Kepedulian harus melampaui rasa prihatin
Solidaritas Palestina adalah komitmen kemanusiaan untuk mengubah kepedulian terhadap warga Palestina menjadi bantuan nyata, terarah, dan berkelanjutan, terutama bagi mereka yang paling rentan menghadapi krisis. Pesan itu disampaikan Ketua Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI, Trisna Ningsih Yuliati, dalam Forum Perempuan “Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina: Lukamu Berdenyut di Jantung Kami” di Jakarta pada 21 Oktober 2026. Seruannya penting karena rasa prihatin yang hanya muncul sesaat tidak cukup menjawab penderitaan yang terus berlangsung. Perhatian publik dapat memudar setelah sebuah acara atau gelombang berita berlalu; warga yang terdampak tidak lantas berhenti membutuhkan perlindungan. Karena itu, MUI Palestina perlu dipahami bukan sebagai seruan simbolis, melainkan ajakan agar empati diterjemahkan menjadi tanggung jawab bersama. Ukuran solidaritas bukan seberapa sering ia diucapkan, tetapi apakah dukungan dapat dirasakan dan terus berjalan.

Perempuan dan anak-anak menanggung beban krisis
Perempuan dan anak-anak Palestina menghadapi perjuangan berat di tengah krisis pangan, terbatasnya air bersih, minimnya layanan kesehatan dan tempat berlindung, serta akses pendidikan yang terputus. Di balik laporan dan angka, ada para ibu yang berusaha menjaga kehidupan anak-anak mereka dalam keadaan serba terbatas. Trisna juga menyoroti peran perempuan Palestina sebagai pendidik, penjaga keluarga, penggerak kemanusiaan, dan penopang harapan bagi generasi berikutnya. Gambaran ini seharusnya mengarahkan dukungan untuk Palestina kepada kebutuhan konkret, bukan berhenti pada pernyataan simpati. Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan, mendorong prioritas bagi keselamatan, tempat bernaung yang layak, layanan kesehatan bagi ibu hamil dan persalinan, pangan bergizi, air bersih, perlengkapan sanitasi, serta kebutuhan bayi. Bantuan yang mempertimbangkan kebutuhan tersebut lebih bermakna daripada dukungan yang tidak jelas sasaran atau kelanjutannya.
Dari forum menuju kerja bersama
Seruan MUI juga menuntut langkah setelah forum usai. Trisna mendorong organisasi perempuan, lembaga filantropi, lembaga zakat, dan jejaring internasional menghubungkan potensi serta membagi peran agar bergerak menuju tujuan yang sama. Kerja lintas lembaga dibutuhkan karena kebutuhan warga tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Namun, kemitraan harus disertai kepercayaan, program yang jelas, dan pertanggungjawaban: bantuan perlu sampai kepada penerima dan manfaatnya dapat diketahui. Harapan tindak lanjutnya adalah jejaring yang solid, pembagian peran yang terang, serta program yang dirasakan langsung oleh masyarakat Palestina. Inilah tolok ukur aksi kemanusiaan Palestina: bukan banyaknya dokumentasi kegiatan, melainkan kesinambungan bantuan dan dampak yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa rencana tindak lanjut, forum berisiko menjadi acara sesaat, sementara kebutuhan orang-orang yang dibicarakan tetap mendesak.
Konsistensi menjaga perhatian tetap hidup
Sekjen MUI mengajak masyarakat menjaga komitmen solidaritas dan tidak membiarkan warga Palestina berjuang sendirian. Ajakan ini perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan mendukung yang konsisten, bukan reaksi yang hanya muncul ketika perhatian publik sedang tinggi. Ketika dukungan berulang dan terarah, kebutuhan kelompok rentan tetap terlihat; ketika kepedulian berhenti pada satu momentum, mereka berisiko kembali tersisih dari perhatian. Konsistensi bukan berarti setiap orang harus melakukan hal yang sama. Masyarakat dapat mendukung melalui saluran kemanusiaan yang bertanggung jawab dan menaruh perhatian pada kebutuhan perempuan serta anak-anak. Bagi MUI, kepedulian juga berpijak pada nilai kasih sayang, saling menolong, keadilan, dan amanah, serta diarahkan pada keselamatan warga sipil. Solidaritas yang bertahan lama membantu menjaga isu tetap hadir dalam ruang publik sekaligus mendorong bantuan yang lebih tertata. Kesimpulannya, dukungan bermakna ketika komitmen tidak padam setelah seruan disampaikan, tetapi berlanjut menjadi tindakan yang dapat dirasakan.






