Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

MotoGP Mandalika dan Lompatan Inklusi Finansial UMKM Lokal

MotoGP Mandalika dan Lompatan Inklusi Finansial UMKM Lokal
Minat|Asia Tenggara

MotoGP Mandalika sebagai Laboratorium Inklusi Finansial UMKM

MotoGP Mandalika adalah ajang balap motor internasional yang dimanfaatkan otoritas keuangan dan perbankan untuk mendorong UMKM transaksi digital, memperluas inklusi finansial lokal, dan menghubungkan pelaku usaha kecil dengan ekosistem pembayaran modern dan lintas negara di kawasan wisata yang ekonominya tumbuh pesat. Pertamina Grand Prix of Indonesia atau MotoGP Mandalika berlangsung pada 9–11 Oktober di Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan dampak ekonomi yang diperkirakan mendekati Rp 5 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah sinyal bahwa event olahraga besar sudah menjadi arena perebutan nasabah, transaksi digital, dan data perilaku konsumen. Jika dikelola serius, momentum ini dapat mengangkat 500 UMKM yang terlibat di area sirkuit dari sekadar pedagang musiman menjadi bagian ekosistem keuangan formal jangka panjang.

MotoGP Mandalika dan Lompatan Inklusi Finansial UMKM Lokal

Strategi BI NTB: QRIS Cross Border dan Pasar UMKM Lintas Negara

Langkah paling progresif datang dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB yang menjadikan MotoGP sebagai etalase transaksi lintas negara bagi UMKM lokal. BI NTB memanfaatkan ajang ini untuk memudahkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah bertransaksi dengan wisatawan mancanegara melalui fasilitas QRIS Cross Border. Ini bukan sekadar digitalisasi kasir; ini adalah pintu masuk UMKM ke pasar global tanpa harus paham rumitnya sistem pembayaran internasional. Edukasi QRIS dan QRIS Cross Border digelar di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid serta lokasi strategis lain, lalu diperkuat dengan praktik langsung di kawasan sirkuit bersama bank umum. Data BI NTB menunjukkan 79.938 transaksi QRIS Cross Border dengan nominal Rp 26,8 miliar sepanjang Januari–Agustus, bukti bahwa wisatawan mau dan mampu bertransaksi digital dengan pelaku usaha lokal. Jika konsisten, pendekatan ini mengubah UMKM dari pemain lokal menjadi penjual yang siap melayani konsumen global.

BSI dan BRI: Layanan Perbankan Event yang Menggerakkan UMKM

Bank komersial tidak tinggal diam. BSI dan BRI membaca MotoGP sebagai mesin akuisisi nasabah dan penguatan ekosistem pembayaran, bukan sekadar ajang pasang spanduk. BSI menawarkan promo tiket MotoGP berupa diskon hingga Rp 375.000 bagi pengguna aplikasi BYOND yang membeli kategori VIP Hospitality Premiere menggunakan virtual account BSI. Di booth BSI, pembukaan rekening baru, top up BSI Emas dan Tabungan Haji, hingga cicilan tetap 36 bulan untuk pembelian vespa dengan Hasanah Card diarahkan untuk mengikat wisatawan dan pelaku usaha ke dalam ekosistem syariah mereka. Sementara itu, BRI menggelar program “Makin Seru Nonton MotoGP, Makin Banyak Untungnya Bareng BRI” dengan voucer belanja hingga Rp 200.000, cashback pembukaan rekening dan aktivasi BRImo, serta hadiah lewat transaksi finansial di aplikasi tersebut. Pengunjung dan pelaku usaha didorong memakai BRImo, kartu debit dan kredit, QRIS BRI, serta EDC selama event.

500 UMKM, Sport Tourism, dan Ekonomi Daerah yang Terkoneksi Digital

Kekuatan MotoGP ekonomi daerah terlihat jelas di Mandalika. Dampak ekonomi ajang ini diperkirakan mencapai Rp 5 triliun dengan estimasi 140 ribu penonton. Sekitar 500 UMKM berjualan di area sirkuit dan lebih dari 2.000 tenaga kerja lokal menjadi marshal dan volunteer, menjadikan event ini ekosistem kerja dan dagang yang padat. BRI secara terbuka menyebut MotoGP bukan sekadar ajang olahraga, melainkan momentum memperkuat ekosistem bisnis dari peningkatan transaksi digital, akuisisi nasabah baru, hingga perluasan layanan perbankan bagi pelaku usaha pariwisata. Aktivitas ekonomi yang tumbuh di kawasan Mandalika otomatis menaikkan kebutuhan layanan keuangan; bank yang hadir dengan solusi digital akan menempel di perilaku belanja wisatawan dan UMKM. Di titik ini, sport tourism bukan hanya soal tiket dan hotel, tetapi tentang bagaimana UMKM transaksi digital menjadi norma baru, dan inklusi finansial lokal terwujud lewat aplikasi, QRIS, dan rekening yang dibuka di tengah hiruk pikuk balapan.

Peran Bea Cukai: KEK, ATA Carnet, dan Rantai Perdagangan Internasional

Sering kali, pembahasan inklusi finansial berhenti di aplikasi dan promo bank, padahal ada fondasi logistik dan kepabeanan yang menentukan apakah event internasional seperti MotoGP bisa berjalan mulus. Bea Cukai memberikan fasilitas melalui skema Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan ATA Carnet agar barang dan perlengkapan balap dapat masuk, digunakan, dan dikirim kembali sesuai ketentuan. MotoGP membutuhkan pergerakan barang dalam jumlah besar, dari perlengkapan balap hingga kebutuhan teknis lain, yang harus tiba tepat waktu agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai jadwal. Kelancaran rantai logistik ini secara tidak langsung mendukung UMKM dan layanan perbankan event: ketika tim balap, kru, dan penonton tidak terganggu urusan barang, mereka lebih leluasa berbelanja, menginap, dan bertransaksi dengan pelaku usaha lokal. Dengan kata lain, KEK dan ATA Carnet bukan hanya urusan bea masuk, tetapi bagian dari arsitektur perdagangan internasional yang membuat ekosistem ekonomi Mandalika layak dikunjungi dan layak diintegrasikan dengan sistem keuangan global.

MotoGP Mandalika dan Lompatan Inklusi Finansial UMKM Lokal

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!