Sungai sebagai ruang bersama
Revitalisasi Sungai Jawi adalah upaya mengembangkan kawasan sungai di Pontianak sebagai ruang bersama untuk rekreasi, olahraga, dan kegiatan ekonomi warga, sembari mempertahankan perannya sebagai saluran drainase. Gagasan ini tepat karena sungai di tengah permukiman padat seharusnya memberi manfaat lebih luas daripada mengalirkan air saja. Namun, keberhasilan ruang publik Pontianak di sini tidak boleh diukur dari keramaian atau tampilan kawasan semata. Ukurannya juga harus mencakup kemudahan warga beraktivitas, kebersihan lingkungan, dan tetap lancarnya aliran air. Wali Kota Edi Rusdi Kamtono mendorong pemanfaatan Sungai Jawi dengan beragam fungsi itu. Arah tersebut menarik, tetapi perlu dijalankan sebagai penataan yang berpihak pada kebutuhan sehari-hari warga, bukan sekadar agenda rekreasi yang mengabaikan tanggung jawab lingkungan.

Rekreasi yang membuka peluang usaha
Lomba sampan yang digelar di kawasan Sungai Jawi memperlihatkan bagaimana sungai dapat menjadi tempat berkumpul sekaligus lokasi aktivitas olahraga air. Gagasan lain yang disebutkan mencakup memancing dan rekreasi masyarakat. Jika aktivitas ini berkembang, peluang bagi ekonomi kreatif Pontianak dapat muncul dari keterlibatan usaha warga sekitar. Hubungan itu tidak otomatis terjadi: ruang publik yang ramai belum tentu mendatangkan manfaat ekonomi bagi penduduk terdekat. Karena itu, rencana pengembangan patut dinilai dari sejauh mana warga menjadi pelaku, bukan sekadar penonton. Rekreasi tepi sungai akan lebih bernilai bila kegiatan dan usaha lokal tumbuh berdampingan, tanpa menutup akses masyarakat untuk menggunakan kawasan. Edi menegaskan bahwa pengembangan tidak seharusnya berhenti pada rekreasi, melainkan memberi manfaat langsung bagi warga.
Menjaga fungsi drainase dan melibatkan warga
Ada batas yang tidak boleh dilupakan: Sungai Jawi tetap berperan penting dalam sistem drainase kota dan dipengaruhi pasang surut air. Maka, penataan, olahraga, dan kegiatan usaha harus berjalan dengan kebersihan serta kelancaran aliran sebagai syarat dasar. Pemkot menyatakan akan membantu meningkatkan penataan kawasan, termasuk penerangan jalan dan pemeliharaan lingkungan sungai. Komitmen itu perlu dibarengi pengawasan yang konsisten agar aktivitas publik tidak memperburuk sampah atau sedimentasi. Usulan melibatkan kelompok warga dalam pembersihan sungai merupakan langkah yang masuk akal karena mereka paling dekat dengan kondisi lingkungan sehari-hari. Dukungan pembiayaan rutin dari pemerintah, sebagaimana disampaikan wali kota, dapat membantu menjaga kegiatan tersebut berkelanjutan. Kolaborasi baru berarti jika tanggung jawab dan manfaatnya sama-sama dirasakan.
Ukuran keberhasilan bukan sekadar keramaian
Kelompok Jawi Berkah dan dukungan berbagai unsur masyarakat menjadi modal sosial bagi rencana ini. Tetapi kekompakan awal perlu diterjemahkan menjadi pengelolaan yang jelas: kawasan harus nyaman dipakai, usaha warga punya ruang, dan fungsi drainase tetap terlindungi. Ketiganya bukan tujuan yang saling bertentangan, asalkan kepentingan publik menjadi landasan dan kegiatan ekonomi tidak mengambil alih tepian sungai. Pemkot Pontianak menghadapi pilihan penting: menjadikan Sungai Jawi sekadar lokasi acara atau membangunnya sebagai ruang sehari-hari yang produktif dan terawat. Pilihan kedua menuntut pemeliharaan berkelanjutan serta keterlibatan warga dalam keputusan dan pekerjaan. Pada akhirnya, revitalisasi Sungai Jawi layak disebut berhasil bila rekreasi, olahraga, dan penghidupan lokal tumbuh bersama tanpa mengorbankan sungai yang menopang kawasan.






