Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Eceng Gondok dan Sampah Menahan Sungai, Warga Menanggung Dampaknya

Eceng Gondok dan Sampah Menahan Sungai, Warga Menanggung Dampaknya
Minat|Asia Tenggara

Sumbatan sungai, dua ancaman bagi warga

Sumbatan sungai adalah kumpulan tumbuhan atau material yang menghalangi aliran air dan mengganggu penggunaan sungai oleh warga, baik sebagai jalur perahu maupun sebagai saluran pembuangan air. Peristiwa di Bengawan Solo, Kalitidu, dan Sungai Rowo Remang, Tulungagung, menunjukkan bahwa sumbatan berbeda dapat menimbulkan risiko yang berbeda pula. Hamparan eceng gondok Bengawan Solo memenuhi permukaan sungai dan menyulitkan perahu warga Kalitidu bergerak. Di Rowo Remang, sampah pertanian dan bonggol bambu yang terbawa dari hulu tersangkut di beberapa titik, menahan aliran hingga air meluap. Perbedaan ini penting: gangguan eceng gondok tampak lebih langsung pada mobilitas harian, sedangkan sumbatan material besar dapat berubah menjadi persoalan keselamatan ketika hujan deras datang. Keduanya bukan sekadar pemandangan sungai yang kotor; keduanya menuntut penanganan yang sesuai dengan sumber dan dampaknya.

Di Kalitidu, perahu harus mencari jalan

Di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, hamparan eceng gondok menutupi sebagian besar permukaan Bengawan Solo. Rekaman warga bernama Subakir memperlihatkan seorang pengemudi perahu kayu kecil mendorong perahunya dengan galah panjang di antara tumbuhan yang rapat. Gambaran itu menjelaskan dampak yang sulit diukur hanya dari luas permukaan tertutup: perjalanan sungai menjadi lebih berat, dan aktivitas warga yang bergantung pada perahu ikut terganggu. Eceng gondok belum dilaporkan menyebabkan luapan di lokasi ini, tetapi pertumbuhan yang semakin rapat berpotensi menyulitkan pergerakan perahu dan memengaruhi kondisi perairan. Karena itu, menganggapnya sebatas gangguan visual akan keliru. Instansi berwenang perlu menilai penyebaran dan dampaknya, lalu menentukan langkah penanganan. Tanpa respons, beban navigasi yang kini terlihat pada satu perahu dapat terus mengganggu pemanfaatan sungai oleh masyarakat.

Di Tulungagung, sumbatan menahan air dan memicu luapan

Di Sungai Rowo Remang, persoalannya lebih mendesak karena material kiriman dari hulu bertemu hujan deras di kawasan Alas Kandung. Pada Jumat malam, 30 Oktober 2026, luapan merendam lima rumah di Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan. Sedikitnya dua titik sumbatan di desa itu menyebabkan luapan, sementara material juga tersangkut di jembatan dan bagian tengah sungai. Limbah pertanian berupa batang dan daun jagung kering, atau tebon, bercampur bonggol bambu ori berukuran besar; sampah yang lebih kecil kemudian menumpuk di belakang penghalang tersebut. Inilah pola yang membuat sumbatan Sungai Rowo Remang berbeda dari hamparan eceng gondok di Kalitidu: bukan hanya menghambat aktivitas, tetapi menahan aliran hingga air mencapai lahan pertanian dan permukiman. Kasus ini juga menunjukkan mengapa sampah sungai Tulungagung perlu ditangani dari hulu hingga titik-titik rawan tersangkut.

Pembersihan perlu diikuti pencegahan

BPBD, Forkopimcam Rejotangan, dan Balai Besar Wilayah Sungai mengerahkan personel serta ekskavator kecil untuk mengangkat material dari titik-titik sumbatan. Air kemudian surut dan akses jalan kembali normal. Tindakan darurat itu penting, tetapi membersihkan setelah luapan saja bukan strategi yang cukup: material berukuran besar yang kembali terbawa arus dapat menyumbat jembatan atau badan sungai lagi. Di Kalitidu, sumber masalahnya berbeda, sehingga respons juga perlu disesuaikan dengan penyebaran eceng gondok dan kebutuhan perahu warga. Kedua kejadian sama-sama menegaskan bahwa sungai perlu dipantau sebelum gangguan berkembang menjadi krisis. Kesimpulannya, eceng gondok menekan mobilitas warga, sedangkan sampah dan bonggol bambu dapat menghambat aliran sampai menimbulkan luapan. Penanganan yang efektif harus menggabungkan pembersihan rutin, perhatian pada material dari hulu, serta pemantauan pertumbuhan tumbuhan air—bukan menunggu warga kembali terdampak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!