Festival kuliner mengundang warga kembali ke pasar
Festival Kuliner Salatiga adalah acara kuliner selama empat hari di Pasar Rejosari yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan masyarakat melalui sajian, hiburan, dan promosi pasar rakyat. Berlangsung pada 5–8 November 2026, edisi ke-8 ini diramaikan 75 tenant UMKM. Nilai terbesarnya bukan semata banyaknya pilihan makanan, melainkan kesempatan untuk menghidupkan kembali pasar sebagai ruang yang dikunjungi warga, bukan hanya tempat bertransaksi rutin. Wali Kota Salatiga Robby Hernawan membuka festival pada Kamis malam dan menyebutnya sebagai wadah bagi pelaku UMKM, khususnya bidang kuliner, untuk mengenalkan serta memasarkan produk mereka. Dengan membawa kegiatan ke Pasar Rejosari, festival memberi jajanan Salatiga panggung yang dekat dengan keseharian warga sekaligus alasan baru bagi pengunjung untuk datang.
75 tenant memberi festival ragam rasa
Puluhan tenant membuat festival ini lebih dari sekadar agenda makan bersama. Pengunjung dapat menjumpai beragam cita rasa yang dikenal sebagai ciri khas kota, sementara pelaku usaha memperoleh ruang untuk bertemu langsung dengan calon konsumen. Ragam tenant juga penting bagi UMKM Pasar Rejosari: produk lokal bisa dikenali lebih luas, dan pasar mendapat suasana yang berbeda dari hari biasa. Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga Agung Pitoyo mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali pasar rakyat. Kolaborasi dinas dengan Paguyuban Kuliner Salatiga mempertemukan pelaku UMKM dan konsumen, dengan penampilan seni serta budaya menambah daya tarik. Kombinasi kuliner dan hiburan terasa tepat; pasar membutuhkan alasan yang beragam agar pengunjung betah, bukan hanya deretan lapak yang dilewati.
Si Pasar Resik dan RESTART jadi langkah lanjutan
Festival ini juga menjadi momentum memperkenalkan dua inovasi untuk meningkatkan aktivitas Pasar Rejosari: Si Pasar Resik dan RESTART, singkatan dari Rejosari SMART Tematik Market. Si Pasar Resik mengintegrasikan pengelolaan pasar rakyat melalui sistem digital, promosi, dan pengembangan ekosistem pasar. RESTART diarahkan untuk merevitalisasi Pasar Rejosari menjadi pasar tematik yang terintegrasi. Keduanya memberi festival makna lebih panjang daripada keramaian empat hari: promosi kuliner dapat menarik perhatian, tetapi pasar membutuhkan pengelolaan dan identitas yang berkelanjutan agar aktivitas tetap tumbuh. Robby berharap terobosan tersebut meningkatkan perdagangan di Pasar Rejosari dan pasar lain di Salatiga. Ukuran keberhasilannya kelak bukan hanya ramainya acara, melainkan apakah warga terus punya alasan untuk kembali dan UMKM mendapat ruang untuk berkembang.
Keramaian perlu berlanjut setelah festival
Festival Kuliner ke-8 menunjukkan bagaimana sajian lokal dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan lagi pasar rakyat. Sebanyak 75 tenant, beragam jajanan Salatiga, dan hiburan seni-budaya menciptakan daya tarik yang bisa mempertemukan warga dengan pelaku usaha. Namun, dampak yang paling berarti akan terlihat jika perhatian yang terkumpul selama acara berlanjut menjadi kunjungan dan kegiatan ekonomi di Pasar Rejosari. Si Pasar Resik dan RESTART menawarkan arah untuk menjaga momentum itu melalui pengelolaan, promosi, dan pengembangan pasar tematik. Pada akhirnya, festival ini patut dinilai bukan hanya sebagai perayaan kuliner, tetapi sebagai upaya mengembalikan pasar ke dalam kehidupan kota. Jika inovasi tersebut ditindaklanjuti, Pasar Rejosari berpeluang menjadi tujuan kuliner sekaligus ruang usaha yang lebih hidup.






