Hadir secara emosional lebih penting daripada agenda besar
Kehadiran emosional orangtua adalah keterlibatan penuh saat bersama anak: memberi perhatian, mendengarkan, memahami, dan menanggapi kebutuhan mereka, bukan sekadar berada di ruangan yang sama. Gagasan ini penting di tengah jadwal orangtua yang sering padat. Nikita Willy menekankan bahwa keterlibatan emosional merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak dan membantu membangun kedekatan keluarga. Ia juga mengingatkan bahwa waktu berkualitas anak tidak harus berupa liburan atau kegiatan besar. Momen sederhana bisa berkesan ketika orangtua sungguh menyediakan perhatian. Nikita menyampaikan pandangannya dalam jumpa pers Moms Corner FamFest pada 29 Oktober 2026. Acara itu dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 11–13 Desember 2026, di ICE BSD, Tangerang Selatan. Intinya bukan mengejar kenangan yang tampak istimewa, melainkan membuat anak merasa didengar dan diperhatikan dalam keseharian.

Ritual kecil menjaga kedekatan saat waktu terbatas
Ketika waktu bersama terbatas, kedekatan orangtua anak lebih mungkin terjaga lewat perhatian yang konsisten daripada rencana besar yang jarang terlaksana. Paula Verhoeven, yang membagi waktu antara pekerjaan dan perannya sebagai ibu Kiano dan Kenzo, mencari cara agar anak tetap merasakan kepeduliannya. Ia memasak makanan sendiri lalu mengirimkannya ke tempat anak-anak berada, serta menyempatkan diri mengunjungi sekolah untuk melihat perkembangan mereka. Makan bersama, bermain, dan mendengarkan cerita sehari-hari juga menjadi pilihan untuk menciptakan waktu berkualitas. Semua itu bukan resep yang harus ditiru persis; yang penting, perhatian hadir dalam bentuk yang sesuai dengan kehidupan keluarga. Mengirim makanan dapat menjadi ungkapan kasih, tetapi percakapan tanpa gangguan juga bernilai. Orangtua bisa memilih satu kebiasaan yang realistis dan mengulanginya, agar anak merasakan bahwa hubungan mereka tidak hanya mendapat sisa waktu.

Ayah hadir untuk anak lewat perhatian dan teladan
Pembicaraan pengasuhan terlalu sering dibebankan kepada ibu, padahal ayah juga perlu mengambil peran aktif dalam membangun hubungan dengan anak. Pengalaman Muhadkly Acho menunjukkan bahwa ayah hadir untuk anak bukan perkara menyediakan banyak jam, melainkan memberi perhatian utuh saat ada kesempatan. Di tengah kesibukannya sebagai produser, sutradara, dan penulis naskah, Acho berusaha mendampingi Lana Keilila Senjani, putrinya yang berusia 8 tahun. Saat mengantar Lana ke sekolah, mereka berimajinasi bersama untuk menciptakan ide makanan. Acho juga mengarang cerita sebelum tidur, melibatkan Lana dalam kegiatan seperti mencuci mobil dan jalan pagi, bahkan mengajaknya melihat lokasi syuting. Rutinitas sederhana itu memberi ruang bagi percakapan dan pengalaman bersama. Namun, kehadiran juga berarti memberi contoh: ketika menyadari kebiasaan buruknya ditiru, Acho mengakuinya, meminta maaf, dan mengajak anak berubah bersama.
Acho juga berusaha menjaga komitmen pada agenda keluarga. Jika pekerjaan berbenturan dengan kegiatan yang sudah direncanakan, ia lebih dulu mencoba menegosiasikan jadwal; bila tak bisa, ia menerima bahwa proyek itu mungkin bukan untuknya. Sikap tersebut mengajarkan integritas melalui tindakan, bukan ceramah. Bagi orangtua yang waktunya sempit, pelajarannya jelas: hadir secara emosional memerlukan perhatian yang disengaja, kebiasaan yang bisa dipertahankan, dan kesediaan menepati janji. Anak mungkin tidak mengingat seberapa mewah sebuah kegiatan, tetapi mereka dapat merasakan apakah orangtuanya mendengarkan dan sungguh terlibat.

Kualitas kebersamaan perlu menjadi ukuran
Waktu bersama yang singkat bukan alasan untuk menyerah pada kedekatan, tetapi juga bukan sesuatu yang perlu dipoles seolah selalu cukup. Kehadiran emosional menuntut perhatian nyata: meletakkan gangguan sejenak, menanggapi cerita anak, dan menyediakan ritual yang bisa diandalkan. Orangtua dapat mulai dari hal sederhana—makan bersama, perjalanan ke sekolah, cerita sebelum tidur, atau menanyakan bagaimana hari anak berjalan. Pilih aktivitas yang cocok dengan usia dan rutinitas keluarga, lalu hadir sepenuhnya selama momen itu. Pengalaman Nikita, Paula, dan Acho memperlihatkan bahwa hubungan tidak dibangun hanya lewat durasi, melainkan melalui perhatian, konsistensi, dan teladan. Kesimpulannya, yang dibutuhkan anak bukan orangtua yang selalu punya waktu tanpa batas, tetapi orangtua yang berusaha hadir utuh ketika waktu itu tersedia.






