Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Festival Jajanan Tempo Dulu dan Pasar Kuliner Warisan yang Kembali Hidup

Festival Jajanan Tempo Dulu dan Pasar Kuliner Warisan yang Kembali Hidup
Minat|Makanan Kaki Lima

Festival Jajanan Tradisional: Nostalgia yang Sekaligus Menjadi Investasi Budaya

Festival jajanan tradisional adalah acara budaya kuliner yang menghadirkan jajanan tempo dulu dalam satu ruang publik, sehingga warga dapat bernostalgia sambil mengenal kembali resep, cerita, dan identitas kuliner warisan yang nyaris hilang dari keseharian. Dalam format yang dirancang menggugah memori kolektif, festival ini menghubungkan generasi lama dan baru melalui rasa, suasana pasar lawas, hingga permainan tradisional yang menyatu dengan pertunjukan seni. Di tengah gempuran makanan kekinian, acara semacam ini jauh lebih penting dari sekadar hiburan akhir pekan: ia menjadi pasar kuliner warisan, laboratorium sosial, sekaligus panggung ekonomi bagi para pelaku usaha kecil yang memelihara menu klasik. Bahwa semakin banyak kota menggelar acara budaya kuliner berbasis heritage menunjukkan satu hal: nostalgia bisa menjadi strategi masa depan, bukan hanya kenangan romantis tentang masa lalu.

Dugderan Kauman: Ketika MTQ Nasional Bertemu Ketan Biru dan Kue Coro

Di Aloon-Aloon Kauman dekat Masjid Agung Semarang, aroma makanan tradisional kembali memenuhi udara pada Jumat sore, 18 September 2026. Nostalgia Dugderan dan Bazaar Expo Kampung Kauman Quran sengaja digelar sebagai bagian dari rangkaian MTQ Nasional XXXI, menjadikan satu ruang perjumpaan antara tradisi, agama, kuliner, dan masyarakat. Di lapak-lapak, ketan biru, kue coro, telur petis bumbon, hingga sajian khas Semarang lain hadir bukan sekadar sebagai menu musiman, melainkan pengingat bahwa identitas kota juga lahir dari meja makan. Wali kota menegaskan harapan agar alun-alun Masjid Agung digunakan sebagai pusat budaya, bukan hanya lokasi kegiatan keagamaan. Pernyataan itu penting: begitu ruang keagamaan diakui sebagai ruang budaya, festival jajanan tradisional seperti Dugderan tidak lagi diposisikan sebagai selingan, melainkan sebagai poros yang menyatukan toleransi, sejarah, dan ekonomi warga.

Festival Jajanan Tempo Dulu dan Pasar Kuliner Warisan yang Kembali Hidup

Pasar Lawas Mataram: Dolanan Anak, Sholawat, dan Daya Tarik Suasana Tempo Dulu

Di Kotagede, Yogyakarta, Pasar Lawas Mataram kembali hadir sebagai gelaran tahunan yang dinanti para pencinta suasana tempo dahulu, berpusat di halaman Masjid Besar Mataram. Mengusung tema "Momong, Momor, Momot", acara ini memadukan jajanan antik yang kini sulit dijumpai, permainan tradisional (dolanan anak), dan panggung seni budaya. Formatnya jelas: pasar kuliner warisan dibangun sebagai ruang jumpa untuk bertukar cerita, menyicipi nostalgia rasa masa lalu, dan menyelami kehangatan tradisi Mataraman. Di sini, jajanan tempo dulu tidak diperlakukan sebagai artefak museum, melainkan bagian hidup dari komunitas yang ingin merawat nilai-nilai pengasuhan dan kebersamaan. Jadwal yang panjang hingga malam, lengkap dengan sholawat dan wayang kulit pada hari pertama, menjadikan Pasar Lawas Mataram sebagai contoh bagaimana acara budaya kuliner bisa memikat warga lokal sekaligus pelancong yang mencari pengalaman otentik, bukan hanya foto cantik.

Festival Jajanan Tempo Dulu dan Pasar Kuliner Warisan yang Kembali Hidup

Festival Jajanan Bingen: 80 Jenis Jajanan Tempo Dulu dan Ambisi Rekor

Di Palembang, semangat nostalgia mengambil bentuk lebih ambisius melalui Festival Jajanan Bingen yang digelar untuk memperingati HUT ke-39 sebuah harian umum. Panitia menargetkan sekitar 80 jenis jajanan tempo dulu, sekaligus mengajukan pemecahan Rekor MURI untuk kategori "Penyajian Jajanan Tempo Dulu dengan Jenis Terbanyak". Menurut tim promosi, angka itu lahir setelah klarifikasi dari seluruh daerah di Sumsel yang ikut menyumbang varian jajanan khas. Festival ini direncanakan melibatkan 70–80 UMKM binaan Disperindag serta tujuh TP PKK kabupaten/kota, masing-masing membawa lima jenis jajanan dari daerah mereka. Ketika pemerintah kota mengusulkan lokasi di kawasan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan menggabungkannya dengan lomba permainan tradisional, pesan yang muncul tegas: jajanan tempo dulu layak ditempatkan di jantung ruang publik bersejarah, agar kuliner warisan terlihat sebagai kebanggaan bersama, bukan dagangan pinggiran.

Dari Nostalgia ke Masa Depan: Mengapa Kita Perlu Terus Menghidupkan Pasar Kuliner Warisan

Tiga contoh acara budaya kuliner—Dugderan Mini di Kauman, Pasar Lawas Mataram, dan Festival Jajanan Bingen—menunjukkan pola yang sama: ketika kota memberi ruang terhormat bagi jajanan tempo dulu, yang hidup bukan hanya rasa, tetapi juga jaringan sosial dan peluang ekonomi. Tradisi yang dirangkai dengan festival jajanan tradisional menciptakan konteks baru bagi resep warisan agar tetap relevan, sekaligus memberi panggung bagi UMKM dan pedagang kecil yang menjaga ingatan kolektif melalui dagangan mereka. Menautkan festival dengan masjid, museum, dan agenda besar seperti MTQ XXXI menjadikan kuliner tradisional bagian sah dari narasi kota modern, bukan dekorasi folklor. Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah pasar kuliner warisan perlu dipertahankan, melainkan seberapa serius pemerintah, komunitas, dan media mau menjadikannya agenda rutin. Jika nostalgia dikelola sebagai ekosistem, kuliner warisan tidak akan mati, ia akan tumbuh bersama generasi baru yang mengenalnya sejak dari alun-alun.

Festival Jajanan Tempo Dulu dan Pasar Kuliner Warisan yang Kembali Hidup

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!