MotoGP Mandalika: Dari Ajang Balap Menjadi Laboratorium Fintech UMKM
MotoGP Mandalika adalah ajang balap motor internasional yang dimanfaatkan sebagai laboratorium hidup untuk mempercepat adopsi fintech, terutama QRIS transaksi lintas negara, di kalangan UMKM pembayaran digital yang ingin menembus pasar regional melalui kombinasi promosi produk, edukasi keuangan, dan dukungan kebijakan publik yang terintegrasi.
Kuncinya: MotoGP Mandalika bukan sekadar tontonan, tetapi momentum strategis untuk mengubah pola transaksi UMKM lokal dari tunai ke digital lintas negara. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB secara sadar memanfaatkan ajang ini untuk memudahkan UMKM lokal melakukan transaksi lintas negara dengan fasilitas QRIS Cross Border. Momentum balapan pada 9–11 Oktober dimanfaatkan untuk memperluas penggunaan pembayaran digital sekaligus membuka pasar internasional bagi produk UMKM lokal.
Pendekatan ini tegas: olahraga dijadikan pintu masuk transformasi ekonomi. Alih-alih hanya mengandalkan promosi pariwisata, penyelenggara dan otoritas moneter menjadikan MotoGP sebagai etalase sistem pembayaran modern yang langsung menyentuh pedagang kecil, dari kedai kopi hingga pengrajin.

QRIS Lintas Negara: Angka Besar, Risiko Besar Jika UMKM Tertinggal
Data transaksi menunjukkan bahwa QRIS transaksi lintas negara bukan lagi eksperimen kecil. Transaksi QRIS cross border di NTB mencapai 79.938 transaksi dengan nominal Rp26,8 miliar hingga Agustus, yang memperlihatkan aktivitas pembayaran lintas negara yang nyata di daerah ini. Angka ini adalah sinyal keras: wisatawan sudah siap, sistem sudah siap, pertanyaannya hanya apakah UMKM mau ikut atau tertinggal.
QRIS Cross Border telah terhubung dengan enam negara—Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Melalui konektivitas ini, wisatawan dari negara mitra dapat membayar di merchant QRIS Indonesia dengan aplikasi pembayaran dari negara asal mereka. Inisiatif ini diharapkan membuat transaksi wisatawan lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Secara praktis, ini mengubah logika dagang UMKM. Pedagang kopi, makanan ringan, atau kerajinan tidak lagi bergantung pada uang tunai atau kartu asing. Mereka bisa menerima pembayaran langsung dari ponsel wisatawan. Jika UMKM tidak segera mengadopsi QRIS, mereka bukan hanya kehilangan kenyamanan, tetapi kehilangan pelanggan yang mengharapkan pengalaman pembayaran modern.
Booth UMKM, Edukasi QRIS, dan Cerita Kopi yang Menembus Pasar Global
Transformasi digital ini terasa konkret di kawasan sirkuit. Melalui kehadiran booth UMKM binaan di Sirkuit Mandalika pada gelaran MotoGP 9–11 Oktober, produk unggulan daerah diperkenalkan langsung kepada pengunjung domestik dan internasional. Kopi Dersi Coffee, Ayam Merangkat, olahan kacang dan jagung, bakery, hingga kerajinan Bale Rattan hadir dengan opsi pembayaran QRIS untuk memudahkan pengunjung bertransaksi.
BI NTB tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur. Mereka mengintensifkan edukasi penggunaan QRIS, termasuk QRIS Cross Border, kepada wisatawan dan pelaku usaha di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid dan sejumlah lokasi strategis. Ini penting, karena teknologi pembayaran hanya berguna jika dipahami kedua belah pihak: penjual dan pembeli.
Dampaknya terlihat pada kisah sederhana: wisatawan Italia bernama Andreas tertarik pada kopi Lombok, mencicipi kopi Sapit, dan berencana kembali mencoba varian lain. Di balik cerita ini, ada potensi pasar global yang dibuka oleh kombinasi interaksi langsung dan kemudahan pembayaran. Seperti diingatkan pemilik Dersi Coffee, “Produk yang baik membuat pelanggan datang, tetapi hubungan yang baik membuat mereka kembali”. QRIS lintas negara adalah bagian dari hubungan itu.
Peran Bea Cukai: KEK dan ATA Carnet Sebagai Infrastruktur Tak Terlihat
Keberhasilan MotoGP Mandalika sebagai katalis fintech UMKM tidak mungkin terjadi tanpa logistik yang tertata. Di sini, fasilitas kepabeanan ATA Carnet dan skema Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi infrastruktur tak terlihat yang menentukan. Bea Cukai memberikan fasilitas kepabeanan melalui skema KEK dan ATA Carnet agar barang dan perlengkapan balap dapat masuk, digunakan, dan dikirim kembali sesuai ketentuan.
Kesuksesan penyelenggaraan ajang ini turut didukung kelancaran logistik lintas negara. MotoGP Mandalika bukan hanya ajang olahraga; ia mendukung pariwisata, menggerakkan aktivitas ekonomi, dan memperkenalkan tuan rumah kepada masyarakat dunia. Tanpa kelancaran pergerakan barang—dari perlengkapan balap hingga kebutuhan teknis—event berisiko kacau, dan dengan itu, kesempatan UMKM untuk bertemu pasar global ikut hilang.
Di titik ini, fasilitas kepabeanan bukan sekadar urusan administrasi. Ia adalah prasyarat agar event internasional bisa berlangsung tepat waktu, menarik wisatawan, dan pada akhirnya menciptakan kerumunan yang menjadi pasar bagi UMKM lokal. Logistik yang rapi adalah fondasi bagi transaksi digital yang lancar.
Dari Event ke Ekosistem: Tantangan Lanjutan Bagi UMKM dan Regulator
Pertanyaan pentingnya: apa yang terjadi setelah lampu start MotoGP padam? Made, pelaku usaha kopi, berharap kesempatan memasarkan produk dalam ajang internasional seperti MotoGP Mandalika dapat berlangsung setiap tahun agar UMKM lokal semakin dikenal dan memperoleh pelanggan baru. Harapan ini masuk akal, tetapi mengandalkan event tahunan saja terlalu sempit.
Ke depan, Bank Indonesia akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, industri sistem pembayaran, dan pelaku usaha untuk memperluas penggunaan pembayaran digital serta meningkatkan daya saing UMKM. Dengan demikian, momentum pariwisata internasional diharapkan dapat membuka peluang usaha yang lebih besar bagi masyarakat NTB. Ini artinya, MotoGP harus dibaca sebagai titik awal, bukan puncak.
Jika QRIS lintas negara dan fasilitas kepabeanan hanya hidup saat event, UMKM akan kembali ke pola lama: pasar sempit dan transaksi tunai. Tantangannya adalah menjadikan standar event—pembayaran digital, edukasi intensif, dan dukungan logistik—sebagai standar harian. Hanya dengan begitu, MotoGP Mandalika benar-benar berubah dari pesta sesaat menjadi katalis permanen bagi ekspansi pembayaran digital UMKM lintas negara.







