Bullying Bukan Sekadar Nakal: Dimulai dari Rumah
Pola asuh dan bullying merujuk pada hubungan langsung antara cara orang tua mendidik, mengawasi, dan berkomunikasi dengan anak, dengan kecenderungan anak melakukan atau mengalami perundungan dalam interaksi sehari-hari di rumah, sekolah, dan ruang digital. Di balik setiap kasus perundungan, hampir selalu ada jejak keluarga: pola asuh otoriter yang keras, pola permisif yang memanjakan, atau pengasuhan tanpa batasan dan pengawasan jelas. Perilaku bullying pada anak tidak muncul begitu saja; keluarga, pola asuh, kondisi psikologis anak, serta iklim sekolah saling berkaitan membentuk lingkungan yang mengizinkan atau menolak perundungan. Jika orang tua mengabaikan kaitan ini, mereka bukan hanya gagal mencegah perundungan anak, tetapi diam-diam ikut menyuburkan perilaku agresif anak yang dianggap sebagai bagian “normal” dari tumbuh kembang.

Pola Asuh Otoriter, Permisif, dan Kurang Pengawasan: Tiga Jalan Menuju Bullying
Pesan paling tegas dari psikolog sekolah Usfur Ridha adalah: pola asuh terlalu otoriter dan terlalu permisif sama-sama berbahaya bagi perkembangan anak. Anak yang setiap hari menyaksikan orang tua menyelesaikan konflik dengan bentakan, ancaman, atau kekerasan belajar bahwa kekerasan adalah cara sah untuk mendapatkan kontrol. Anak yang terbiasa melihat penyelesaian masalah dengan kekerasan dapat meniru pola tersebut dalam hubungan dengan teman sebaya. Di sisi lain, pengasuhan yang memanjakan tanpa batasan membuat anak sulit mengelola frustrasi, dan cenderung mencari pengakuan lewat cara yang merendahkan orang lain. Studi yang dirujuk bersama panduan American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa kurangnya pengawasan dan ketiadaan aturan perilaku jelas membuat anak menganggap menyakiti, mengucilkan, atau merendahkan teman sebagai hal biasa. Orang tua yang tidak mau repot menetapkan aturan sebenarnya sedang memberikan ruang luas bagi perilaku agresif anak.
Ketika Anak Jadi Korban: Mengapa Reaksi Emosional Orang Tua Memperburuk Keadaan
Begitu anak mengaku sebagai anak korban bullying, banyak orang tua terseret emosi: marah, panik, ingin segera mendatangi sekolah dan menuntut pelaku dihukum. Sikap ini tampak seperti bentuk cinta, tetapi dalam praktik malah menutup mulut anak. Psikolog Usfur Ridha mengingatkan, orang tua diminta tidak langsung bersikap emosional ketika anak menyampaikan dirinya menjadi korban bullying di sekolah maupun lingkungan pergaulan. Respons pertama orang tua menentukan apakah anak merasa aman untuk bercerita atau memilih bungkam di lain waktu. Menyalahkan anak dengan label “lemah” atau mempertanyakan apa kesalahan yang membuatnya dibully hanya mengirim pesan bahwa ia masalahnya sendiri. Lebih buruk lagi, mengajak anak “membalas” kekerasan menjadikan keluarga bagian dari mata rantai perundungan. Orang tua yang bereaksi reaktif sedang melampiaskan emosi, bukan melindungi anak.

Komunikasi Empatik: Senjata Utama Mencegah dan Menangani Perundungan Anak
Untuk mencegah perundungan anak, keluarga tidak cukup hanya melarang bullying; mereka harus menjadi ruang aman berbasis komunikasi orang tua anak yang hangat, terbuka, dan non-judgmental. Usfur Ridha menegaskan bahwa pencegahan bullying perlu dimulai dari rumah dengan pola komunikasi dan pengasuhan yang sehat. Sikap tidak menghakimi—tidak menyalahkan korban, tidak meremehkan cerita, tidak memaksa anak segera kuat—adalah kunci agar anak mau mengungkapkan pengalaman bullying. Asna Mardhiah menekankan pentingnya bonding: makan bersama, bepergian, atau berbincang santai agar anak nyaman bercerita tanpa merasa diinterogasi. Komunikasi seperti ini penting bukan hanya untuk kasus di sekolah, tetapi juga di ruang digital, tempat penghinaan dan pengucilan terjadi tanpa disadari orang dewasa. Tanpa bonding yang konsisten, orang tua mustahil mengetahui aktivitas anak dan terlalu terlambat saat perundungan sudah meninggalkan luka psikologis mendalam.
Kolaborasi Keluarga–Sekolah: Mengubah Iklim Sosial, Bukan Sekadar Menghukum Pelaku
Mengharapkan anak berhenti membully hanya dengan ceramah sesekali adalah ilusi. Faktor keluarga, kondisi psikologis anak, dan iklim sekolah saling terkait dalam menciptakan lingkungan bullying. Tanpa kerja sama, upaya satu pihak akan selalu bocor. Psikolog menekankan, sekolah dan keluarga perlu bekerja sama karena penanganan bullying tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak. Langkah berikutnya setelah orang tua mendengar cerita anak adalah mencari informasi secara tenang lalu membangun komunikasi dengan pihak sekolah untuk memahami persoalan secara utuh. Sekolah seharusnya tidak memandang bullying sebagai persoalan musiman, melainkan menjalankan pencegahan rutin melalui pendidikan empati, regulasi emosi, pendampingan, dan pengawasan area rawan perundungan. Tanpa sistem jelas dan konsekuensi konsisten, anak akan menganggap perbuatan menyakiti, mengucilkan, atau merendahkan orang lain tidak memiliki dampak hukum atau psikologis yang serius.
Kesimpulan: Orang Tua Ada di Pusat Solusi, Bukan Pinggir Masalah
Intinya tegas: pola asuh dan bullying bukan dua dunia terpisah, tetapi dua sisi dari koin yang sama. Orang tua yang keras, permisif, atau abai terhadap pengawasan sedang membuka pintu bagi perilaku agresif anak, sekaligus melemahkan ketahanan psikologis anak korban bullying. Sebaliknya, orang tua yang hadir dengan empati, komunikasi terbuka, dan ketenangan saat mendengar cerita anak memberi fondasi bagi pencegahan perundungan jangka panjang. Anak tidak hanya perlu hukuman bagi pelaku, ia membutuhkan orang dewasa yang sanggup mendengarkan, percaya pada ceritanya, dan bekerja sama dengan sekolah membenahi iklim sosial. Jika keluarga mau menerima peran sentral mereka—bukan menyerahkan semua pada guru atau aturan sekolah—maka peluang mencegah perundungan anak meningkat tajam. Melindungi anak dari bullying dimulai dari keberanian orang tua bercermin pada pola asuhnya sendiri.






