia? Jawabannya, hingga kini, belum. Sejak 2005, strategi pembangunan gagal mendorong pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 7 persen per tahun, belum berkualitas, belum menciptakan cukup lapangan kerja, dan belum inklusif serta berkelanjutan. Karena itu, menjelang satu abad kemerdekaan pada 2045, ekonomi biru ditawarkan bukan sebagai tambahan sektor, melainkan sebagai basis baru peta jalan Indonesia Emas. Laut dan kepulauan harus diposisikan sebagai sumber kesejahteraan rakyat dan daya saing bangsa yang dirancang ‘out of the box’, meninggalkan pola business as usual yang terjebak orientasi darat. Tanpa keberanian politik menggeser poros pembangunan ke laut, impian keluar dari middle-income trap akan tinggal slogan.

Sebelas Pilar Ekonomi Biru: Dari Perikanan hingga Bioteknologi
Kekuatan ekonomi biru tidak monolitik; ia tersusun dari setidaknya sebelas sektor yang saling terhubung: perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan dan seafood, industri bioteknologi kelautan, energi dan sumber daya mineral, pariwisata bahari, transportasi laut, industri dan jasa maritim, hutan pesisir seperti mangrove, sumber daya pulau-pulau kecil, serta berbagai sektor kelautan yang sedang berkembang. Sektor perikanan menjadi pintu masuk paling nyata, dengan potensi produksi akuakultur sekitar 100,06 juta ton per tahun sementara produksi pada 2025 baru sekitar 18,41 juta ton. Potensi tersebut hanya akan bermakna bila Indonesia beralih dari mengejar tonase menuju peningkatan nilai tambah melalui praktik budidaya terbaik dan rantai pasok terpadu dari hulu ke hilir. Demikian pula pariwisata bahari, yang memanfaatkan keindahan bawah laut dan garis pantai kelas dunia, harus dikembangkan secara berkelanjutan agar tidak merusak terumbu karang, hutan bakau, dan padang lamun yang menjadi rumah bagi ribuan spesies. Tanpa integrasi, nilai ekonomi lari ke investor besar, sementara masyarakat pesisir tetap di pinggir.
Pengembangan Maritim Berkelanjutan dan Kepemimpinan Global
Di tengah pergeseran dunia menuju ekonomi global berbasis kelautan, posisi geografis di antara dua samudra dan dua benua memberi peluang besar untuk menjadi pusat perdagangan, logistik, pelayaran, industri maritim, dan jasa kelautan dunia. Laut bukan hanya sumber pangan, tetapi juga energi, mineral, bahan baku farmasi, dan platform teknologi baru. Arus, gelombang, pasang surut, angin lepas pantai, serta bioenergi dari rumput laut dan mikroalga adalah sumber energi terbarukan yang belum tergarap optimal. Namun, ambisi kepemimpinan maritim global akan runtuh bila ekspansi ekonomi biru mengabaikan ekosistem. Prof. Rokhmin menegaskan pengembangan ekonomi biru harus menghasilkan pertumbuhan tinggi sekaligus berkualitas, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Caranya adalah mengembangkan kesebelas sektor dengan economy of scale, teknologi mutakhir termasuk AI, drone, bioteknologi, nanoteknologi, sistem rantai pasok terintegrasi, dan prinsip pembangunan berkelanjutan. Tantangannya jelas: mengubah potensi menjadi kemakmuran tanpa merusak sumbernya.
Kesimpulan: Menjadikan Laut Fondasi Negara, Bukan Komoditas Sesaat
Ekonomi biru Indonesia tidak boleh dipahami sebagai daftar proyek maritim yang tersebar, tetapi sebagai fondasi baru pembangunan nasional. Laut harus dilihat sebagai halaman depan dan perekat bangsa, bukan sekadar ruang eksploitasi sumber daya. Ini menuntut reorientasi menyeluruh: perencanaan, regulasi, investasi, riset, hingga pendidikan yang menempatkan sumber daya kelautan sebagai inti strategi jangka panjang. Pendekatan parsial—memperbaiki perikanan tanpa memperkuat industri pengolahan, menggenjot pariwisata bahari tanpa menjaga mangrove dan terumbu karang, atau mendorong industri maritim nasional tanpa transportasi laut yang efisien—hanya akan menghasilkan pertumbuhan rapuh. Jalan menuju Indonesia Emas bukan sekadar mengejar angka PDB, tetapi membangun ekonomi biru yang inklusif bagi masyarakat pesisir dan berakar pada pelestarian ekosistem laut. Jika laut dijadikan platform utama industri, sosial, budaya, politik, dan pertahanan-keamanan, maka kepemimpinan maritim global bukan lagi angan, melainkan konsekuensi logis.






