Peran Ayah Pengasuhan: Masa Emas Bukan Hanya Urusan Ibu
Keterlibatan ayah anak adalah tingkat kehadiran fisik, emosional, dan mental seorang ayah dalam pengasuhan sehari-hari, mulai dari memenuhi kebutuhan dasar, memberi stimulasi, hingga membangun hubungan penuh kasih yang konsisten selama masa emas perkembangan anak balita, ketika otak tumbuh pesat dan pengalaman awal akan membentuk kepribadian, emosi, serta cara anak memandang dunia seumur hidupnya.
Pesan kuncinya jelas: peran ayah pengasuhan sama pentingnya dengan ibu, terutama pada masa balita. Perwakilan BKKBN di Bali menegaskan bahwa ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi pendidik, pelindung, dan sumber kasih sayang bersama ibu dalam tumbuh kembang anak balita. Pandangan lama yang menyerahkan seluruh pengasuhan kepada ibu tidak hanya usang, tapi merugikan perkembangan anak. Ketika ayah hadir, anak belajar bahwa kasih sayang bukan monopoli satu orang tua. Ini bukan isu gaya hidup, melainkan soal keadilan bagi anak: apakah ia berhak atas figur ayah yang aktif, atau hanya bayangan lelah yang setiap hari pulang membawa uang.

Kenapa Keterlibatan Ayah Menentukan Perkembangan Anak Optimal
Balita berada di masa emas ketika perkembangan otak berlangsung sangat pesat; stimulasi dari kedua orang tua ikut menentukan masa depan anak. Pada titik ini, keterlibatan ayah anak bukan pelengkap, tapi prasyarat perkembangan anak optimal. Keterlibatan aktif ayah terbukti meningkatkan rasa percaya diri, kecerdasan emosional, dan prestasi anak. Kalimat itu seharusnya mengubah cara kita melihat sosok ayah: bukan satpam rumah, bukan ATM berjalan, melainkan salah satu arsitek utama karakter anak.
Usia balita adalah waktu ketika anak belajar mengelola emosi melalui respons orang dewasa di sekitarnya. Ayah yang memeluk ketika anak takut, menjelaskan ketika anak marah, dan mendengar ketika anak kecewa, sedang menanam fondasi regulasi emosi. Menariknya, BKKBN menekankan bahwa kualitas lebih penting dari durasi: menghabiskan 15 hingga 30 menit setiap hari tanpa gangguan gawai atau pekerjaan sudah bermakna besar bagi anak. Di tengah kesibukan, ini mematahkan alasan klasik “tidak punya waktu”; yang kurang sering kali bukan waktu, tetapi prioritas.
Dari Kebijakan ke Ruang Tamu: Menggeser Budaya dan Mendukung Ayah
Perubahan tidak cukup berhenti di seminar; ia harus masuk ke ruang tamu keluarga. BKKBN terus mengoptimalkan Bina Keluarga Balita (BKB) untuk mengedukasi orang tua, termasuk para ayah, tentang teknik stimulasi sesuai usia, pemenuhan gizi, hingga komunikasi efektif. Ini langkah penting untuk mengubah budaya yang menganggap pengasuhan sebagai urusan perempuan. Selain itu, dicanangkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang menaungi program Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GEMAS) dan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR). Program ini mengirim pesan simbolik yang kuat: hadir di momen pendidikan anak adalah tugas ayah dan ibu, bukan ibu saja.
Namun, program publik hanya titik awal. Keluarga harus berani merombak pembagian tugas: ayah belajar mengganti popok dan menidurkan, ibu berbagi ruang dalam pengambilan keputusan. Kolaborasi setara antara ayah dan ibu menciptakan rumah yang lebih harmonis dan memberi teladan kerja sama serta saling menghargai sejak dini. Kalau anak setiap hari melihat ayah dan ibu berbagi tugas, ia tumbuh dengan model hubungan yang sehat: laki-laki dan perempuan setara dalam kasih sayang dan tanggung jawab.
Ayah Tunggal Mengasuh: Perjuangan Sunyi yang Butuh Dukungan Nyata
Ketika kita bicara peran ayah pengasuhan, ada kelompok yang sering terlupakan: ayah tunggal mengasuh. Di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Tri Rama Dandi (27) menjalani hari-hari sebagai ayah sekaligus ibu bagi putranya yang berusia 19 bulan. Sejak berpisah dengan istrinya, ia menjadi satu-satunya orang yang merawat anak, tanpa keluarga yang membantu dan tanpa biaya untuk pengasuh. Di titik ini, teori tentang keterlibatan ayah anak berubah menjadi perjuangan konkret: bagaimana tetap hadir untuk anak sekaligus bertahan secara ekonomi.
Rama memilih bekerja sebagai pengemudi transportasi online karena jam kerjanya bisa diatur, memungkinkan ia pulang sewaktu-waktu untuk memberi makan, menidurkan, atau menenangkan anak. Sebelumnya, ketika berjualan ayam geprek dan selalu membawa anak hingga larut malam, ia melihat putranya kelelahan, lalu memutuskan mencari pekerjaan lebih fleksibel. Kini ia sengaja membatasi perjalanan maksimal sekitar empat kilometer dan lebih banyak mengambil pesanan antar makanan agar cepat kembali ke rumah. Perjuangannya menarik perhatian perusahaan aplikasi yang kemudian memberi bantuan kebutuhan bayi dan keringanan komisi. Ini bukti bahwa komunitas—termasuk dunia usaha—dapat dan seharusnya ikut menopang ayah tunggal mengasuh, bukan sekadar menonton dari jauh.
Kesimpulan: Ayah Adalah Mitra Aktif, Bukan Pemeran Cadangan
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita rela anak kehilangan separuh potensi dukungan yang bisa ia dapatkan? Perkembangan anak optimal lahir dari kombinasi kehadiran ibu dan keterlibatan ayah anak yang konsisten, bukan dari satu figur yang kelelahan menanggung semuanya. Nengah Surata menegaskan pentingnya mengubah pandangan tradisional yang menempatkan pengasuhan semata tugas ibu. Jika kita mengabaikan suara ini, kita bukan hanya tidak adil pada ibu, tetapi juga pada anak.
Kisah kebijakan penguatan peran ayah dan perjuangan Rama menunjukkan dua sisi mata uang yang sama: di atas kertas, peran ayah diakui; di lapangan, masih banyak ayah yang berjuang sendiri. Tugas berikutnya jelas: memperluas edukasi, memperbanyak komunitas pendukung ayah, memberi ruang kerja yang ramah keluarga, dan berhenti mengolok-olok ayah yang terlihat “kebapakan” di ruang publik. Masa emas anak terlalu singkat untuk dihabiskan tanpa sentuhan utuh seorang ayah. Yang dibutuhkan anak bukan ayah sempurna, melainkan ayah yang memilih untuk hadir—setiap hari, dengan sadar.






