Kebersamaan adalah pengalaman, bukan sekadar agenda
Kedekatan ayah dan anak terbentuk ketika keduanya berbagi pengalaman, perhatian, dan percakapan yang membuat anak merasa dilihat, bukan hanya ditemani secara fisik. Riding bersama dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan ruang itu, tetapi nilainya terletak pada kebersamaan, bukan kendaraan atau jarak tempuh. Pada Minggu, 25 Oktober 2026, Wali Kota Solo Respati Ardi menyampaikan ajakan membangun kenangan baik dalam kegiatan Riding With Dad Vol.18 Solo. Acara bertema “No More Fatherless, Stronger Together!” itu sejalan dengan Gerakan Ayah Seneng Momong Anak Solo (GAS MAS), yang mendorong ayah mengasuh dan menyediakan waktu khusus untuk bermain serta beraktivitas bersama anak.
Riding bisa memberi ayah dan anak pengalaman yang kemudian dikenang dan diceritakan kembali. Namun, kegiatan bersama tak harus selalu berupa acara besar. Respati menggambarkan GAS MAS sebagai ajakan agar ayah meluangkan waktu setiap minggu untuk mengasuh dan bermain bersama anak. Gagasan ini kuat karena menawarkan sesuatu yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: waktu berkualitas keluarga yang direncanakan dan dijaga. Harapannya, pengalaman sederhana menjadi investasi bagi anak dan menginspirasi lebih banyak ayah untuk terlibat dalam pengasuhan.
Hadir utuh di tengah rasa takut tidak cukup
Kegiatan khusus dapat membuka pintu kedekatan, tetapi hubungan ayah dan anak juga dibangun dalam rutinitas kecil. Produser, sutradara, dan penulis naskah Muhadkly Acho berusaha mendampingi tumbuh kembang putrinya, Lana Keilila Senjani, yang berusia 8 tahun. Baginya, hadir utuh bukan sebatas berada di ruangan yang sama: ayah perlu memberi perhatian, mendengar, memahami, lalu merespons anak dengan fokus.
Acho bercerita bahwa ia dan Lana berimajinasi tentang ide makanan saat mengantar anak ke sekolah, sementara cerita karangan sebelum tidur menjadi kebiasaan mereka. Ia menyebut tiga kata untuk menggambarkan dirinya sebagai ayah: “takut kurang cukup”. Pengakuan itu mengingatkan bahwa peran ayah tidak selalu dijalani dengan rasa yakin tanpa cela. Yang lebih penting ialah kesediaan terus belajar, meminta maaf saat keliru, dan mendengar apa yang belum mudah diungkapkan anak. Perhatian seperti ini dapat tumbuh melalui aktivitas bersama anak yang sederhana dan sesuai dengan keseharian keluarga.

Janji, perhatian, dan cara tiap keluarga sendiri
Kesibukan kerja kerap menguji apakah waktu bersama benar-benar dianggap penting. Saat proyek bertabrakan dengan agenda keluarga yang sudah dijadwalkan, Acho berusaha bernegosiasi soal jadwal; jika tak memungkinkan, ia menerima bahwa proyek itu mungkin bukan untuknya. Ia ingin anak melihat bahwa janji dan komitmen patut dihargai. Sikap tersebut menunjukkan bahwa waktu berkualitas keluarga bukan hanya soal durasi, tetapi juga soal konsistensi dan teladan.
Acho juga menekankan pentingnya mendengar, sebab anak mungkin merasakan banyak hal yang belum mampu ia jelaskan dengan lancar. Ia menolak anggapan bahwa ayah cukup bertanggung jawab atas keuangan lalu menyerahkan pengasuhan kepada ibu; kehadiran fisik dan emosional ayah juga berarti bagi tumbuh kembang serta kesehatan mental anak. Meski demikian, tidak ada satu resep yang cocok bagi semua keluarga. Ada yang menemukan kebersamaan lewat riding, ada pula yang lebih dekat melalui obrolan, dongeng, jalan pagi, atau rutinitas lain. Intinya bukan meniru bentuk kegiatan, melainkan menyediakan perhatian dan waktu yang terasa nyata bagi anak.

Kenangan dibangun dari kesediaan untuk hadir
Riding With Dad dan cerita Acho sama-sama menggarisbawahi bahwa kedekatan ayah anak tidak lahir dari satu acara atau gestur besar. Kegiatan bersama memberi pengalaman untuk dibagi, sedangkan mendengar, menjaga komitmen, dan merespons dengan penuh perhatian membuat anak merasa aman dalam hubungan sehari-hari. Karena itu, ajakan Respati agar ayah menyediakan waktu rutin dan harapan agar kegiatan tersebut menginspirasi keterlibatan lebih luas patut dibaca sebagai awal, bukan ukuran tunggal keberhasilan mengasuh.
Setiap keluarga dapat memilih bentuk kebersamaan yang sesuai dengan usia anak, jadwal, dan keadaan mereka. Ayah tak harus selalu menciptakan acara istimewa; ia perlu hadir dengan perhatian yang utuh saat kesempatan datang. Ketika waktu bersama dijaga dan anak didengar, kenangan baik dapat tumbuh dari momen yang paling sederhana.






