Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Trauma Perundungan di Sekolah dan Jalan Pemulihan Korban

Trauma Perundungan di Sekolah dan Jalan Pemulihan Korban
Minat|Kesehatan Mental

Trauma perundungan siswa bukan drama, tapi luka yang membekukan masa depan

Trauma perundungan siswa adalah kondisi ketika pengalaman di-bully berulang di lingkungan sekolah meninggalkan ketakutan mendalam, rasa tidak aman, dan penurunan fungsi belajar hingga membuat anak menolak kembali ke sekolah dalam waktu lama, menghindari interaksi sosial, dan kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai. Contohnya tampak jelas pada siswi kelas VIII yang hampir setahun tidak bersekolah setelah mengalami perundungan dari teman-temannya, hingga ia semakin menutup diri dan takut berinteraksi dengan orang lain setelah mendapat perlakuan tidak baik di sekolah. Di sisi lain, seorang siswa pesantren yang diduga dikeroyok selama sekitar satu jam sampai muntah darah juga digambarkan keluarganya mengalami gangguan psikologis, ketakutan, dan trauma berat setelah kejadian tersebut. Inilah wajah telanjang bullying dampak mental: bukan sekadar sakit hati sesaat, tetapi luka psikologis yang menggerogoti masa depan belajar anak.

Dari ejekan hingga pengeroyokan: bagaimana bullying merusak kesehatan mental remaja

Kasus siswi F yang lahir dengan celah langit-langit mulut menunjukkan bagaimana perundungan atas kondisi fisik menggerus rasa percaya diri sampai membuatnya minder berinteraksi dengan teman-teman. Bullying dampak mental di sini terlihat jelas: ejekan yang berulang mengubah anak yang bersekolah seperti biasa menjadi remaja yang hampir setahun enggan meninggalkan rumah dan menolak kembali ke kelas. Pada kasus lain, RBA bukan hanya mengalami luka fisik akibat diduga dipukul di wajah, kepala, rusuk, tangan, dan kaki selama sekitar satu jam, tetapi juga ketakutan berlarut hingga meminta pindah kamar karena trauma dan merasa tidak aman berada dekat para pelaku. Menurut keterangan keluarga, kondisi psikologisnya terganggu setelah kejadian, dan mereka menyebut ada korban lain di sekolah yang sampai harus mendapat penanganan psikiater karena trauma yang sangat mendalam. Ini menegaskan bahwa kesehatan mental remaja tak bisa dipisahkan dari keamanan mereka di sekolah.

Ketika sekolah abai: korban yang tersingkir, pelaku yang ringan dihukum

Cara sekolah menanggapi perundungan sering kali menentukan apakah trauma perundungan siswa sembuh atau makin parah. Dalam kasus F, keluarga sudah menyampaikan laporan ke pihak sekolah dan wali kelas; sekolah mengklaim pelaku sudah ditegur, tetapi perlakuan tidak menyenangkan tetap berlanjut. Akibatnya, F yang akhirnya berhenti sekolah hampir setahun—bukan pelaku yang dipindahkan atau diawasi ketat. Pola serupa muncul pada kasus RBA: keluarga menilai korban tidak segera mendapatkan penanganan medis maupun perlindungan memadai setelah diduga dikeroyok, bahkan tetap ditempatkan di kamar yang sama dengan siswa-siswa yang dituduh terlibat. Yang lebih menyakitkan, keluarga menyebut kejadian seperti ini berulang, tetapi pihak korban justru menjadi pihak yang "menyingkir" dari sekolah, sementara para pelaku selalu dihukum ringan dengan SP1 dan skorsing singkat. Pernyataan ini layak dikutip utuh: "Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi di sekolah tersebut. Namun, pihak korban justru menjadi pihak yang ‘menyingkir’ dari sekolah, sementara para pelaku selalu dihukum ringan". Penanganan seperti ini bukan saja tidak adil, tetapi memperpanjang trauma.

Mengapa pemulihan korban bully harus jadi prioritas utama

Ada satu prinsip yang seharusnya tidak bisa dinegosiasikan: penanganan perundungan oleh sekolah wajib diorientasikan untuk melindungi dan memulihkan korban, bukan sebaliknya. Ketika F memilih berdiam di rumah hampir setahun karena takut dan malu, ini adalah alarm keras bahwa ekosistem sekolah gagal menjamin rasa aman minimal bagi siswanya. Saat RBA yang sudah muntah darah masih diminta tetap berada di lingkungan asrama, tetap serumah dengan diduga pelaku, bahkan masih mengikuti kegiatan perlombaan meskipun sakit, sekolah sedang mengirim pesan berbahaya bahwa kesehatan mental remaja dan keamanan fisik bisa dikompromikan demi menjaga rutinitas. Ketenangan belajar mustahil tercapai jika anak hidup dalam ancaman dan rasa takut kronis. Sekolah yang memaksa korban bertahan di ruang yang sama dengan pelaku sesungguhnya memperdalam trauma perundungan siswa sambil melegitimasi kekerasan sebagai bagian "normal" dari kehidupan asrama.

Menutup luka: keberpihakan pada korban sebagai tolok ukur sekolah sehat

Dua kasus di atas memperlihatkan satu pola yang menyakitkan: korban yang menghilang dari kelas berbulan-bulan dan korban yang tetap hidup dalam ketakutan di asrama, sementara pelaku mendapatkan hukuman administratif ringan. Jika ini dibiarkan, trauma perundungan siswa akan menjelma menjadi rantai panjang putus sekolah, depresi, dan generasi muda yang tumbuh tanpa rasa aman. Sekolah yang sehat seharusnya mengukur keberhasilannya bukan hanya dari angka kelulusan, tetapi dari seberapa jauh ia melindungi murid yang paling rentan. Kesehatan mental remaja adalah tanggung jawab bersama; orang tua yang berani bersuara, sekolah yang mau berpihak pada korban, dan sistem yang tidak menyepelekan bullying dampak mental adalah prasyarat dasar. Selama korban masih dipaksa "menyingkir" demi kenyamanan institusi, kita belum layak menyebut sekolah sebagai tempat belajar—karena bagi korban, ia tetap terasa seperti medan kekerasan yang tak kunjung selesai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!