Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pemulihan Trauma Bencana: Kampus, Kemenkes, dan Harapan Baru Korban Gempa

Pemulihan Trauma Bencana: Kampus, Kemenkes, dan Harapan Baru Korban Gempa
Minat|Kesehatan Mental

Pemulihan trauma bencana: dari darurat ke ketahanan psikologis

Pemulihan trauma bencana adalah rangkaian intervensi psikologis dan healing psikososial gempa yang disusun secara sistematis untuk membantu korban mengelola rasa takut, kesedihan, dan kehilangan, melalui pendampingan korban bencana yang berkelanjutan, aktivitas edukatif dan rekreatif, serta penguatan kesehatan mental pasca-gempa agar mereka mampu kembali berfungsi dalam kehidupan sehari-hari dengan rasa aman dan harapan baru. Dalam konteks gempa di NTT, definisi ini bukan konsep abstrak; ia menjelma menjadi praktik nyata di desa yang warganya masih enggan pulang ke rumah karena bayang-bayang getaran bumi belum benar-benar hilang dari ingatan mereka. Jika selama ini respon bencana identik dengan tenda, logistik, dan layanan medis dasar, kini jelas bahwa aspek psikologis tidak bisa lagi ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pilar utama pemulihan. Tanpa perhatian serius terhadap kesehatan mental pasca-gempa, seluruh infrastruktur fisik yang diperbaiki hanya akan berdiri di atas masyarakat yang rapuh secara emosional.

Undiknas dan KKN Tematik: trauma healing yang melampaui sembako

Langkah Universitas Pendidikan Nasional melalui KKN Tematik Kebencanaan di Desa Golo Sepang adalah contoh kuat bagaimana kampus menolak logika "datang-bagi-sembako-pulang" dalam pemulihan trauma bencana. Puluhan mahasiswa hadir bukan sebagai deretan relawan formal, tetapi sebagai pendamping emosional yang mengisi ulang ruang sosial anak-anak dan lansia lewat permainan, senam, dan belajar menghadapi bencana yang dibalut sesi trauma healing. Ratusan siswa sekolah dasar dan puluhan lansia disentuh oleh pendekatan holistik ini, sekaligus tetap menerima paket sembako dan obat-obatan untuk kebutuhan dasar. Salah satu pernyataan penting datang dari pimpinan kampus: program ini ditujukan "tidak hanya berfokus pada bantuan logistik, tetapi juga pemulihan psikologis masyarakat". Sikap tersebut menegaskan bahwa healing psikososial gempa bukan tambahan kosmetik, melainkan inti pengabdian. Ketika anak-anak enggan melepas kehadiran mahasiswa karena merasa lebih gembira dan kurang takut, kita melihat bukti bahwa kesehatan mental pasca-gempa bisa dipulihkan melalui relasi dan permainan yang konsisten, bukan sekadar sesi ceramah singkat.

160 tenaga kesehatan: Kemenkes memindahkan fokus ke psikososial

Di tingkat pemerintah, Kemenkes memilih arah yang patut diapresiasi: batch kedua Tenaga Cadangan Kesehatan berjumlah 160 orang dikirim ke NTT dengan mandat utama memperkuat layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat di wilayah terdampak gempa. Alih-alih mengulang pola penanganan fisik semata, penugasan ini ditata agar tenaga kesehatan mengisi puskesmas dan rumah sakit lapangan di Ruteng dan Ngada bukan hanya sebagai dokter dan perawat, tetapi juga sebagai pendamping trauma bencana. Pernyataan "pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial" menjadi penanda bahwa negara mulai belajar dari pengalaman: luka patah tulang memang memerlukan operasi, tetapi kehilangan rumah dan memori gempa tidak sembuh dengan gips. Penugasan berbasis standar WHO dengan masa tugas 14 hari per batch menunjukkan komitmen berkelanjutan, meski masih bisa diperdebatkan apakah durasi tersebut cukup untuk pendampingan korban bencana yang traumanya jelas melampaui masa tanggap darurat yang hanya sampai 12 September dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.

Mengapa pendampingan psikologis harus berkelanjutan, bukan sekali datang

Realitas di lapangan memperlihatkan paradoks pahit: ketika status darurat menurun, rasa takut warga belum ikut turun. Di Desa Golo Sepang, sebagian warga masih belum berani kembali ke rumah, meski tanggap darurat dan layanan medis berjalan. Kondisi ini menegaskan bahwa kesehatan mental pasca-gempa bergerak dengan waktu yang berbeda dari jadwal administrasi. Pendampingan psikologis berkelanjutan menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Gempa meninggalkan jejak tak kasat mata berupa kewaspadaan berlebihan, mimpi buruk, atau rasa bersalah karena selamat, yang tidak mungkin pulih dalam dua pekan patroli tenaga kesehatan. Ketika Kemenkes mengakui bahwa bencana menimbulkan persoalan psikologis akibat kehilangan harta benda dan pengalaman menghadapi bencana, sebenarnya tersirat pengakuan bahwa pemulihan trauma bencana adalah maraton, bukan sprint. Pertanyaannya: apakah pola rotasi 14 hari dan projektif KKN singkat sudah dirancang sebagai rangkaian yang saling sambung, atau masih berdiri sebagai intervensi terpisah yang berisiko meninggalkan ruang kosong di antara sesi healing psikososial gempa?

Menuju ekosistem pemulihan trauma yang terstruktur dan inklusif

Jika disusun sebagai gambaran besar, kita melihat embrio ekosistem pemulihan trauma bencana yang lebih terstruktur: universitas menghadirkan wajah muda, kreatif, dan dekat dengan komunitas; pemerintah membawa standar, tenaga medis, dan keberlanjutan rotasi. Namun ekosistem ini masih memerlukan perbaikan. Pertama, program healing psikososial gempa harus dipandang sebagai layanan dasar, setara pentingnya dengan air bersih dan obat. Kedua, pendampingan korban bencana perlu dihubungkan dalam rantai yang jelas: dari KKN tematik, layanan di puskesmas, rumah sakit lapangan, hingga komunitas lokal yang dilatih untuk menjadi agen dukungan psikologis. Ketiga, pengalaman para TCK yang juga pernah mengalami gempa menunjukkan potensi pendekatan peer support yang lebih empatik. Pada akhirnya, kesehatan mental pasca-gempa adalah cermin kesungguhan kita memulihkan martabat manusia, bukan hanya membangun kembali bangunan. Jika gempa berikutnya datang, ukuran kemajuan bukan sekadar kecepatan memasang tenda, tetapi kedewasaan sistem kita dalam merawat luka batin para korban secara panjang dan konsisten.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!