Pemerataan listrik 24 jam: dari jargon ke kebutuhan dasar
Pemerataan akses listrik 24 jam di daerah terpencil adalah upaya sistematis pemerintah dan PLN untuk memastikan setiap rumah tangga di wilayah perbatasan, kepulauan, dan pedalaman memperoleh pasokan listrik yang andal, berkelanjutan, dan terjangkau sehingga bisa menikmati layanan dasar, pendidikan, kesehatan, serta peluang ekonomi yang selama ini tertahan oleh ketiadaan energi.
Intinya, akses listrik daerah terpencil bukan lagi soal membangun jaringan semata, tetapi soal keadilan sosial. Selama ribuan keluarga masih menyalakan lampu minyak saat kota menikmati AC dan internet, pembangunan tetap timpang. Karena itu, percepatan elektrifikasi pedesaan harus dibaca sebagai koreksi terhadap model pembangunan lama yang lama mengabaikan pinggiran. Pilihannya jelas: menjadikan listrik 24 jam sebagai hak setiap warga, bukan privilese mereka yang tinggal di pusat ekonomi.
Kalimantan Utara: anggaran ratusan miliar, taruhan martabat warga perbatasan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mempercepat pemerataan akses listrik demi memperbaiki pelayanan dasar di perbatasan, pedalaman, dan wilayah yang sulit dijangkau. Masih ada sekitar 7.956 kepala keluarga dan 60 desa yang belum menikmati listrik secara layak. Angka ini bukan sekadar statistik; ini potret ribuan anak yang belajar dalam gelap dan pelaku usaha kecil yang tak bisa menyimpan produk dingin.
Menanggapi kondisi tersebut, gubernur menginstruksikan Dinas ESDM mempercepat penyelesaian masalah kelistrikan dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Hasilnya, dukungan program elektrifikasi senilai sekitar Rp471 miliar mengalir dalam tiga skema utama: perluasan jaringan di 62 titik, pembangunan PLTS komunal di 16 lokasi, dan Bantuan Pasang Baru Listrik untuk 3.600 rumah tangga. "Program perluasan jaringan listrik 2026 direncanakan menjangkau 74 desa di seluruh kabupaten dan kota Kalimantan Utara". Ini komitmen besar, tetapi juga ujian serius: mampu atau tidak pemerintah daerah memastikan data penerima tepat, perizinan tuntas, dan lokasi siap agar program tidak terhambat.
Pulau Beng Laut dan Bebalang: listrik 24 jam mengubah wajah kepulauan
Kisah paling konkret tentang arti listrik 24 jam kepulauan tampak di Pulau Beng Laut dan Pulau Bebalang. Dua pulau ini kini menikmati layanan listrik 24 jam penuh setelah sebelumnya hanya mendapat pasokan 6 hingga 12 jam per hari. Peresmian oleh bupati pada Rabu, 12 Agustus 2026, menandai titik balik bagi warga yang selama ini harus mengatur kegiatan berdasarkan bunyi mesin genset dan jadwal nyala lampu.
Bupati menegaskan, kehadiran listrik 24 jam mendukung penerangan rumah tangga, kegiatan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemerintahan kampung, komunikasi, hingga pengembangan usaha masyarakat. Pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan PLN berkomitmen memperkuat sinergi untuk meningkatkan layanan di wilayah yang masih mendapat pasokan terbatas. Delapan kampung lain di kepulauan ini — dari Bukide hingga Matutuang — menjadi prioritas lanjutan menuju layanan penuh 24 jam. Ini contoh bagaimana elektrifikasi pedesaan di pulau kecil hanya berhasil jika pemerintah daerah dan PLN pemerataan listrik bergerak sebagai satu tim, bukan proyek terpisah yang berjalan sendiri-sendiri.
Elektrifikasi pedesaan: manfaat nyata melampaui sekadar terang
Percepatan elektrifikasi pedesaan di perbatasan dan kepulauan membawa dampak yang jauh lebih luas dibanding sekadar menyalakan bohlam. Di Kalimantan Utara, pemerintah menegaskan bahwa perluasan akses listrik akan membuka peluang peningkatan aktivitas ekonomi, pelayanan pendidikan, layanan kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Di Sangihe, pemerintah daerah menilai ketersediaan listrik 24 jam sebagai fondasi penting agar anak-anak bisa belajar lebih nyaman dan pelayanan kesehatan berjalan lebih baik.
Dengan pasokan listrik yang andal, rumah tangga dapat menggunakan peralatan yang meningkatkan produktivitas, sekolah bisa mengoperasikan perangkat digital, puskesmas mampu menyimpan obat dan vaksin dengan aman, dan pelaku usaha kecil punya kesempatan mengembangkan usaha yang membutuhkan energi konstan. "Masyarakat memiliki peluang lebih besar mengembangkan usaha dan meningkatkan perekonomian keluarga". Jika desain program tepat, elektrifikasi bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi eskalator sosial yang mengangkat desa terpencil keluar dari lingkaran kemiskinan.
Dari proyek ke keadilan energi: apa yang harus dijaga ke depan
Rangkaian program di Kalimantan Utara dengan target penyelesaian bertahap dalam tiga tahun, termasuk pembangunan PLTS komunal di 11 titik untuk 15 desa dan jadwal pelaksanaan dari September 2026 hingga Juli 2027, menunjukkan bahwa pemerataan listrik 24 jam di daerah terpencil kini punya peta jalan yang lebih jelas. Namun keberhasilan tidak ditentukan oleh angka anggaran, melainkan disiplin eksekusi di lapangan.
Ke depan, ada beberapa prinsip yang perlu dijaga. Pertama, data penerima manfaat harus akurat agar tidak ada keluarga yang tertinggal. Kedua, teknologi seperti PLTS komunal harus dipandang sebagai bagian strategi jangka panjang, bukan solusi sementara. Ketiga, kolaborasi PLN dan pemerintah daerah tidak boleh berhenti di peresmian, tetapi mencakup pemeliharaan, peningkatan keandalan, dan perluasan ke desa yang belum tersentuh. Pemerataan akses listrik daerah terpencil pada akhirnya adalah soal keadilan energi: apakah negara sanggup memastikan bahwa jarak dari ibu kota tidak lagi menentukan terang atau gelapnya hidup sebuah desa.






