Ayah Bukan Cuma Dompet Berjalan: Definisi Baru Peran Ayah
Peran ayah penting dalam tumbuh kembang anak adalah keterlibatan aktif ayah secara fisik, emosional, dan sosial sejak dini, bukan sekadar memenuhi kebutuhan finansial, sehingga anak merasa aman, dicintai, dan dihargai sebagai individu utuh dalam keluarga. Pandangan lama yang menempatkan ayah hanya sebagai pencari nafkah kini jelas ketinggalan zaman. Bagi anak Gen Z, ayah yang hanya pulang membawa uang tanpa membawa hati dianggap absen, meski fisiknya ada di rumah. Mereka menuntut ayah yang mau hadir di percakapan sehari-hari, mendengar curhat, dan berani membuka perasaan sendiri.
Studi yang dilakukan Center for Scholars & Storytellers di UCLA terhadap 1.500 remaja usia 10–24 tahun menunjukkan, kebutuhan nomor satu 57,7 persen responden adalah melihat ayah yang menunjukkan kasih sayang kepada anaknya. Anak ingin melihat ayah menikmati peran sebagai orang tua, merawat orang lain, berani meminta bantuan, serta mencari dukungan kesehatan mental ketika perlu. Ini sinyal keras: maskulinitas kaku digantikan figur ayah yang lembut namun tegas, kuat namun rentan. Generasi muda sedang mendefinisikan ulang apa artinya menjadi ayah dan laki-laki dewasa.

Gen Z Mengoreksi Maskulinitas Toksik: Kerentanan Ayah adalah Kekuatan
Selama puluhan tahun, banyak anak laki-laki tumbuh dengan pesan "laki-laki jangan menangis" dan "harus kuat". Pola ini bukan sekadar kalimat, tetapi kurikulum emosi yang mengajarkan anak laki-laki untuk memendam perasaan. Psikolog keluarga mengingatkan, emosi yang ditekan berisiko berubah menjadi kemarahan, agresi, kecanduan, dan kesulitan membangun hubungan sehat ketika dewasa. Di sinilah peran ayah penting: apakah ia ikut mempermalukan anak ketika menangis, atau justru mengajarkan bahwa sedih, malu, dan kecewa adalah bagian dari kemanusiaan.
Generasi muda saat ini ingin melihat ayah yang membicarakan perasaan mereka, bukan hanya menawarkan bantuan kaku pada tugas atau hobi. Pernyataan sederhana seperti, “Saya merasa sedikit stres tentang pekerjaan hari ini, jadi saya akan meluangkan waktu sejenak untuk bernapas”, memberi pesan bahwa kerentanan adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan. Ketika anak melihat ayah jatuh lalu bangkit lagi, mereka belajar ketahanan; ketika mereka hanya melihat sosok “pria tangguh” tanpa sisi rapuh, mereka belajar bahwa perasaan harus disembunyikan. Itu bukan pola asuh positif, itu resep hubungan ayah anak yang dingin dan berjarak.

Kesalahan Kecil, Dampak Besar: Retaknya Hubungan Ayah–Anak Laki-Laki
Banyak orang tua, terutama pada anak laki-laki, yakin bahwa mereka akan tumbuh sendiri tanpa butuh perhatian emosional besar. Anggapan ini bukan sekadar keliru, tetapi berbahaya. Sejumlah pakar parenting menilai banyak orang tua tanpa sadar melakukan kesalahan dalam pola asuh, yang pada akhirnya membuat hubungan dengan anak laki-laki menjadi renggang saat dewasa. Hubungan ayah anak tidak rusak tiba-tiba di usia 25; keretakannya biasanya dimulai dari kebiasaan kecil yang berulang sejak masa kanak-kanak.
Contohnya, mempermalukan anak saat menunjukkan perasaan, mengabaikan curhat mereka, atau membiarkan media sosial menjadi “guru utama” tentang arti menjadi laki-laki. Ketika orang tua lengah, konten dari figur publik yang mengagungkan kekuasaan, merendahkan perempuan, atau menormalisasi maskulinitas keliru bisa menjadi referensi utama anak. Ini bukan sekadar soal moral, tetapi soal identitas. Orang tua yang ingin mempertahankan kedekatan dengan putranya sampai dewasa perlu memulai pencegahan sejak dini: memvalidasi emosi, mengajarkan empati, dan aktif memberi narasi alternatif terhadap pesan negatif yang mereka temukan di dunia digital.

Pola Asuh Kolaboratif: Ayah dan Ibu Tidak Harus Sama, tapi Harus Kompak
Urusan pengasuhan sering ditempelkan hampir seluruhnya pada ibu, padahal tumbuh kembang anak juga dipengaruhi ayah, kakek, nenek, dan anggota keluarga lain. Menempatkan ayah hanya sebagai “pembantu” ibu dalam parenting adalah kesalahan struktural yang merugikan semua pihak. Parenting adalah teamwork: anak butuh lebih dari satu figur dewasa yang konsisten, dapat dipercaya, dan mampu memenuhi kebutuhan fisik serta emosionalnya.
Dokter spesialis anak Adhi Teguh Perma Iskandar menegaskan, ayah dan ibu tidak harus menerapkan pola asuh yang sama. Ada yang lebih permisif, ada yang lebih tegas; perbedaan gaya itu bukan masalah selama komunikasi keluarga terjalin baik dan saling mengisi. Yang penting bukan siapa yang paling benar, melainkan bagaimana keluarga menciptakan lingkungan yang konsisten, aman, dan nyaman bagi anak. Ini berlaku juga pada keluarga dengan orang tua tunggal: komunikasi dengan figur pendukung lain menjadi krusial. Pola asuh positif bukan berarti seragam, tetapi selaras; bukan berarti tanpa konflik, tetapi mampu membahasnya secara terbuka di depan anak tanpa saling menjatuhkan.

Menguatkan Komunikasi Keluarga: Jalan Tengah untuk Generasi Baru
Jika ada satu benang merah dari semua pandangan ahli, itu adalah pentingnya komunikasi keluarga yang hangat dan jujur. Anak Gen Z tidak mau lagi hidup dalam budaya “jangan banyak tanya” atau “ikuti saja perintah”. Mereka tumbuh di dunia yang penuh informasi, sehingga melarang tanpa menjelaskan hanya akan memperlebar jurang. Peran ayah penting di sini: hadir sebagai teman diskusi, bukan hakim tunggal; sebagai pendengar, bukan sekadar pemberi perintah.
Ketika anak laki-laki dan perempuan secara konsisten melihat ayah yang penuh kasih sayang, hadir secara emosional, dan bersedia mencari dukungan ketika butuh, mereka belajar bahwa kualitas tersebut normal dan patut dikagumi pada pria. Inilah investasi jangka panjang: pola asuh kolaboratif, komunikasi keluarga yang terbuka, dan hubungan ayah anak yang hangat akan melahirkan generasi dewasa yang lebih empatik, tahan banting, dan tidak takut pada perasaan mereka sendiri. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin anak tumbuh kuat tapi dingin, atau kuat karena tahu bahwa cinta dan kerentanan bukan musuh, melainkan rumah?






