Ketika Tradisi Tak Lagi Menjadi Satu-satunya Acuan
Busana pengantin kontemporer adalah pakaian pernikahan yang menempatkan karakter dan pilihan pemakainya setara dengan tradisi, melalui bentuk, detail, serta cara gaun berubah sepanjang perayaan. Gagasan ini terasa kuat pada koleksi bridal 2027 Vivienne Westwood, yang mengutamakan individualitas, transformasi, dan romantisme tak konvensional alih-alih mengikuti satu pakem pengantin. Bagi rumah mode tersebut, gaun seharusnya terasa sepenuhnya milik orang yang mengenakannya. Sikap ini membuat ekspresi diri busana menjadi inti rancangan, bukan aksen tambahan. Koleksi ini merangkai rujukan sejarah dengan desain pemberontak, lalu memberi ruang bagi pemakainya untuk mengubah penampilan dari upacara hingga pesta. Hasilnya bukan penolakan terhadap romantisme, melainkan romantisme yang lebih pribadi: pengantin dapat memilih siluet dan suasana yang mencerminkan dirinya, tanpa harus menyeragamkan feminitas.

Siluet yang Berubah Bersama Pemakainya
Kekuatan koleksi Westwood terletak pada gagasan bahwa satu gaun dapat memiliki beberapa babak. Korset dramatis, garis menyerupai patung, renda rumit, ekor yang bisa dilepas, dan lapisan yang dapat diganti memberi pengantin pilihan untuk bergeser dari tampilan upacara ke suasana pesta. Koleksi Couture membawa ide metamorfosis itu ke dalam 11 tampilan yang dirancang untuk berubah sepanjang perayaan. Aurelia memadukan sulaman bunga merah muda dengan pannier tulle emas, sedangkan Daphne menyingkap gaun mini dan celana pendek serasi dari balik renda berlapis. Bahkan gaun mini yang ceria terasa penting: busana pengantin desainer tak harus selalu panjang atau khidmat agar tetap romantis. Karena setiap busana couture dibuat secara individual dengan tangan di atelier London, personalisasi hadir bukan hanya pada konsep, tetapi juga pada proses pengerjaannya.

Berpakaian sebagai Cara Bercerita
Di Jakarta Fashion Week 2027, The Story Of membawa ROMANTICIST sebagai pendekatan lain terhadap feminitas modern fashion: lebih bertumpu pada cerita pribadi daripada satu gambaran ideal tentang perempuan. Koleksi ini berangkat dari kisah, pengalaman, dan hal-hal yang ditemukan dalam keseharian, lalu menjadikan pakaian sebagai medium untuk bercerita. Creative Director sekaligus CEO The Story Of, Kukuh Zuttion, menyebut seni berpakaian sebagai sesuatu yang personal, tumbuh dari karakter, pengalaman, dan cara setiap individu mengekspresikan dirinya. Pernyataan itu memberi alasan kuat untuk melihat busana bukan sekadar hiasan atau penanda acara. Hubungan emosional antara perempuan dan apa yang ia pilih untuk dikenakan turut menentukan makna sebuah tampilan. Bersama eksplorasi Westwood, pendekatan ini menunjukkan bahwa romantisme dapat mengambil banyak bentuk. Feminitas tidak perlu dibatasi pada satu siluet klasik; ia dapat hadir lewat pilihan yang terasa paling sesuai bagi pemakainya.







