Desa Sebagai Panggung Utama Pembangunan: Inti Strategi Mirza
Strategi pembangunan desa Lampung adalah pendekatan terpadu yang menjadikan desa sebagai pusat pembangunan ekonomi, sosial, dan spiritual melalui sinergi pemerintah, TNI, perguruan tinggi, serta pemberdayaan perempuan untuk melahirkan SDM daerah unggul yang mampu memimpin generasi emas di tingkat lokal. Pembangunan desa Lampung kini tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, melainkan panggung utama arah kebijakan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal. Melalui kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan TNI dalam program DesaKu Maju, desa diletakkan sebagai fokus pembangunan yang terarah dan terpadu. Ini bukan sekadar acara seremoni, melainkan reposisi politik pembangunan: negara hadir di desa secara nyata, dengan keamanan, pelayanan, dan pemberdayaan berjalan serentak. Pilihan ini berani sekaligus logis—karena akar kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan paling terasa di perdesaan.
Sinergi Pemerintah–TNI: Stabilitas Sebagai Prasyarat Kemajuan Desa
Penguatan sinergi pemerintah–TNI dalam pembangunan desa Lampung dimaterikan lewat Penandatanganan Kesepakatan Bersama Sinergi Pembangunan Daerah untuk mendukung Program DesaKu Maju yang digelar di Kantor Gubernur Lampung pada 21 Agustus. Di sini, TNI tidak mengambil alih peran sipil, melainkan bertindak sebagai pendukung, sementara pemerintah daerah tetap menjadi leading sector. Ini penting ditegaskan agar publik tidak curiga bahwa militarisasi ruang sipil tengah terjadi. Justru, kehadiran TNI di desa diposisikan untuk memperkuat stabilitas, memastikan kehadiran negara, dan menciptakan suasana kondusif bagi pembangunan. Di lapangan, sinergi ini menyentuh hal konkret: distribusi Pupuk Hayati Cair (PHC), penyediaan mesin bed dryer, hingga program pelatihan vokasi bagi warga usia produktif yang belum memiliki keterampilan kerja. Tanpa keamanan dan kepastian, semua program ekonomi desa hanya akan menjadi rencana di atas kertas.
Kolaborasi Perguruan Tinggi: Investasi Intelektual untuk SDM Daerah Unggul
Strategi berikutnya yang membedakan arah pembangunan desa Lampung adalah keberanian menempatkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis negara, bukan sekadar produsen ijazah. Dalam forum Rapat Kerja Nasional asosiasi perguruan tinggi swasta yang digelar di Mahan Agung pada 22 Agustus, Gubernur Mirza menegaskan bahwa pembangunan harus ditopang SDM daerah unggul, adaptif, dan siap menjawab kebutuhan dunia kerja di era transformasi. Ia mengingatkan, "PDRB yang tinggi belum tentu bisa memakmurkan masyarakat" karena kekayaan sumber daya alam tanpa SDM unggul hanya akan melahirkan daerah pemasok bahan mentah. Kolaborasi perguruan tinggi dituntut membumi: kurikulum yang terhubung dengan industri desa, riset yang menyasar hilirisasi komoditas pangan, hingga pengembangan teknologi sederhana tetapi tepat guna untuk menciptakan lapangan kerja berbasis desa.
Investasi Intelektual dan Spiritual: Satu Desa Satu Sarjana, Satu Hafiz
Paradigma kunci kebijakan Mirza–Jihan adalah bahwa manusia adalah infrastruktur terpenting dalam pembangunan. Itulah roh di balik strategi investasi intelektual dan spiritual: Program Satu Desa Satu Sarjana (STEM) dan Satu Desa Satu Hafiz Qur’an. Melalui skema ini, pemerintah provinsi memberikan beasiswa kepada 2.500 putra-putri terbaik desa, khususnya anak petani dan keluarga tidak mampu, untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics. Ini adalah strategi rural brain gain: menciptakan “aktor intelektual” di setiap desa yang mampu memecahkan persoalan lokal—dari teknologi pertanian presisi hingga efisiensi ekonomi kerakyatan. Secara spiritual, program hafiz menegaskan bahwa generasi emas yang diimpikan bukan hanya cerdas nalar, tetapi juga kuat karakter dan akhlak. Dengan investasi besar ini, pemerintah optimistis mampu mendorong kenaikan Indeks Pembangunan Manusia sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Perempuan dan IWAPI: Motor Pemberdayaan Ekonomi Lokal Berbasis Hilirisasi
Strategi pembangunan desa Lampung akan pincang bila hanya mengandalkan laki-laki. Di sinilah pentingnya agenda pemberdayaan perempuan ekonomi melalui kolaborasi pemerintah dengan IWAPI. Dalam Rakerda IV IWAPI Lampung bertema “Inovasi Pangan Lokal Go Digital” yang dibuka Gubernur pada 27 Agustus, perempuan didorong menjadi penggerak ekonomi daerah lewat hilirisasi komoditas pangan dan usaha berbasis teknologi digital. Gubernur menegaskan, banyak perempuan kini menduduki posisi strategis bukan karena jenis kelamin, tetapi karena kompetensi dan kerja keras. Data organisasi menunjukkan IWAPI telah berusia 50 tahun dengan lebih dari 40.000 anggota pengusaha perempuan di 38 provinsi dan 249 kabupaten/kota. Ini bukan kekuatan kecil. Dengan dukungan akses permodalan, termasuk skema pembiayaan berbunga hingga 0% bagi pelaku hilirisasi pangan, perempuan desa berpeluang menjadi ujung tombak UMKM, digitalisasi, dan penciptaan lapangan kerja lokal.
Menuju Generasi Emas Desa: Tantangan Implementasi dan Jalan ke Depan
Dirangkai bersama, pilar-pilar kebijakan ini membentuk kerangka besar: sinergi pemerintah TNI untuk stabilitas, kolaborasi perguruan tinggi untuk SDM daerah unggul, investasi intelektual dan spiritual untuk generasi emas desa, serta pemberdayaan perempuan ekonomi sebagai mesin hilirisasi dan UMKM. Semua itu bukan tanpa alasan. Lampung memiliki kekuatan besar pada sektor pangan—padi, jagung, singkong, kopi, kakao—tetapi masih lemah pada nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja lokal. Di sisi lain, penghapusan uang komite sekolah pada 2025 menjadi pijakan perluasan akses pendidikan. Pertanyaannya kini bukan apakah strateginya tepat, melainkan seberapa disiplin implementasinya. Kesepakatan sinergi desa dinyatakan sebagai langkah awal mempercepat program, kolaborasi perguruan tinggi diharapkan terus menguat, dan pemerintah mengajak orang tua, akademisi, hingga tokoh agama mengawal program generasi emas ini. Tanpa pengawasan publik, cita-cita desa maju bisa kembali redup menjadi slogan.






