Restorasi Ukiran Jepara: Diplomasi Budaya yang Berangkat dari Bengkel Kayu
Diplomasi budaya Indonesia adalah penggunaan warisan budaya, kerajinan tradisional, seni, dan situs bersejarah sebagai sarana membangun kepercayaan, pengaruh, dan kerja sama antarnegara melalui jalur non-militer dan non-ekonomi, sehingga identitas bangsa hadir di ruang internasional bukan hanya lewat pidato diplomatik, tetapi melalui karya, nilai, dan ingatan kolektif yang dirawat lintas generasi. Di Sarajevo, gagasan itu mengambil bentuk sangat konkret: tiga pengukir Jepara, Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo, berangkat pada 13 Oktober 2026 untuk merestorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di kawasan Otoka. Misi ini bukan sekadar proyek teknis, melainkan simbol bahwa kerajinan tradisional Jepara sanggup menjadi bahasa persahabatan lintas negara. Ketika ukiran jati dari pesisir Jawa kembali dirawat di jantung kota Eropa Timur, yang diperkuat adalah kepercayaan bahwa warisan bangsa layak duduk sejajar dengan narasi budaya global.

Warisan Bangsa sebagai Soft Power Budaya
Keberangkatan para pengukir Jepara ke Sarajevo berawal dari kunjungan Lestari Moerdijat ke Masjid Istiklal pada Februari 2026, dalam rangka memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Di sana, ia menemukan enam pilar berukir dari kayu jati yang rusak dan tak lagi bisa diselamatkan dengan penambalan. Alih-alih membiarkan simbol persahabatan itu pudar, ia menawarkan restorasi yang kemudian diterima pengelola masjid. Sikap ini menunjukkan cara kerja soft power budaya: bukan memaksakan pengaruh, melainkan menawarkan kepedulian dan keahlian. Ukiran di Masjid Istiklal sendiri adalah hadiah Presiden BJ Habibie dan dibuat oleh pengukir asal Jepara, meski identitasnya belum terlacak. "Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas," tegas Lestari.

Dari Jepara ke Paris: Jaringan Diplomasi Budaya yang Menguat
Restorasi warisan budaya di Sarajevo terjadi seiring penguatan diplomasi budaya Indonesia dengan negara-negara Eropa lain, termasuk Prancis. Kerja sama dengan Prancis mencakup peningkatan visibilitas budaya di sana, revitalisasi warisan dan situs budaya, perfilman dan industri budaya, serta kolaborasi museum, sastra, musik, dan penciptaan kontemporer. Menbud Fadli Zon, saat bertemu Menteri Kebudayaan Prancis Catherine Pégard di Paris pada 7 Oktober, memaparkan rencana konser musik, pameran mode tekstil tradisional dan kreativitas kontemporer, serta pameran seni rupa. Ini adalah bentuk lain dari soft power budaya: bukan mengirim komoditas, melainkan mengirim cerita dan estetika. Di sektor film, disiapkan Indonesia International Film Co-production Fund yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027 dengan dukungan teknis dari lembaga film Prancis, serta penguatan kehadiran dalam Festival Film Cannes pada 2028.

Pelestarian Warisan Internasional dan Pembangunan yang Berpihak pada Masyarakat
Diplomasi budaya Indonesia yang berangkat dari pelestarian warisan internasional tidak berhenti di Sarajevo. Di dalam negeri, kementerian terkait kembali menggandeng ALIPH Foundation setelah keberhasilan konservasi Masjid Wapauwe di Maluku pada 2025, untuk revitalisasi 10 proyek prioritas di delapan provinsi, mulai dari Rumah Tjong A Fie, Rumah Betang, kawasan Kota Tua dan Museum Bahari, hingga Candi Borobudur, desa adat, gua prasejarah, rumah vernakular, gereja, dan museum. Lestari Moerdijat menekankan bahwa diplomasi budaya melalui pelestarian warisan bangsa sejalan dengan prinsip pembangunan yang berpihak kepada masyarakat. Warisan budaya diperlakukan bukan sebagai benda mati, melainkan jejak peradaban yang harus dirawat agar generasi berikutnya mengenali akar identitasnya. Ketika ukir Jepara bisa hadir dan dirawat di Sarajevo, terbuka jalan untuk memperkenalkan warisan lain ke dunia melalui pelestarian yang konsisten.

Mengapa Kerajinan Lokal Layak Menjadi Duta Budaya Dunia
Restorasi ornamen kayu Masjid Istiklal oleh pengukir Jepara mengirim pesan yang lebih besar daripada sekadar perbaikan pilar jati. Ia menunjukkan bahwa kerajinan tradisional Jepara bukan hanya komoditas dekoratif, melainkan bahasa diplomasi budaya Indonesia yang halus namun efektif. Ketika negara memilih mengirim pengrajin, bukan konsultan citra, ia sedang mengatakan bahwa akar identitas penting dalam hubungan antarbangsa. Di saat yang sama, penguatan kerja sama budaya dengan Prancis melalui konser, pameran mode, dan seni rupa, serta program film bersama, memperluas spektrum soft power budaya dari bengkel ukir hingga layar lebar. Pelestarian warisan internasional, baik melalui restorasi ukiran di Sarajevo maupun konservasi situs bersejarah di berbagai daerah, memperlihatkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya soal beton dan jalan, tetapi juga tentang kemampuan merawat memori kolektif.






